Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 11


__ADS_3

"Rin, kamu napa?" Vina masuk ke kamar Airin, setelah Airin melempar kunci ke bawah lewat jendela.


"Jatuh kemarin, sori ya ngerepotin. Mama lagi ke rumah Om Ivan." ujar Airin dari tempat tidurnya.


"Ngerepotin palak lo..Makanya cari laki, jadi ada yang urus. Vely mana?"


"Ke sekolah dianter Richie, tadi dia mampir setelah aku minta izin ga datang ke kantor. Mana hari ini harusnya ke X Group pula."


"Kerja aja yang kamu pikirin, sini aku liat kakimu, gini gini kan aku calon dokter dulu." Vina mulai memeriksa kaki Airin.


"Daripada jadi calon mulu, mending juga jadi mantan dokter hahaaha..." ejek Airin, Vina menekan pergelangan kaki Airin.


"Auuuww..Pelan-pelan donk Vin, masih inget ga ilmu kedokteran lo, sembarangan pencet aja."


"Ga ada yang patah Rin, istirahat aja olesin salep. Trus kamu naik kesini gimana kemarin? Ngesot?" tanya Vina.


Airin menceritakan tentang dia yang sedang bertelepon dengan Aiden, hingga akhirnya Aiden datang dan menolongnya.


"Gila lo Rin, laki orang kan itu. Kok bisa seh dia main langsung kesini? Kok ga minta Richie?" Vina sungguh sangat berharap kedua sahabatnya itu bisa bersatu.


"Lah, kan lagi telepon ma Aiden, bukan Richie."

__ADS_1


Sejam kemudian terdengar bunyi ketukan pintu rumah Airin. Vina turun membukakan pintu. Rupanya Richie datang membawa sarapan untuk Airin yang dia beli setelah mengantar Vely ke sekolah.


"Hai Vin, baru datang?" sapa Richie.


"Ga juga, napa? Kecewa ya ada gw disini? Hahahah.." canda Vina.


"Kok tahu?" jawab Richie diikuti tepukan keras Vina di punggungnya.


Richie lalu ke kamar Airin, sedangkan Vina menyiapkan sarapan yang dibeli Richie.


"Kok balik lagi ke sini Ric? Kan nanti kamu mau ke X Group." ujar Airin bingung.


Vina datang membawa baki berisi bubur ayam.


"Tambah ganteng aja lo Ric, sayang aku uda nikah ya. Kalau aku masih lajang, aku duluan yang nembak lo Ric hahahaha...." canda Vina. Pagi ini memang Richie terlihat tampan. Dengan tinggi 185 cm, kemeja slim fit berwarna navy itu sangat cocok di kulit putihnya, namun tidak pucat. Potongan rambut yang rapi ditata dengan wax, gaya anak muda sekarang. Sungguh office look.


"Sori Vin, untuk sekarang gw tolak dulu ya.." Richie melirik ke arah Airin. Airin jadi salah tingkah. Sedang Vina hanya bisa berdeham deham tidak jelas.


Tok..tok..tok.. Mereka bertiga terdiam.


"Ada yang pesen makanan?" tanya Vina dan hanya dijawab dengan gelengan.

__ADS_1


Vina turun membuka pintu. Dan tampaklah pria ganteng kedua pagi ini. Vina menebak pria ini sama tingginya dengan Richie, namun tidak seputih Richie. Dan pria ini, memakai jas. Fix bukan tukang antar makanan.


"Cari siapa ya?" tanya Vina.


"Kamu Vina ya teman Airin?" pria itu balik bertanya.


"Iya, kamu?" Vina bingung.


"Saya Aiden, teman Airin." Aiden mengulurkan tangannya dan disambut oleh Vina.


Vina mempersilahkan Aiden untuk duduk di sofa. Lalu dia ke atas.


"Rin, Aiden di bawah tuh..Gila, ngapain dia datang? Hot daddy banget." oceh Vina. Richie bingung dari mana Aiden tahu kalau Airin sakit. Airin menjelaskan dengan singkat, dan raut kesal sangat terlihat di wajah Richie.


"Suruh naik aja deh Vin, bisa meeting sekalian di sini." kata Airin.


"Huuft.. Kamu suruh aku kesini buat nemenin kamu, sekarang malah sekampung yang kesini. Aku suruh dia naik, abis tuh aku di bawah aja ya biar kalian bisa meeting."


Vina turun memberi tahu Aiden bahwa di atas ada Richie, dan dia diminta Airin untuk ke atas. Aiden sedikit terkejut mendengar ada Richie di atas. Namun, dia berusaha stay cool.


Mereka berdiskusi sekitar sejam. Tidak ada yang spesial karena mereka bertiga saling menjaga jarak.

__ADS_1


__ADS_2