Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Penyakit mematikan


__ADS_3

Saat Gavin hendak menggendong tubuh istrinya, mata Queen terbuka dengan pelan. Wanita itu menatap sang suami dengan pandangan lemah.


"Mas" panggil Queen


Gavin menundukkan kepalanya "Sabar sayang, kita akan segera kerumah sakit"


"Tidak usah kerumah sakit mas, aku gak papa"


"Tapi hidung kamu berdarah"


"Bawa saja aku ke kamar mas, aku perlu istirahat"


"Baiklah"


Gavin akhirnya pasrah, ia membawa istrinya kedalam kamar yang dulu Queen tempati di ikuti oleh Nara. Sementara Harun mendengus kesal karena pesta yang ia buat jadi berantakan gara-gara Queen.


Harun kembali ke pesta walau perasaanya begitu dongkol, setidaknya ia harus tetap melanjutkan pesta walau Nara sibuk mengurus Queen.


*


Di dalam kamar Nara melihat bagaimana Gavin dengan telaten mengurus sang istri, terlihat sekali kalau pria itu begitu mengkhawatirkan keadaan Queen.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Queen, aku harus mencari tau sendiri" batin Nara.


Bukan baru kali ini ia melihat saudara kembarnya itu mimisan, waktu itu saat di Mall pun Queen juga mengalami hal yang sama. Membuat Nara berpikiran untuk melakukan pemeriksaan terhadap Queen dengan cara sembunyi.


"Bagaimana ? apa kamu benar-benar tidak mau ke rumah sakit Queen ?" tanya Nara setelah adik nya itu berganti pakaian


"Tidak Ra, aku baik-baik saja"


"Tapi ini sudah kedua kalinya aku melihatmu mimisan"


Queen terdiam, sementara Gavin menatap istrinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Ia takut terjadi sesuatu pada Queen.


"Aku hanya kecapekan. Dengan istirahat sebentar aku akan segera pulih, jadi jangan khawatir Ra !" ujar Queen berusaha setenang mungkin padahal pikirannya saat ini sedang di landa ketakutan yang teramat besar.


"Sebaiknya kamu turun Ra !, Papa sedang membuat pesta besar untukmu, jangan buat Papa tambah membenciku karena kamu sibuk mengurus aku" ucap Queen lagi, kali ini matanya berkaca-kaca.


"Tapi aku ingin disini menjaga kamu Queen !"


"Ada mas Gavin, kamu tenang saja"


"Betul kata Queen, lagian tidak enak dengan tamu jika kamu menghilang Ra" sahut Gavin kemudian, ia sebenarnya masih kesal dengan sikap Harun tadi, rasanya ia ingin menghabisi pria itu.

__ADS_1


"Ok baiklah !, semoga kamu cepat sehat Queen, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu"


Queen tersenyum mendengar ucapan Nara, ia menatap kepergian Nara yang meninggalkan kamarnya dengan Gavin


"Sayang kamu beneran gak papa ?" tanya Gavin


"Iya mas, sudah jangan khawatir"


Gavin menarik napas panjang, ia memang sangat berharap Queen baik-baik saja walau pikirannya saat ini di penuhi pikiran negatif. Gavin benar-benar takut istrinya itu kenapa-napa.


"Kalau ada yang sakit bilang sama aku !" ucap Gavin memperingatkan


"Baik mas"


*


Sementara itu di lantai bawah, Nara mengatakan pada sang Papa kalau pestanya minta di bubarkan. Ia tidak ingin menikmati pesta ini sendiri sementara Queen sedang terbaring sakit di dalam kamar.


Mendengar ucapan Nara, membuat Harun kesal. Ia menyeret Nara untuk masuk di ruang kerjanya.


"Kamu apa-apaan sih, Papa udah buat pesta besar-besaran untuk kamu, tapi kamu minta di bubarkan" kesal Harun sembari menatap putrinya.


"Pa Queen sedang sakit, ini bukan pertama kalinya aku melihat Queen mimisan. Aku takut terjadi apa-apa sama dia"


"Dia bukan wanita sampah Pa, dia anak papa juga, adik aku satu-satunya" suara Nara mulai bergetar, menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.


