
“Ai, kita berhasil mengurangi hak kunjung Evelyn jadi sebulan sekali.” Aiden menceritakan hal bahagia itu ke Airin setelah mereka masuk kamar. Ia baru pulang menjemput Airin pulang kerja. Aiden ingin mengatakannya langsung ke Airin untuk melihat ekspresi bahagia istrinya.
“Hah? Sungguh? Tapi kok sebulan Ai? Tidak bisa lebih lama lagi?” Airin bahagia sekaligus merasa agak kecewa. Bukankah yang dilakukan Evelyn itu tindakan kejahatan?
“Pihaknya mengatakan dosis obat tidur yang ditemukan hanya sedikit, jadi mereka berdalih itu hanya untuk membantu Darren beristirahat sebentar.” Aiden menjelaskan apa yang Pak Sihombing katakan kepadanya tadi siang.
“Iya istirahat sebentar biar bisa 'main' sama kamu. Itu bibir sudah kamu cuci belum sebelum cium aku kemarin?” Airin cemberut mengingat Evelyn yang berani mencium suaminya.
“Sudah donk pakai desinfektan.” Airin tertawa mendengar jawaban Aiden. Ya, Airin memang sedikit pencemburu. Apalagi jika menyangkut Evelyn. Membayangkannya pernah memiliki Aiden dan kemarin melihat ia mencium Aiden
walaupun hanya di dalam foto membuat darahnya mendidih. Aiden pun begitu jika menyangkut Richie. Hanya saja ia tidak pernah menunjukkannya ke Airin. Entah karena Aiden cukup dewasa dalam menyikapinya atau karena ia
terlalu gengsi untuk memperlihatkannya. Tapi bukankah cemburu adalah ungkapan cinta. Seperti cinta yang tidak mengenal usia, begitu pula cemburu.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Airin ke Aiden yang sedang memijat ujung-ujung jari Airin.
“Apakah Richie memberitahumu kalau tadi dia meneleponku? Dia ingin bertemu. Aku bilang aku akan mampir sekalian mengantarmu besok pagi. Kamu tidak perlu bawa mobil, nanti pulangnya aku jemput. Jam 4 ya, jangan lama-lama selesainya.” Aiden mencium bibir Airin, lebih dari lima detik. Airin tahu kode itu. Aiden tidak pernah mencium bibirnya lebih dari itu jika tidak sedang menginginkannya. Kalau hanya untuk menunjukkan rasa sayang, Aiden lebih memilih untuk mencium keningnya. Airin menerima ciuman yang dalam itu, ia tidak akan pernah mampu menolak pesona Aiden. It’s ok to be bucin berapapun umurmu kan. Oh bucin, mengapa namamu baru dikenal sekarang padahal Romeo pun sempat mengalaminya bersama Juliet.
*****
Pagi hari di RAF. Richie menyerahkan beberapa lembar kertas ke Aiden.
“Apa ini?” Aiden mencoba meneliti isi kertas-kertas itu. Transaksi keuangan PT Indratama Wirawan. Aiden pernah mendengar nama perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut.
“Itu perusahaan papa. Ia meminta om Felix untuk mengelolanya. Temanku, Erwin bagian keuangan di sana. Ia menemukan beberapa transaksi mencurigakan di sana. Ada sejumlah uang yang dikeluarkan om Felix dan
ditransfer ke Prancis sekitar delapan bulan lalu. Nominalnya cukup besar. Kalian bilang Evelyn kembali dari Prancis sekitar tujuh bulan lalu kan.” Jelas Richie. Aiden melihat nominal yang distabilo hijau tersebut. Rp 1.564.837.225,-. Nominal yang ganjil, sepertinya jumlah itu adalah konversi mata uang Euro ke Rupiah.
“Dan kalian tahu, Hannah mendapat kabar dari sumber yang bisa dipercaya. Evelyn terlibat kasus penipuan kontrak dan ia dituntut oleh produsernya. Namun Evelyn berhasil lolos dengan jalur damai. Aku curiga itu berhubungan dengan itu.” Richie menunjuk kertas itu menggunakan matanya.
“Maaf Richie, aku sungguh tidak enak memintamu melakukan hal seperti ini. “ Aiden mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Airin pun tanpa sadar memegang tangan Richie mencoba menguatkannya, ikut meminta maaf, atau sekedar berterima kasih.
__ADS_1
‘Sabar Aiden. Itu hanya pegangan tangan antar sahabat. Tidak perlu dilihat.’ Tapi Aiden tetap menatap tajam ke arah tangan Airin hingga ia melepasnya.
“It’s ok..Sejujurnya aku juga sedikit lega Erwin menemukan ini. Bagaimanapun juga ini perusahaan papa. Dan nominal yang dirugikan lumayan besar. Aku tinggal meminta orang untuk melacak nomor rekening tujuannya. Dan
jika itu cocok dengan apa yang kita curigai…It’s over. Aku akan membongkar semuanya ke papa.” Richie berkata dengan yakin.
“Lalu apa hubungan Evelyn dan om mu, Ric?” tanya Airin penasaran.
