
Airin baru terbangun keesokan paginya. Ia melihat suaminya yang sedang tertidur di sofa dua meter dari tempat tidurnya. Airin butuh waktu beberapa menit untuk menyadari ia sedang berada di rumah sakit. Ia berteriak kesakitan ketika ingin mengambil gelas di meja sampingnya,Airin tidak sadar dengan adanya jarum infus di tangan kanannya. Aiden terbangun, dengan cepat ia membantu Airin yang ingin minum karena kehausan.
"Dari kapan aku di sini Ai?" tanya Airin yang masih merasakan sakit di kepalanya tapi sudah sedikit berkurang.
"Dari aku mengambilkanmu obat, saat itu kamu ga sadar-sadar. Aku panik lah Ai. Aku sangat merasa kalau aku bukan suami yang becus. Kamu sampai sakit begini gara-gara aku." mata Aiden berkaca-kaca. Airin pun menyesali emosinya yang kemarin.
"Maaf Ai..mungkin aku kemarin sedang sangat lelah, ditambah kejadian.." suara Airin terasa tercekat saat ia ingin menyebut nama Evelyn. Ia tahu ia tidak boleh membenci ibu kandung Darren. Tapi jujur, Airin sangat mengharapkan Evelyn tidak pernah muncul di dalam keluarganya.
"Sudah Ai, jangan bahas itu dulu, nanti kepalamu sakit lagi. Istirahat saja dulu...dan anak-anak mama yang urus." Aiden tahu Airin pasti menanyakan anak-anak di rumah. Airin mengangguk.
"Kamu ga pulang dulu Ai? Pulanglah istirahat. Wajahmu kayak lebih sakit dari aku." Airin membelai muka Aiden yang tampak lelah.
"Aku tidak sakit dan tidak boleh sakit. Aku harus kuat untuk melindungimu dan anak-anak kita. Tidurlah lagi." Aiden mencium kening istrinya yang masih tampak pucat itu. Sejam kemudian ia pulang ke rumah untuk mandi, mengambil pakaian Airin dan laptop untuknya bekerja sambil menjaga Airin.
Richie datang ke rumah sakit setelah ia menelepon Airin yang tidak biasanya telat ke kantor tanpa mengabarinya.
"Harusnya kamu bilang Rin kalau kemarin kamu sakit. Pantas saja kamu banyak diam kemarin." Richie menyesal ia tidak menyadari kondisi Airin yang tampak berbeda kemarin. Ia sempat mengira itu karena ada masalah dengan mantan istri suaminya. Airin diam, dia tidak mungkin memberi tahu Richie tentang masalah yang disebabkan oleh Evelyn kemarin. Apalagi Airin tahu Richie sangat menyayangi Vely.
"Jangan ada lagi ya kejadian seperti ini. Aku tidak bisa menjaga RAF kalau tidak ada kamu Rin, kamu tahu kan arti RAF untukku." Airin mengangguk. Richie memegang kening Airin untuk melihat apakah Airin masih demam. Lalu ia mengusap kepala sahabatnya itu.
"Well..well.. Siapa pria tampan ini? Pacar baru? Atau pacar lama?" Evelyn masuk dengan kaca mata hitam yang baru saja dilepasnya. Richie dan Airin menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka itu.
__ADS_1
'Kenapa dia ada di mana-mana sih? Dan dia selalu datang tepat waktu. Andai saja aku tidak berbaring seperti sekarang pasti sudah kujambak rambutnya.' Airin marah dalam hatinya. Namun ia masih belum cukup bertenaga untuk melampiaskannya.
"Maaf, saya Richie, teman Airin. Anda.." Richie berdiri.
"Evelyn. Mantan istri Aiden." Evelyn mengeluarkan tangannya ingin menyalami Richie. Ia menatap Richie seperti akan memakannya. Akhirnya Richie pun bertemu Evelyn, wanita yang sudah menganggu pernikahan sahabatnya.
'Apa dia keponakan Mas Felix? Gila..Airin mana cocoklah sama dia.' Evelyn akan menanyakannya nanti dengan Felix. Ia menyukai semua berita buruk tentang Airin.
"Kamu mau apa kesini?" ucap Airin lemah.
"Aku datang buat jenguk kamu lah. Nih aku bawain kamu buah. Ga taunya aku gangguin kamu pacaran waktu Aiden ga ada. Aiden tahu ga dia dimadu? Hahaha.." Evelyn tertawa keras.
"Maaf sepertinya Anda salah paham. Kami sahabat. Tolong jaga ucapan Anda. Jangan membuat fitnah di sini. Jika Anda bermaksud untuk mengganggu Airin, silahkan Anda pergi saja." Richie maju memberikan pembelaannya, ia tidak mau Airin mengeluarkan tenaga untuk mengusir wanita ini.
"You see her?" tanya Airin emosi.
"Sabar Rin, fokus sembuh saja dulu. Kok dia bisa tahu kamu dirawat? Sering teleponan dengan Aiden ya?" Richie merasa dia pernah melihat Evelyn di suatu tempat. Atau karena dia penyanyi seperti cerita Airin. Entahlah, Richie tidak bisa mengingatnya.
