Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 29


__ADS_3

"Richie, aku ikut Aiden ya. Makasih tawarannya. See you tomorrow...Btw, hasil meeting tadi sudah aku email ya." Airin pamit, masuk ke mobil Aiden.


"Kaki kamu kenapa Ai? Jatuh dari tangga lagi?" Aiden menebak. Dia bersyukur datang di saat yang tepat. Pesannya tidak ada yang dibalas Airin. Ia percaya dengan Airin, namun tidak dengan Richie. Aiden masih melihat ada perasaan suka atau cinta di mata Richie untuk Airin. Dan Richie bukanlah pria yang bisa diremehkan. High quality guy.


"Jatuh dikit. Ga sakit kok, beneran." jawab Airin, tidak membantah, tidak juga mengiyakan.


"Pokoknya kalau besok pagi masih sakit, kasih tau ya, kita ke dokter. Jangan kayak kemarin, sampai bengkak masih ga mau ke dokter. Sudah makan?" tanya Aiden lagi.


"Belum Ai, ga sempet. Pengen cepat tutup kantor aja tadi."


"Dari makan sushi dua potong tadi siang belum makan lagi?" tanya Aiden terkejut. Tanpa menunggu jawaban Airin, Aiden memarkirkan mobilnya dekat penjual sate pinggir jalan. Ia memesan sate ayam, tanpa kulit, tanpa jeroan. Aiden memang menjaga pola makannya, didikan mama Shinta dari kecil. Mereka makan di dalam mobil, Aiden tidak mau membiarkan Airin banyak berjalan dulu.


"Jadi apa perlu kita membahas yang tadi siang Ai? Aku tidak mau masalah ini berlarut." Aiden berbicara sambil menyantap sate ayam miliknya.

__ADS_1


"Boleh." Airin jawab sambil mengunyah, ia tampak kelaparan.


Aiden menceritakan semuanya. Mulai dari Evelyn memilih ke Prancis di saat umur Darren baru umur 7 bulan, atau 6 bulan, Aiden tidak bisa mengingat pasti. Perjanjiannya dengan Evelyn saat Darren berumur satu tahun bahwa Evelyn memiliki waktu hingga Darren berumur tiga tahun jika ia masih ingin kembali. Dan Evelyn yang baru kembali sekarang. Sebenarnya sebagian sudah pernah ia ceritakan ke Airin, namun itu sebelum mereka sedekat sekarang. Tentu saja Aiden merasa sekarang ia tidak boleh merahasiakan apapun ke Airin.


"Jadi kamu bercerai saat Darren umur tiga tahunan?" Airin mendengar dengan seksama. Makan malamnya sudah habis namun mereka belum beranjak dari sana.


"Resminya begitu. Tapi media mengeksposnya saat Darren berumur satu tahun. Dan tadi aku sudah menghubungi Pak Sihombing, pengacara keluarga kami. Ia bilang Evelyn memang masih memiliki hak untuk menemui Darren walaupun hak asuh ada di aku. Aku...hanya bingung bagaimana menceritakan semua ini dengan Darren. Dia masih terlalu kecil untuk memahaminya."


"Pernah sekali atau dua kali seingatku. Aku hanya bilang mamanya pergi dan tidak akan pernah kembali. Dan Darren tidak pernah menanyakan hal itu lagi padaku. Kamu tahu kan betapa pendiamnya dia." jelas Aiden.


"Mungkin dia pendiam karena tidak pernah mengenal mamanya, sedangkan kamu juga sibuk. Walaupun ada oma opanya, namun itu beda Ai. Itulah kenapa anak lebih butuh ibu daripada ayah." kalimat Airin membuat Aiden terdiam. Ia memalingkan wajahnya dari ke Airin ke jendela di sampingnya.


"Maaf, bukan itu maksudku. Tentu saja kasusmu ini berbeda, Ai. Evelyn yang pergi kan." Airin mencoba menarik-narik tangan Aiden. Aiden yang tidak bergeming, terkejut dengan ciuman di pipinya.

__ADS_1


"Jangan pernah ucapkan itu lagi Ai, Darren sekarang punya kamu. Aku tahu kamu akan menjadi ibu yang baik untuk Darren dan Vely. Aku mohon bantuan kamu Ai, tolong cintai Darren, aku sangat ingin ia ceria seperti anak-anak di usianya." Aiden berkata serius, terdengar lirih sambil mengenggam tangan Airin.


"Tanpa kamu minta pun pasti akan aku lakukan. Di saat aku menerimamu, aku pun sudah menerima Darren sebagai anakku. Aku merasa Darren dan Vely yang akan menjadi kekuatan hubungan kita, tujuan hidup kita, karena.. aku juga tidak bisa memberikanmu apa-apa lagi."  anak maksud Airin. Dan Aiden menyadari itu. Ia menarik Airin ke pelukannya.


"Aku ingin menikahimu bukan karena ingin keturunan lagi. Stop berpikir tentang itu. Aku benar-benar sudah merasa lebih dari cukup dengan apa yang Tuhan berikan, Darren, kamu, dan Vely."


"Ok..ok..cukup dramanya. Pulang yuk." ajak Airin. Ia tersenyum mengelus pipi Aiden yang tampak kusam malam ini. Cuup..senyuman kilat di bibir dari Airin yang bisa membuat Aiden langsung tersenyum sumringah. Setidaknya malam ini mereka bisa tidur nyenyak tanpa masalah yang menggantung.


******


 


 

__ADS_1


__ADS_2