
"Aiden..." Evelyn masuk ke ruangan Aiden tanpa ada ketukan pintu ataupun telepon dari Valen.
"Maaf Pak, saya..." Valen menyusul di belakang Evelyn. Aiden menyuruh Valen keluar. Ia tidak suka jika karyawannya melihat keributan di dalam kantor. Evelyn melempar sebuah kartu undangan bernuansa gold merah itu ke atas meja kerja Aiden. Aiden tentu saja tahu kartu apa itu. Yang tidak ia mengerti, mengapa Evelyn memilikinya.
"Kamu mau menikah? Dua minggu lagi?" tanya Evelyn dengan nada tingginya.
"Iya, kamu sudah kenal kan dengan Airin? Hanya saja ia tidak bisa ikut pertemuanmu dengan Darren. Takut mengganggumu dia bilang." Aiden terlihat santai.
"Aku belum siap Darren punya ibu selain aku." Evelyn duduk di kursi depan meja Aiden.
"Ibu? Kamu baru datang dua minggu lalu dan sudah berlagak jadi ibu? Aku berterima kasih kamu sudah melahirkan Darren. Tapi itu tidak cukup untuk mengobati semuanya. Luka yang kamu berikan untukku dan Darren sudah terlalu dalam." Aiden tidak akan mau lagi berdiri membelakangi Evelyn. Ia hanya duduk diam di sana. Menatap tajam Evelyn.
"Aku sudah datang sayang. Aku datang untuk mengobati luka itu. Aku janji tidak akan pergi lagi. Aku bisa meninggalkan Prancis demimu, demi anak kita." Evelyn menangis. Aiden tidak terpengaruh oleh air mata itu. Hatinya benar-benar sudah mati untuk Evelyn tiga tahun lalu.
__ADS_1
"Cukup. Aku tidak peduli akan karirmu. Kalau perlu kamu bisa pulang sana ke Prancis atau ke kutub, dan jangan pulang lagi ke sini. Darren tidak membutuhkanmu."
"Siapa bilang Darren tidak membutuhkanku?? Akan kubuat kamu sadar bahwa Darren sangat membutuhkanku. Ia tidak butuh ibu tiri. Aku tidak sudi Darren diasuh oleh ibu tiri. Mana ibu tiri yang sudah janda, punya anak pula." emosi Evelyn yang tidak terkontrol itu membuat berang Aiden.
"Heiii!! Cukup!! Jangan pernah menghina Airin! Aku tidak akan segan melaporkan perbuatanmu agar hak mu bertemu Darren berkurang menjadi sebulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Atau tidak akan pernah bertemu sekalian." ancam Aiden. Ancaman itu berhasil membuat Evelyn keluar dari sana.
'Brengsek dia! Beraninya menghina Airin.' Aiden berhasil menahan emosinya. Andai saja Evelyn bukan perempuan. Buuuk.. ia menggeberak meja. Aiden mengambil kartu undangan yang dibawa Evelyn tadi. Bapak Felix Suhendra. Aiden seperti mengenal nama itu, kolega papanya. 'Tenang Aiden, jangan merusak harimu hanya karena dia.'Aiden menghela napasnya mencoba untuk tenang.
*****
Malam terakhir sebelum hari pernikahan. Airin, mama Rianti, dan Vely menginap di hotel tempat acara akan digelar.
"Ma, Airin sudah memberi tahu mama Shinta, ia juga setuju kalau mama nanti ikut tinggal sama Airin di rumahnya. Mau ya Ma.." pinta Airin. Vely sudah tertidur di tengah tempat tidur mereka.
__ADS_1
"Makasih kamu sudah pikirin mama. Tapi Om Teddy sudah menyiapkan kamar untuk mama di Bandung. Nanti kalau mama ke sini, mama pasti nginap di rumah kamu. Mama janji. Terus rumah kamu yang sekarang mau disewain?" tanya Rianti.
"Belum Ma, nanti saja. Masih banyak barang kita juga. Ma, makasih ya atas semua dukungan mama. Airin ga mungkin kuat tanpa mama." Airin memeluk mamanya.
"Mama yang terima kasih Rin..Masih sempat melihat kamu bahagia dengan Vely." mama Rianti menangis bahagia. Airin pun ikut menangis.
"Sudah, jangan nangis. Masak mata pengantin sembab besok??" lanjutnya. Mereka pun tertidur, berharap kebahagiaan besok bukanlah mimpi.
*****
__ADS_1