Ting..Bunyi chat di hp Aiden berbunyi. Dari Evelyn. Foto Richie sedang memegang kepala Airin. 'Mereka pacaran saat kamu tidak ada.' Bunyi pesan di bawahnya.
Aiden tidak terpancing dengan permainan Evelyn, ia percaya dengan Airin. 'Ya, aku harus percaya Airin. Juga Richie. Aaahh..Kenapa harus pria seperti Richie yang menjadi sahabatmu? Kenapa tidak seperti Chris yang tidak menyukai perempuan?!' Aiden bingung dari mana Evelyn bisa tahu Airin di sana. Padahal cuma dia dan orang tuanya yang tahu tentang itu. Anak-anak diberi tahu bahwa mama mereka sedang bekerja keluar kota. Aiden bergegas kembali ke rumah sakit. Jarak rumahnya tidak jauh dari sana. Semalam ia hanya mencari yang terdekat karena panik melihat Airin pingsan.
__ADS_1
Aiden tidak menemukan Richie di kamar Airin dan dia tidak berencana untuk menanyakan hal itu. Kesehatan Airin yang utama baginya. Airin boleh pulang keesokan harinya. Richie masih menyuruhnya untuk istirahat di rumah. Pintu kantor tertutup untuk Airin, ancam Richie. Aiden sangat menghargai keputusan Richie itu, jika tidak Airin seperti sudah siap terbang kemana-mana.
Sekarang Aiden hanya harus fokus dengan Evelyn. Aiden merasa ada yang janggal dengan keputusan Evelyn kembali ke Indonesia. Apakah untuknya? Atau Darren? Dulu Evelyn memilih untuk mengejar karirnya di Prancis, sekarang ia bahkan tidak berencana menyanyi lagi. Aiden mengetik nama "Evelyn Princessa" di mesin pencari. Hanya muncul beberapa lagu Evelyn, tanpa gosip. Aiden bingung apa yang harus dilakukannya. Orang kirimannya hanya memberi tahu ada kemungkinan Evelyn menerima kunjungan seorang pria. Tapi ia tidak bisa mencari tahu siapa pria itu karena sistem keamanan yang ketat di apartemen itu. Aiden memutar otaknya. Ia ingin mencari tahu lebih banyak tentang Evelyn, hanya saja Aiden belum tahu bagaimana caranya.
*****
"Aku sedang bersama Darren sekarang." Evelyn menelepon Aiden.
"Kok bisa? Bukannya Pak Tarno kesana menjemput anak-anak?" Aiden terkejut sekaligus marah.
"Pak Tarno pulang sama Vely. Darren kan ada aku Mommy nya. Jangan kaget gitu sayang. Aku ga mungkin menyakiti anak kita." ucap Evelyn.
"Darren di mana sekarang?"
"Apartemenku. Kamu kesini saja kalau mau jemput Darren." Evelyn menjawab dengan santai.
"Kasih aku alamatnya sekarang." Aiden curiga Evelyn merencanakan sesuatu. Ia akan berhati-hati kali ini. Aiden sepertinya juga memiliki suatu rencana dengan kunjungannya ke apartemen Evelyn. Ia mencocokkan alamat yang diberi Evelyn dengan yang dikirim oleh orang suruhannya. Benar. Itu salah satu dari dua apartemen milik Evelyn. Aiden agak ragu sebenarnya untuk menyusul kesana. Namun ia memantapkan dirinya, ini demi menyingkirkan Evelyn. Itupun kalau dia menemukan sesuatu. Aiden bukan takut dengan Evelyn secara fisik, tapi ia tahu liciknya wanita itu.
Dan di sinilah Aiden sekarang. Apartemen Taman Indah Mansion. Evelyn sudah memberinya kode untuk masuk dari pintu bawah. Sebenarnya Aiden sudah menyuruh Evelyn untuk mengantar Darren turun. Tapi bukan Evelyn namanya kalau tidak ada alasan untuk tetap memaksa Aiden naik, alasannya adalah Darren sedang tidur. Aiden naik ke lantai 12, tempat apartemen Evelyn berada.
Ting..tong.. Aiden membunyikan bel. Evelyn membuka pintu itu sambil mengenakan baju tidur satin tipis, memeluk leher Aiden dan mencium bibirnya. Menarik Aiden masuk ke dalam. Semua terjadi begitu cepat. Aiden yang tidak menyangka akan hal itu mendorong Evelyn jatuh ke sofanya.
__ADS_1
"****!! Kamu benar-benar sakit!!" Aiden berteriak sambil mengelap bibirnya yang sudah dinodai Evelyn.
"Kok kamu gitu sih sayang? Jangan teriak donk, nanti Darren bangun. Inget ga dulu kamu suka beliin aku gaun tidur begini? Aku sengaja beli ini untuk kamu. Darren bakal tidur dua jam, kita punya cukup waktu untuk melepas rindu kita. Aku sangat merindukanmu sayang." Evelyn duduk dengan posisi yang menggoda. Aiden tidak tergoda, ia hanya mencoba mengingat-ingat lagi rencana yang ia susun tadi. Sebelum masuk ke kamar ini.