Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 20


__ADS_3

"Sudah tenang Ai?" tanya Aiden. Mereka masih duduk di kursi yang sama, namun ditambah dua kelapa muda yang mereka pesan dari warung dekat sana.


"Lumayan.. Tapi yang tadi baru pembukaan Ai, masih ada yang mau aku ceritain." Airin tersenyum.


"Cerita deh." Aiden memegang tangan Airin, mencoba menyalurkan ketenangan dari sana.


"Richie." kata Airin.


'Tuh kan bener lagi. Something wrong with him.' Aiden menarik napas dalam.


"Kami sudah kenal lama sejak SMA, dia cinta pertama aku, atau cinta monyet hahahaha...entahlah..pokoknya kami dulu saling suka. Tapi kami tidak pernah jadian, karena dia harus kuliah ke Amrik. Dua minggu lalu dia akhirnya nembak aku...." Airin menceritakan semuanya ke Aiden, termasuk tentang Hannah yang suka dengan Richie dan Airin yang membantunya. Airin takut Aiden akan salah paham jika ia tidak menceritakan semuanya.


Aiden paham dengan situasi ini. Airin memintanya untuk tidak membahas hal ini dengan Richie.

__ADS_1


"Ok.. aku jadi mengerti dengan situasi yang aneh tadi." Aiden tertawa kecil.


"Sori Ai, bukan aku jahat, tapi aku merasa sangat senang kau memilihku. Aku bisa melihat Richie pria yang baik. Namun mungkin memang ia ditakdirkan menjadi temanmu, dan aku...mudah-mudahan jadi cinta matimu." ucap Aiden lembut.


"Sssht..Jangan sebut kata mati di antara kita. Biarkan aku dan kamu hanya menjadi kita untuk selamanya."


Tiba-tiba hujan deras turun, mereka pun berlari secepatnya ke dalam mobil.


"Ai, pakai ini." Aiden mengambil jaket di kursi belakang mobilnya. Dilihatnya rambut Airin yang basah. Aiden mengambil tissue dan mengusap rambut dan wajah Airin. Aiden menelan salivanya. Bagaimanapun ia adalah pria normal dewasa. Tapi ia sudah cukup dewasa untuk menahan semua itu. Hanya saja, cukup sakit kepala untuk menahannya. Tanpa sadar ia memijit keningnya.


"I think I love you Airin." Aiden berkata serius.


"Beri aku waktu satu minggu untuk mengatakan hal yang sama Aiden."

__ADS_1


"Kenapa satu minggu?" Aiden terdengar kecewa.


"I like you.. Aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu, bukan sebagai teman, namun sebagai pasangan hidupku. Beri aku satu minggu untuk membuat rasa suka itu menjadi cinta. You must try harder you know." Airin tertawa.


"Whatever u wish Airin. Satu minggu akan kubuat kau mencintaiku, tapi tidak akan sebesar cintaku, karena seminggu lagi cintaku sudah lebih besar 100 kali lipat."


"Hahahah... Bilangnya ga gombal, taunya selangit gombalnya." Airin tertawa.


"Kan sudah aku bilang, bukan gombal. Hanya mengatakan yang ada di otakku saja Ai." Aiden mengelak.


Mereka pulang dengan suasana hati yang jauh lebih baik. Tapi Airin masih menyimpan satu permasalahan lagi yang belum sempat ia utarakan. Nanti sajalah. Jawaban minggu depan akan bergantung pada ini, pikirnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2