"Kamu ingat Ra, dia yang sudah membuat Papa kehilangan Mama kamu"


"Bukan salah Queen Pa, dia juga tidak mau kehilangan Mama, ini sudah takdir"..


"Nara stop !" bentak Harun yang semakin kesal karena Nara terus membela Queen.


"Aku gak akan berhenti sampai Papa berubah, Papa harus sayang sama Queen"


"Itu tidak akan terjadi Nara, bahkan sampai anak itu matipun Papa akan tetap membencinya"


Nara menggeleng, kini air matanya sudah menetes membasahi pipinya.


"Suatu hari nanti Papa akan menyesal"


Usai mengatakan itu Nara keluar meninggalkan Harun sendiri, ia menuju pesta dan membuat pengumuman kalau pesta di bubarkan. Otomatis para tamu satu persatu pergi meninggalkan rumah Harun.


*

__ADS_1


2 hari kemudian....


Karena penasaran dengan kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini sering mimisan, Queen memberanikan diri untuk memeriksakan tubuhnya kerumah sakit. Tentunya, tanpa sepengetahuan sang suami, ia tidak ingin Gavin khawatir kalau memang dirinya sakit.


Dengan menggunakan masker kesehatan Queen duduk mengantri dengan beberapa orang. Di depan pintu yang akan ia masuki tertulis nama Dokter Vanya yang akan memeriksa dirinya.


Detak jantung Queen begitu kencang, kedua telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin. Hingga tak berapa lama namanya pun di panggil. Queen berdiri dari duduknya lalu memasuki ruangan dokter Vanya.


"Silahkan duduk !, ada keluhan apa ?" tanya dokter Vanya dengan ramah


"Begini dok, akhir-akhir ini saya sering mimisan. Setelah itu tubuh saya akan merasakan lemas"


Dokter Vanya mendengarkan penjelasan Queen. "Ya sudah mari saya periksa dulu"


Queen menurut, ia berbaring di atas brankar supaya dokter Vanya bisa memeriksa kondisi tubuhnya. Queen masih sangat berharap ia baik-baik saja, dan mimisan yang ia alami selama ini hanya karena dirinya kelelahan.


Dokter Vanya melakukan pemeriksaan dengan teliti, sesekali kening wanita itu mengkerut dalam saat mendapatkan hasil pemeriksaan.


"Bagaimana dok ?, saya baik-baik saja kan ?" tanya Queen setelah dokter Vanya menyelesaikan pemeriksaanya.


"Saya ambil sampel darahnya dulu, biar hasilnya lebih akurat. Nanti kita tunggu hasilnya keluar"


"Apa hasilnya bisa keluar hari ini dok ."


"Bisa, kamu tunggu saja di depan, nanti kalau sudah keluar saya panggil lagi" balas dokter Vanya sambil mengambil sampel darah milik Queen.


Setelah selesai Queen kembali keluar untuk menunggu hasil laboratorium keluar. Sejak tadi ponselnya berdering tapi Queen terus mengabaikan karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada hasil pemeriksaan..


Butuh waktu kurang lebih 1 jam Queen menunggu hasil pemeriksaannya, sampai akhirnya ia kembali di panggil oleh dokter Vanya.


Queen kembali duduk di hadapan dokter Vanya, di tangan dokter itu ada kertas yang masih terbalut rapih oleh amplop.


"Saya buka ya" ucap dokter Vanya dan di balas anggukan oleh Queen ..


Setelah kertas itu di keluarkan dari amplop, dokter Vanya membaca hasilnya. Ia menarik napas panjang karena hasil pemeriksaanya tadi tidak salah.


"Sebelumnya kamu benar-benar belum pernah memeriksakan kondisi kamu ?" tanya dokter Vanya menatap Queen.


"Belum dok, memangnya aku sakit apa ?"..


"Menurut hasil pemeriksaan dan hasil lab, kamu menderita leukimia stadium akut. Seharusnya sekarang kamu harus di rawat lebih lanjut"


"Leukimia dok " tanya Queen terbata-bata, yang di iringi air mata yang mengalir dengan deras

__ADS_1


__ADS_2