“90 persen aku yakin itu affair. Hanya saja aku belum ada bukti. Mungkin Aiden yang bisa mendapat jawabannya.” Richie melihat ke arah Aiden. Aiden mendadak bingung. Saat ia mencoba mendapat barang bukti di apartemen
Evelyn, itu berakhir dengan kaburnya Airin. Tanpa sadar Aiden melihat Airin, mencoba meminta izin melalui telepatinya. Dan sekarang Airin yang bingung tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Aiden.
“Kamu benar-benar tidak keberatan Ai?” tanya Aiden ke Airin setelah memberi tahu rencananya ke Airin. Airin mengangguk.
“Tapi awas ya, berhenti kalau kamu sudah tidak tahan, jangan sampai kamu yang kebablasan!!” Airin
mencubit lengan Aiden sedangkan yang dicubit malah tertawa. Richie melihat mereka. Ia tersenyum. Ingin sekali otaknya melawan hatinya itu. Logika melawan perasaan. Walaupun si logika tidak menggunakan pedangnya, tapi sang perasaan akan tetap berdarah jika ia kalah.
*****
“Aku merindukanmu sayang. Aku juga tahu kalau kamu merasakan yang sama hanya saja kamu terlalu takut jika istrimu tahu kan.” kalimat pembukaan Evelyn. Aiden tersenyum terpaksa. Ia melepaskan pelukan Evelyn.
“Bukan karena Airin. Tapi aku merasa kamu yang sudah berubah. Kamu tidak mencintaiku lagi seperti dulu.” Bagus Aiden. Teruskan. Buat Evelyn tergila-gila denganmu.
“Aku masih mencintaimu sayang. Tidak pernah berubah sampai sekarang.”
“Tapi kenapa kamu mengkhianatiku? Kenapa kamu mau saja ditiduri oleh pria tua itu?” Aiden berpura-pura emosi. ‘Ayo sebut namanya!’
“Siapa maksudmu?” Evelyn terkejut dengan apa yang dikatakan Aiden.
“Pria yang sering ke apartemenmu." jawab Aiden.
__ADS_1
“Mas Felix? Kamu tahu dari mana sayang?” terlihat ketakutan di mata Evelyn. Aiden tersenyum menang di dalam hatinya.
“Itu yang membuatku tidak bisa kembali kepadamu Eva.” panggilan sayang Aiden untuk Evelyn. Membuat Evelyn yang mendengarnya langsung luluh. Ia sungguh yakin Aiden tidak pernah melupakannya.
“Maaf sayang. Aku terpaksa. Dia dulu pernah menolongku. Aku janji akan meninggalkannya. Secepatnya. Aku janji.” Evelyn menangis sambil memegang tangan Aiden.
“Mengapa kamu tidak meminta pertolonganku dulu?” Aiden terus berusaha mengorek semua kebenaran yang ditutupi Airin.
“Aku malu sayang. Aku tidak pernah muncul untukmu dan Darren, dan tiba-tiba aku datang meminta uang padamu dalam jumlah besar. Lagipula awalnya aku mengira Mas Felix membantuku tanpa pamrih, ternyata aku malah
menjadi…” Evelyn tidak bisa melanjutkan ceritanya. Sesaat Aiden merasa iba, tapi ia masih bisa berpikir jernih. Evelyn juga pasti menikmati hubungannya dengan Felix dilihat dari transaksi kartu kredit yang digunakan Evelyn untuk bersenang-senang.
“Lalu apa rencanamu sekarang? Bagaimana cara kamu meninggalkannya?” Aiden membelai wajah Evelyn. Evelyn sangat menikmatinya.
“Aku hanya perlu memberitahunya bahwa aku akan pergi. Ia juga tidak akan melarang jika aku mengancam akan memberi tahu istrinya tentangku.” Evelyn mendekati Aiden ingin menciumnya. Namun Aiden menghindar, Evelyn terkejut.
“Maaf, aku...hanya ingin kamu menyelesaikan semuanya dulu.” Aiden berdalih.
“Lalu istrimu?”
“Nanti aku akan memberitahunya setelah kamu bebas.”
“Cium aku. Aku butuh bukti.” Aiden terdiam. Mati aku. Apa bisa bagian ini dihapus? Kalau dihapus berarti aku membohongi Airin.
Tok..tok.. seseorang mengetuk jendela mobil Aiden. Tukang parkir. Aiden membuka jendelanya.
“Maaf Pak, bisa tolong dipindahkan mobilnya. Mobil belakang mau keluar.” Aiden bersyukur Tuhan mengirim pemeran figuran dalam dramanya. Ia mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dan memberikan ke tukang parkir itu.
“Duit parkir.” kata Aiden. Tukang parkir itupun hanya melongo. Aiden mengantar Evelyn kembali ke apartemennya dan berdalih bahwa ia harus segera kembali ke kantor. Aiden memutar kembali rekaman yang ia pasang di
belakang kursi Evelyn. Perfect. Semua terekam dengan sempurna. Aiden tidak sabar bertemu dengan Airin dan Richie. Ia langsung menuju ke kantor RAF.
__ADS_1
*****