
"Mama..mama..cepetan, lombanya uda mau dimulai." Vely berteriak sambil berlari ke arah Airin yang baru memasuki gerbang sekolah Vely. Sekolah yang cukup populer di kalangan menengah ke atas, St. Valentinus. Airin memang sedikit boros jika untuk kebutuhan Vely. Setidaknya warisan papa Vely harus digunakan untuk hal yang memang semestinya. Itu menurut Airin.
"Maaf sayang, mama telat. Yuk, masuk."
Hari ini adalah Parent's Day yang diadakan di sekolah. Vely dan Airin akan mengikuti lomba menyanyi untuk kategori 4-7 tahun. Mereka mengenakan baju senada berwarna putih dan pink. Sebenarnya Airin enggan mengikuti lomba yang harusnya diikuti oleh kedua orang tua murid, namun karena dia melihat Vely yang sangat suka bernyanyi, ia tidak tega untuk bilang TIDAK ke Vely.
Satu per satu peserta lomba sudah mulai beraksi.
"Kita sambut peserta nomor 8, Lovely Patricia Dewanto dan bunda Airin Putri Felicia." mata para penonton seakan-akan mencari sosok pria yang seharusnya ada di sebelah Vely.
'Peduli amatlah.' pikir Airin.
......
Hanya ini...kunyanyikan..
Senandung dari hatiku untuk mama...
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk..Mama..
......
Lagu kesukaan Vely dinyanyikan dengan sempurna oleh mereka berdua. Para penonton pun bertepuk tangan untuk penampilan mereka.
Peserta lomba terus tampil hingga dipanggilah peserta terakhir oleh MC.
"Last but not least. Inilah peserta terakhir kita, Darren Kevin Alexander dan papa Aiden Leo Alexander."
Airin mengenal nama itu dan seketika juga ia menoleh ke panggung.
'Benar Pak Aiden,kok ga ada istrinya?' Airin bingung.
......
__ADS_1
Somewhere over the rainbow..
Way up high..
There's a land that I heard of, once in a lullaby..
......
Sorakan dan tepuk tangan penonton pun bergemuruh.
'Suara Darren seperti penyanyi cilik yang sudah profesional. Pak Aiden juga lumayan.' pikir Airin sambil ikut bertepuk tangan.
Pemenang lomba pun diumumkan 20 menit kemudian. Pasangan Airin-Vely mendapat juara kedua,dan tentu saja Aiden-Darren menjadi juara pertama. Selesai pembagian hadiah dan piala, Aiden menghampiri Airin.
"Hai Rin, saya baru tahu Darren dan Vely satu sekolah. Saya jarang ke sini. By the way, suara kamu bagus juga." puji Aiden.
"Siang Pak Aiden,baru pertama ikut lomba Pak, biasa cuma bisa di kamar mandi ma mobil hahaha..."
"Halo Vely,ingat ga sama oom?" tanya Aiden ke gadis kecil cantik yang sedang memeluk pialanya.
"Ini anak om, namanya Darren. Darren ini Lovely anak temen Daddy. Salam yuk ma tante Airin dan Vely." Aiden memperkenalkan mereka. Darren menurut saja tanpa bertanya apapun.
"Kak Darren, hebat ya juara satu. Ajarin Vely nyanyi bahasa Inggris donk." seru Vely. Dan Darren hanya...diam.
"Kak Darren itu pendiam Vely, tapi dia baik kok, nanti pasti diajarin." Aiden tersenyum melihat keceriwisan Vely.
"Kita makan siang bareng yuk Rin." ajak Aiden.
"Tenang aja, ga ada kopi-kopian siang ini hahaha.." sambung Aiden diikuti tawa Airin.
Mereka sampai di restoran seafood Bukan Jimbaran dengan mobil masing-masing. Siang yang agak mendung ini membuat mereka ingin makan seafood bakar.
Di sana ada ruangan arena bermain anak. Tentu saja Vely yang tidak bisa diam itu menarik tangan Darren untuk ikut main bersamanya. Dan Darren pastinya hanya ikut saja.
Sambil menunggu makanan mereka datang, Airin dan Aiden ngobrol sambil membahas project mereka yang hanya tinggal 10 hari lagi.
__ADS_1
"Nanti saya dan Richie besok ke kantor Pak Aiden."
"Ok, sekitar jam 10 ya, karena pagi saya ada meeting." kata Aiden.
"Boleh saya bertanya yang agak pribadi?" sambung Aiden setelah tiga menit ia berpikir untuk menanyakan hal ini atau tidak. Airin kaget, ia pun mengangguk pelan.
"Saya sedikit tahu mengenai suamimu Airin. Mmh.. Mama Rianti yang cerita waktu saya ke rumah kamu kemarin."
"It's not a question Sir." Airin sedikit mengerutkan keningnya.
"Maaf, seharusnya saya tidak membahas ini. Untuk sekarang, saya hanya ingin menjadi teman kamu Rin, bukan hanya sebatas partner kerja." jawab Aiden.
"Saya sangat terhormat jika Pak Aiden mau menjadi teman saya. Really. Saya orang yang sangat suka berteman dengan siapa saja." Airin menjawab tulus.
"Let's start with this. Berhenti menggunakan bahasa yang terlalu formal, dan panggil saja aku Aiden. Tanpa Pak. Kurasa umurmu dan aku tidak beda jauh. Kamu 26 tahun kan? Aku 29 tahun." ungkap Aiden.
"Ya benar, aku 26 tahun. Pasti Pak Aiden lihat dari profil RAF ya."
"No Bapak-bapak lagi ya."
"Hahaha...oh iya. So, berhubung kita uda jadi teman, boleh donk giliran aku yang tanya. Mama Darren kok ga ikut lomba?" tanya Airin.
Satu detik..dua detik..tiga detik.. Baru Aiden akan menjawab, suara Vely terdengar mendekat.
"Ma, kak Darren tadi bantu aku dorong ayunan." kata Vely sambil ngos-ngosan gegara lari. Dan tidak bisa dipercaya, Aiden melihat senyuman di muka Darren. Hal yang sangat jarang terjadi.
Makanan mereka pun datang.
"Wah, anak-anaknya ganteng dan cantik ya. Pas sudah sepasang. Silahkan dinikmati makanannya." seorang pramusaji berkata sambil tersenyum.
Aiden dan Airin saling menatap bingung. Airin tertawa kecil. Sedangkan Aiden, menatap dalam ke mata Airin.
'Aku rasa inilah yang Darren butuhkan. Darren atau aku? Ah sama saja.' pikir Aiden.
__ADS_1