Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 10: Perkebunan: Hidupku Yang baru


__ADS_3

Perjalanan dari kota menuju perkebunan cukup jauh, memakan waktu kurang lebih 7 sampai 8 jam perjalanan.


Bahkan bisa sampai 12 jam perjalanan kalau menggunakan jasa mobil travel cerita Mas Ali.


Sepanjang perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan.


Paling sesekali saling berbagi pendapat atau ketika aku bertanya tentang perkebunan pada Mas Ali.


Kurasa Mas Ali memang tipe lelaki yang tidak banyak bicara.


Dia cool tapi cukup perhatian dan peduli. Sangat berkharismatik.


Beda denganku yang cukup cerewet dan tidak bisa diam.


Setelah capek mengoceh dan sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang di putar Mas Ali dalam mobil akupun tertidur.


Aku bangun ketika Mas Ali membunyikan klakson mobilnya untuk mengusir kawanan kambing yang menghalangi jalan mobil.


"Kita sudah sampai Mas?" tanyaku.


"hmm" jawab Mas Ali seadanya.


Mas Ali menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah panggung yang cukup besar dan sangat bagus.


Didepan rumah itu berdiri 3 orang yang menyambut kami turun dari mobil.


" Selamat datang Tuan " sapa lelaki separuh baya kepada mas Ali.


Lalu bergegas menurunkan koper kami dari mobil.


Mas Ali memperkenalkan aku dengan bik Sumi dan anaknya yang perempuan bernama Yuli.


Sementara yang membawa koper kami tadi itu adalah suami bik Sumi bernama Pak Asep.


merekalah yang menjaga dan mengurus mas Ali di perkebunan ini.


Yuli sendiri sudah dianggap seperti adik oleh Mas Ali.


Rumah mereka tepat berada di sebelah rumah ini.


Rumah yang mulai hari ini kutempati atas nama istri dari Mas Ali.

__ADS_1


"Bismillah.." bisikku dalam hati sambil melangkah masuk kedalam rumah.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Bike Sumi, Pak Asep Dan Yuli berpamitan pulang.


"Kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan untuk memanggil bibik ya non" ujar bik Sumi padaku.


"Makasih bik " jawabku padanya.


Mas Ali kemudian mengantarku menuju kamar.


"Kamu beberes dulu ya, aku mau keperkebunan sebentar" ujarnya sambil meninggalkan Aku sendirian dirumah ini.


Aku Masuk kedalam kamar.


Duduk di tepi ranjang yang terbuat dari jati dengan ukiran bunga yang sangat rapi.


Kuperhatikan sekeliling kamar yang cukup luas ini.


Tepat didepanku ada sebuah lemari lebar yang juga terbuat dari jati.


Dan disebelahnya terdapat meja rias cantik yang tentunya terbuat dari jati juga.


Aku berdiri menuju jendela kamar yg tertutup tirai.


Aku tertidur setelah lelah merapikan pakaian kedalam lemari dan terbangun setelah mendengar ketukan pintu.


Aku buru-buru keluar dan membuka pintu. Mas Ali masuk langsung menuju kamar dan mandi.


Setelah makan malam kami menonton TV sebentar kemudian tidur.


Pagi sekali ku dengar suara dari arah dapur. Aku bangun dan beranjak keluar kamar.


Ada bik sumi rupanya sedang membuatkan sarapan.


"Pagi bik.."sapaku.


"Pagi non" jawabnya pelan.


"Non mau sarapan apa? biar bibik buatkan. Disini penjual sarapan gakda non. Jadi mesti buat sendiri." kata nya pula.


"Saya makan yang bibik masak aja. Mas Ali biasanya sarapan apa Bik? "tanyaku balik.

__ADS_1


"Tuan biasanya kalau pagi paling suka makan nasi goreng kampung Non, terus kasih telur ceplok diatasnya. Dan minumnya kopi gingseng" jawab bibik.


Aku mengangguk tanda mengerti.


Lalu kembali kekamar umtuk mandi.


Selesai memoles wajahku dengan sedikit make up, kupakai jilbab sarung seadanya untuk menutupi rambutku.


Mas Ali keluar dari kamar mandi. "dirumah gak perlu pakai jilbab. Gakda orang lain kok. cuma bik sumi aja. Paling yuli sesekali main kesini. Kalo Pak Asep tidak pernah masuk rumah kalo gak saya panggil. Karna kerjanya di lapangan mengurus petani yang memanen sayuran. " katanya.


Akupun menurut dan kembali membuka jilbabku kemudian merapikan rambut dan keluar membantu bik sumi menyiapkan


sarapan.


"Non cantik sekali" kata bik Sumi memujiku.


"Makasih bik? emang kalo pakai jilbab gk cantik? " godaku.


"Cantik juga non. Tapi lebih cantik dan kelihatan muda kalo rambutnya di gerai dan di jepit seperti ini". kata bibik lagi memuji.


Aku tersenyum.


"Tuan dan Non memang pasangan yang serasi. Yang satu ganteng dan yang satu cantik" ka ta bik Sumi lagi memuji.


Selesai sarapan Mas Ali pamit padaku untuk berangkat ke Perkebunan.


Aku mengantarnya menuju pintu.


Dilihatnya wajahku.


Lalu disodorkan tangan nya.


Kusambut dan ku cium telapak tangan nya.


Tiba-tiba dia mendekat dan mencium keningku.


Aku terkejut dengan perlakuan nya.


Jantungku berdetak sangat kencang.


" Mas berangkat dulu" katanya sambil berlalu meninggalkan Aku yang mematung sendiri. a

__ADS_1


Aku tersenyum bahagia.



__ADS_2