Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 43


__ADS_3

Hari Senin, Aiden mengantar Airin ke RAF. Ia sekalian ingin bertanya sedikit mengenai pamannya Richie.


“Airin!! Kamu sudah membuatku khawatir. “ Richie terkejut melihat Airin berdiri di pintu ruangannya. Ia langsung bergegas menyambut Airin dengan pelukan.


“Eheem..!” Aiden berpura-pura batuk untuk menunjukkan kehadirannya di sana. Ia tidak cemburu. Sungguh. Aiden mulai merasakan bahwa Richie benar-benar menganggap Airin sahabat semenjak ia sangat membantu Aiden untuk


menemukan Airin.


“Hai Aiden.. Kamu datang juga? Sudah tidak gila lagi kan hahaha…” mereka tertawa. Aiden menyampaikan maksud kedatangannya. Mereka bertiga duduk dan berdiskusi serius. Aiden menunjukkan bukti-bukti yang ia miliki. Mulai dari foto kartu kredit di tas Evelyn, rekap transaksi kartu kredit tersebut, hingga


biodata pemilik kartu. Richie memeriksa dengan seksama. Ia tidak mau salah mengambil tindakan. Apalagi ini menyangkut nama baik keluarganya.


“Sepertinya kamu benar. Dia om ku, alamatnya sama persis. Lalu apa hubungannya dia dengan Evelyn?” tanya Richie ke Aiden.


“Itu yang aku belum tahu. Orang suruhanku juga sedang mencari informasi lagi. Hanya saja aku merasa kamu harus tahu jika aku sedang mengawasi om mu. Bagaimanapun juga kamu sahabat Airin. Aku tidak mau nanti


kalian ada salah paham. Dan jika kamu berkenan, aku ingin minta tolong. Jika ada informasi mengenai  om mu yang sedikit mencurigakan dan berhubungan dengan Evelyn, tolong beri tahu aku atau Airin. Aku mohon.” Aiden mencoba memilih kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung Richie.


“Aku mengerti Aiden. Aku pasti akan membantu dan mengabari kalian jika ada kabar.” ucap Richie. ‘Apapun untuk kebahagiaan Airin.’ Ia melirik sekilas ke Airin.


“Makasih Ric, you are the best.” Airin tersenyum kepadanya. Senyum yang selalu dirindukan Richie.


*****

__ADS_1


Desy menunggu Richie pulang kerja di ruang tamunya. Banyak yang ingin ia tanyakan ke anaknya itu. Akhirnya Richie pulang setelah dua jam ia menunggu.


“Richie, kamu ngapain di rumah sakit sama Airin? Dia masih ngerayu kamu suruh kamu datang ngurusin dia? Dia kan baru menikah.” Richie terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Kejadian itu pun sudah berlalu satu minggu lebih.


“Mama tahu dari mana?” tanyanya bingung.


“Kamu jawab saja pertanyaan mama. Kalau dia masih gangguin kamu terus, mama bakal suruh papa untuk tutup RAF. Jangan-jangan RAF itu cuma modus dia buat dekatin kamu terus. Sudah nikah kok masih gatal ya?!” Desy


meninggikan suaranya.


“Ma, pertama..yang punya ide mendirikan RAF itu Richie, bukan Airin. Kedua, mama dan papa tidak punya hak untuk menutup RAF karena itu murni uang Richie dan Airin, ga ada ikut campur papa. Dan yang terakhir, Airin


tidak pernah merayu Richie. Richie yang mencintainya, Ma. Dan Richie yang ditolak.” Richie pun ikut terpancing emosi.


“Mama..mama tahu saja. Ada kenalan mama yang melihat kalian di sana. Pokoknya Richie, mama mohooon sama kamu. Lupakan Airin. Dia sudah menikah. Kamu juga sudah saatnya menikah. Wanita seperti Hannah sangat cocok untukmu.” Itu lagi…Hal yang sudah sering Richie dengar dari mamanya.


Richie berpikir keras di kamarnya. Siapa yang memberi tahu mamanya tentang Airin di rumah sakit. Ia hanya sebentar ke sana dan….bertemu Evelyn. Apa mungkin dia? Cuma itu kemungkinan yang terpikir oleh Richie. Kalau


itu benar dari Evelyn, apakah ia kenal dengan mamanya? Ataukah melalui Om Felix? Richie berpikir untuk mencari tahu jawabannya.


