Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 11: Making Love


__ADS_3

Aku membantu bik Sumi memasak makan siang sambil mengobrol banyak hal tentang perkebunan yang Mas Ali kelola.


Juga tentang kedekatan keluarga bik Sumi dengan keluarga Mas Ali.


Ternyata bik Sumi dan keluarga nya juga tau tentang Aku yang menjadi pengantin pengganti Adik ku yang kabur saat akan melaksanakan Akad nikah dengan Mas Ali.


Tapi menurut pandangan bik Sumi, Mas Ali sudah mulai menyukai ku dan bahkan telah jatuh cinta padaku.


"Buktinya dia sangat perhatian dan perduli pad Non".kata bik Sumi mengutarakan pendapatnya.


Mas Ali pulang dan langsung menuju dapur tempatku dan bik Sumi bercerita.


"Masak apa bik? " tanyanya pada bik sumi.


"Eh tuan sudah pulang. Bentar saya siapkan makanan di meja makan ya tuan" jawab bik sumi pula.


Aku membantu bik Sumi menyiapkan semuanya di meja makan.


"Ada gulai ayam, sambal ikan tenggiri dan sayur asem serta kerupuk udang kesukaan Mas Ali" kata bik sumi.


Selesai makan Mas Ali memanggil bik Sumi.


"Bik nanti malam ba'da isya ada acara penyambutan di aula, bibik tolong telepon Asni suruh kemari abis magrib ya. " katanya pada bik Sumi.


"Penyambutan apa? " tanyaku penasaran.


"Penyambutan untuk kamu, ada pesta kecil- kecilan diadakan sama para karyawan, katanya biar bisa kenal dengan dirimu" ujar Mas Ali padaku.


"Nanti malam, Asni, bik Sumi dan Yuli akan membatu mu berhias. Baju untuk mu juga sudah ada di dalam lemari bagian atas. Nanti saya ambilkan" kata mas Ali lagi.


Akupun mengangguk.


Selesai Shalat magrib Mas Ali mengeluarkan bingkisan besar dan menyerahkan nya padaku.


Kubuka dan kulihat isi didalamnya.


Gaun panjang yang indah berwarna pink.


"Aku yakin gaun ini sebenanya adalah hadiah pernikahan dari Mas Ali untuk Aisyah. Bukanlah untuk ku dan semestinya malam ini adalah penyambutan untuk Aisyah. Bukanlah untuk ku" kataku dalam hati.


Seketika hatiku terasa sangat sakit.


Selesai dirias oleh mbak Asni dan di bantu Yuli, Aku keluar menuju ruang tengah menyusul Mas Ali yang sedang berbincang dengan Pak Asep.


Pak Asep memuji kecantikanku mengenakan gaun pink dengan jilbab hitam dan riasan yang natural.


Aku tersipu malu, kulihat Mas Ali menatapku sesaat tanpa berkedip.

__ADS_1


Kami sampai di Aula Perkebunan yang cukup besar.


Karyawan yang datangpun sudah ramai. Temanya malam ini adalah pesta kebun yang sangat indah.


Banyak sekali makanan dan buah buahan yang segar di sajikan.


Tidak ada pelaminan khusus untuk kami bersanding.


Hanya ada kursi-kursi untuk tamu jika ingin makan sambil duduk.


Aku duduk di meja paling depan sambil bercengkrama denga mbak Asni yang ternyata adalah istri dari Mas jalal teman dekatnya Mas Ali.


Mas Ali sendiri sibuk bercengkrama dengan yang lain.


Sesekali memanggilku dan mengenalkan ku pada beberap kolega nya yang hadir pada perjamuan malam ini.


Sampai dirumah tepat jam 11 malam, setelah mengganti baju, Mas Ali pamit untuk kembali ke Aula sebentar untuk melihat karyawan yang membereskan sisa-sisa acara jamuan tadi.


Terdengar dari kamar suara motornya yang melaju menjauhi rumah.


Jam 12.30 aku terbangun mendengar suara HP ku berdering, Mas Ali rupanya.


Dia memintaku untuk membuka pintu rumah karna dia lupa membawa kunci rumah.


Diluar hujan lebat rupanya.


Mas Ali masuk ke kamar dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


Kuberikan teh hangat padanya yang duduk di tepi ranjang sambil mengibas rambutnya yang basah.


Diminumnya seteguk demi seteguk teh hangat yang aku buatkan.


Sesekali dia bersin karna kedinginan setelah kehujajan.


Kulihat jam di dinding pukul 01.00wib.


Dia berbaring di tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Aku gelisah melihatnya,


"apa dia sakit?" tanyaku dalam hati.


Kubalikkan tubuhku menghadap nya.


Dia belum tidur.


Dia menatapku dalam tanpa suara.

__ADS_1


Akupun begitu.


Lama kami saling bertatapan dalam lampu tidur yang remang.


Aku begitu gugup.


Dia mendekatkan wajahnya padaku.


Perlahan dikecupnya keningku.


Lama.


Aku cuma bisa menutup mataku.


Ciuman itu lalu pindah pada kedua mataku. Turun pada bagian hidungku yang bangir dan terus menuju bagian bibirku yang kecil.


Aku sontak membuka mataku ketika Mas Ali berusaha Membuka kancing piyamku.


"Mas... " kataku pelan.


"Aku ingin kamu jadi istriku seutuh nya malam ini.. " katanya pula dengan lembut sembari kembali meraup bibirku.


Aku tidak bisa berbuat apapun.


Cuma diam dan membiarkan Mas Ali membuang bajuku keatas kelantai.


Ciuman nya turun menuju leherku yang jenjang.


Digigitnya dan hisapnya pelan membuatku mengerang geli.


Terus turun pada bagian atas dadaku sebelah kiri sementara kedua tangan nya membuka bra ku perlahan.


"Aaahhh.. maasss" erangku lagi menikmati ciuman nya pada setiap bagian-bagian di tubuhku.


Aku semakin tidak bisa mengontrol perasaanku ketika Mas Ali bermain di selangkanganku.


Aku benar-benar basah dan pasrah.


Setelah puas menciumi tiap bagian ditubuhku, diapun mengarahkan kekuatan nya padaku dengan sekali hentakan.


Aku menjerit, kaget karena perih yang teramat sangat.


Dia diam sejenak.


Lalu kembali menggerakkan tubuhnya pelan-pelan dan Aku mulai menikmatinya.


Hujan diluar makin deras, seakan mengerti dengan apa yang terjadi malam ini.

__ADS_1


"Mas... Aaahhh... aahhh.. "kataku lagi mengerang.



__ADS_2