Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 12: Istri Seutuhnya


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku ketika bibir Mas Ali menempel pada telinga kananku.


"Bangunlah, bersihkan tubuhmu lalu kita shalat subuh berjemaah" bisiknya.


Kubuka mataku perlahan, kulihat dirinya sudah rapih dengan baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak.


Aku tersenyum memandangnya yang begitu mempesona.


Lalu bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Selangkanganku terasa perih sekali.


"Akan ku cuci dengan air hangat agar perihnya hilang" kataku dalam hati.


Selesai shalat berjamaah, kusalami tangan Mas Ali dengan mencium punggung tangan kanan nya.


Dia membalas dengan mencium keningku lembut.


"Masih sakit ya? " tanyanya padaku.


"Sedikit" jawabku malu.


Dia tersenyum dan mengajakku kembali berbaring di tempat tidur.


Dia memandangku lalu mencium keningku lagi, sedangkan aku sendiri membenamkan wajahku di dadanya menahan malu melihat bercak darah pada sprei berwarna biru dengan motif bunga lily.


Dia mengangkat daguku pelan dan kembali mencium bibirku dengan ganas.


Kami kembali berpangutan.


Saling meraba dan kembali menikmati surga dunia bersama pagi ini.


"masss... aaaahh.. aaahh... "desahku tidak tertahan.


Mas Ali berbaring lemas di sampingku sambil memeluk tubuhku yang mungil.


Kami berpelukan didalam selimut tanpa sehelai benangpun.


Kulihat dia tertidur pulas dengan tenang.


Aku bangkit dari tidurku menuju kamar mandi.


"Pagi bik Sumi " sapaku sembari melihat bik sumi yang sedang mengaduk kuah opor pada panci yang ada diatas kompor.


"Pagi juga Non" sapa nya balik padaku.


Kubantu bik Sumi menyajikan sarapan pagi di atas meja


Aku masuk kedalam kamar dan duduk di tepi ranjang tepat di samping Mas Ali tidur. Kuberanikan diriku membelai rambutnya yang cepak dan sedikit ikal.

__ADS_1


Dia terbangun melihatku duduk disisi kepalanya.


Dia tersenyum.


sangat menawan.


Direbahkannya kepalanya di pangkuanku dan memeluk pinggangku dengan erat.


"Aku sangat suka dengan aroma tubuhmu, wangi sekali" katanya sambil membenamkan wajahnya di dadaku.


Akupun tersenyum.


Dia bangun dari tidurnya lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi.


"Mas geli aahhh.. "kataku pelan.


Dia tidak perduli, kemudian menurunkan kerah baju ku kebawah lalu menggigit dan menghisap bagian atas dada sebelah kananku.


Dia kembali meninggalkan tanda merah seperti gigitan drakula disana.


Setelah puas diapun beranjak ke kamar mandi.


Selesai sarapan aku mengantarnya menuju pintu rumah.


Mas Ali mencium keningku dan kusalami dengan mencium punggung tangan nya.


Aku mengangguk tanda memberikan izin dia untuk pergi bekerja.


Dia memelukku lagi.


Akupun membalas pelukannya dengan mesra.


Seketika dia berbisik pelan tapi jelas di telingaku


"Sayang... I Love U" katanya sembari kembali mengecup pelan bibirku.


Jantungku kembali berdetak sangat cepat. aku tersenyum menatapnya.


"I Love U too Mas" jawabku pelan dan malu-malu.


Kami saling melempar senyum bahagia.


"Oh iya, besok kan sabtu, kamu mau ikut Mas berkeliling melihat perkebunan? "tanya nya padaku.


Dengan cepat aku mengangguk.


Pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk berangkat keliling perkebunan.


Sudah tidak sabar rasanya.

__ADS_1


Soalnya sudah hampir 3 minggu aku di Perkebunan ini hanya duduk di dalam rumah dan belum pernah berkeliling perkebunan.


"Kamu cantik sekali sayang", katanya.


aku tersipu bahagia.


"Makasih Mas" jawabku.


Kuserahkan kunci motor padanya.


"Pakai motor? " tanya nya padaku.


Aku kembali mengangguk.


"Kalau pakai mobil rasanya tidak leluasa untuk melihat pemandangan" jawabku padanya dengan manja.


"Baiklah cantik" jawabnya sambil menggandeng tanganku menuruni anak tangga menuju garasi di bawah rumah.


Sepanjang perjalanan dia seperti tour guide bagi ku.


Semua dijelaskan olehnya.


Mulai dari perkebunan sayur sampai perkebunan cabe dan perkebunan kopi yang dia kelola.


Aku cuma bisa takjub melihat pemandangan yang luar biasa ini.


Lalu dia membawaku melalui jalan setapak yang cukup sepi dan menanjak, tepat di atas bukit yang cukup tinggi ada pohon besar dan rindang yang dibawahnya terdapat pondok kecil mungil.


Dia mengajakku masuk kedalam pondok yang ternyata didalamnya ada anak tangga yang menempel pada pohon besar dan rindang ini.


Perlahan kami memanjat naik keatas pohon dan duduk di atas susunan papan yang di pasang pada ranting pohon yang besar.


"Masyaallah.. cantik sekali perkebunan dilihat dari sini Mas" kataku padanya.


Dia mengangguk.


"ini adalah tempatku sering bermenung. Dan yang tau tempat ini cuma Jalal dan Pak Asep karena mereka yang membuat pondok ini." ujar Mas Ali.


"Aku bahagia sekali Mas.. terimakasih untuk hari ini ya" kataku padanya.


Dia mengangguk.


Kutarik kerah baju kaosnya mendekat ke wajahku, kukecup dengan cepat bibirnya lalu membalikkan tubuhku dengan malu.


Tapi Mas Ali kembali membalikkan tubuhku kearahnya dan kemudian menyandarkan kepalaku pada batang pohon dan membalas ciumanku dengan penuh gairah dan kembali memberikan banyak tanda merah pada bagian dada dan leherku yang tertutup jilbab.


"Aku sangat bahagia hari ini" kataku dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2