Mengenai Hannah. Hubungan mereka cukup lancar, mereka sudah mengenal orang tua masing-masing. Hannah


pernah mengutarakan ke Richie jika ia ingin menikah di usia muda. Richie tahu maksudnya. Namun ia tidak bisa menanggapinya. Richie hanya merasa perjuangannya melupakan Airin sia-sia. Ia tidak tahu apakah perasaannya sudah berkurang atau belum. Andai saja ada alat pengukur perasaan, pasti ia akan berusaha mati-matian menurunkannya. Richie sudah mengurangi jadwalnya ke RAF agar ia tidak sering bertemu Airin. Tapi sekali ketemu? Perasaan untuk terus melindungi dan membahagiakan wanita itu selalu ada, selalu sama, atau bahkan lebih. Richie berusaha untuk mengontrol dirinya, tidak memperlihatkan semua itu ke Airin. Tidak ada yang dapat mengerti sakitnya perasaan Richie melihat Airin dan Aiden bersama. Namun sakit dan bahagia itu datang bergandengan seolah mereka adalah sahabat, ketika Richie melihat senyuman di wajah Airin dan yang berada di sisinya adalah Aiden, bukan dia. Ya, sebesar itulah cinta Richie yang hanya ditakdirkan menjadi sahabat Airin. Richie tidak tega membohongi Hannah dengan pernikahan, itu sama saja ia juga membohongi dirinya sendiri. Richie belum siap untuk menikah sekarang, ia hanya berharap Hannah mau menunggunya. Menunggu hingga setidaknya Hannah bisa mendapatkan 51% hatinya. Richie mengambil ponselnya. Menghapus satu per satu foto Airin di sana. Jarinya berhenti di foto terakhir. Foto Airin, Vely, dan dirinya yang diambil saat pembukaan RAF. Tidak. Ia tidak sanggup menghapus foto itu. Richie akan membiarkan kenangan itu tetap hidup. Setidaknya untuk sementara. Berharap itu tidak bertahan selamanya.

__ADS_1


*****


“Ai, aku punya sesuatu.” ucap Aiden. Ia menunjukkan secarik kertas. Airin meletakkan ponselnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya.


“Apa ini?” Airin membaca kertas itu.


“Hasil tes darah Darren.” Jawab Aiden.


“Darren sakit? Kok aku ga tahu sampai tes darah segala?” Airin terdengar panik. Ia berharap Aiden memberikan jawaban tanpa ia harus membacanya.


“Darren tidak sakit, Ai.  Darahnya diperiksa ketika kamu pergi kemarin.” Airin diam menunggu Aiden melanjutkan penjelasannya.


“Ada yang belum aku ceritakan semuanya. Kamu ingat kan kejadian di apartemen Evelyn? Darren tertidur dan aku membawanya pulang. Saat itu aku merasa aneh. Darren jarang tidur siang, dan waktu itu ia tertidur lelap tiga jam. Saat dia bangun, dia mengeluh pahit di lidahnya. Aku curiga ada yang tidak beres. Dan ini hasilnya. Hasil tes darah Darren. Ditemukan zat yang mengandung obat tidur dalam darah Darren. “ Airin menganga, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia ingin berteriak, ingin marah. Tapi untuk apa? Toh di sana tidak ada wanita sakit itu. Airin hanya merasa kasihan dengan Darren. Demi obsesi Evelyn kepada Aiden, Darren menjadi korban. Walaupun bukan anak kandungnya, namun Airin sangat menyayanginya. Darren anak yang pintar, baik, dan manis. Sikapnya sangat


dewasa di umur enam tahunnya. Tanpa sadar, air mata Airin pun menetes.


“Aku.. tidak tahu lagi Ai harus berkata apa. Dia sangat kelewatan. Darren adalah alasan pertama dia kembali. Lalu apa yang ia lakukan? Ia hanya sibuk mencari cara untuk menggodamu. Kalau dia secintanya itu denganmu, kenapa dulu dia pergi. Kasihan Darren, mungkin di hati kecilnya dia bahagia maminya datang. Jangan sampai Darren tahu apa yang dilakukan maminya, Ai. Jangan pernah memberitahunya tentang masalah ini.”  suara Airin bergetar. Aiden menggenggamnya, mencoba menenangkannya.


“Iya, kamu yang tenang ya. Saat hasil tes ini keluar tadi siang, aku langsung menghubungi Pak Sihombing. Besok dia akan mengurus semuanya. Membawa hasil tes ini menjadi bukti. Aku yakin hak kunjungnya akan dicabut. Minimal akan dikurangi, selama mungkin.” Airin sedikit lega mendengarnya. Sungguh mengerikan jika membayangkan Darren harus menemui wanita itu lagi.


“Dan satu lagi, Ai. Ini bukti yang aku janjikan kepadamu, bahwa aku dijebak Evelyn di apartemennya.”  Aiden menatap Airin. Tatapan penuh kemenangan. Sekarang giliran Airin yang merasa bodoh. Ia malu. Sangat malu. Harusnya ia hanya perlu mempercayai suaminya. Bukan malah membuat Evelyn merasa menang. Airin memeluk Aiden. Meminta maaf dalam hatinya.


“Jangan pernah meragukan aku lagi Ai, dan aku juga tidak akan pernah meragukan kamu.”  ucap Aiden. Malam yang berakhir hanya dengan pelukan yang saling menghangatkan satu sama lain.  Untuk pertama kalinya, mereka berdua bisa tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Ucapan “I love you” pun menjadi penutup percakapan mereka malam itu. Simple words tetapi memiliki arti yang hanya dimengerti oleh orang yang mengucapkannya, bukan orang yang mendengarnya. Itulah mengapa ungkapan cinta lebih berarti jika diucapkan bersama.

__ADS_1


*****


__ADS_2