Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Pamit ( End )


__ADS_3

Di sebuah kamar kecil, Gavin duduk di atas brankar. Kedua tangannya mendekap bingkai foto sang istri yang ia letakkan di dada. Sementara tatapan pria itu kosong kedepan, raut kesedihan begitu kentara di wajahnya...


Sementara di luar ruangan, Mama Medina menatap sendu putra semata wayangnya. Hari ini ia terpaksa membawa putranya ke pusat rehabilitas. Mama Medina ingin Gavin sembuh dan bisa seperti dulu lagi.


Mama Medina begitu paham bagaimana terluka nya Gavin karena kehilangan Queen, namun ia berharap Gavin bisa menyikapi sewajarnya dan menerima apa yang sudah tuhan takdirkan.


"Kira-kira berapa lama anak saya di rawat seperti ini dok ?" Tanya Mama Medina.


"Saya belum bisa memastikan Bu, tergantung Gavin sendiri" jawab dokter yang bernama Angkasa itu.


"Gavin seperti ini karena belum bisa menerima kepergian istrinya, rasa cinta yang terlalu besarlah yang membuatnya seperti ini" sambung dokter Angkasa lagi.


"Tolong sembuhkan anak saya dok ! Saya akan membayar berapapun asal anak saya bisa seperti dulu lagi" pinta Mama Medina


"Saya akan berusaha Bu"


Tidak berapa lama mama Medina dan Dokter Angkasa di buat terkejut. Di dalam ruangan sana terlihat Gavin berteriak memanggil nama Gavin, dan bukan hanya itu, Gavin juga tertawa seolah ia sedang melihat sosok Queen.


Namun beberapa detik kemudian keadaan Gavin berubah lagi, hingga kali ini membuat Mama Medina menerobos masuk ruangan. Bagaimana tidak, bingkai foto yang tadi Gavin pegang jatuh dan kacanya berserakan di lantai. Gavin mengambil pecahan kaca itu, hendak melukai dirinya sendiri.


"Aku ikut sayang, tunggu aku !" Ucap Gavin.


"Hentikan nak ! Ini akan melukai kamu" Mama Medina langsung merebut pecahan kaca itu dari tangan Gavin.


"Balikin Ma, tadi Queen datang dan dia ingin Gavin ikut"


Mama Medina menggelengkan kepalanya "tidak nak, Queen tidak datang, dia gak bakal datang jika kamu seperti ini terus"


"Aaaaaahhhhhh" Gavin kembali berteriak, cairan bening itu begitu deras membasahi pipi pria itu. Saat ini keadaan Gavin sangat berbeda dengan dulu.


Tidak ada lagi sosok Gavin yang dingin dan tegas, karena yang tersisa hanyalah, Gavin dengan sejuta luka dan kenangan pahit.


"Sebentar lagi Gavin akan tertidur, saya sudah menyuntikkan obat penenang" ujar Dokter Angkasa.

__ADS_1


Benar saja, tidak berapa lama Gavin terdiam dengan mata terpejam. Dengan pelan Mama Medina membaringkan kepala putranya.


"Sembuh nak, demi Mama" bisik Mama Medina di telinga Gavin


"Setelah ini saya terpaksa akan mengikat tangan dan kaki Gavin bu, ini untuk menghindari kejadian seperti tadi"


"Tidak apa-apa dok, asal anak saya sembuh"


*


*


*


1 tahun kemudian....


Langka kaki tegap milik Gavin memasuki area pemakaman, dua bulan yang lalu ia sudah keluar dari rumah sakit, dan sekarang Gavin mulai terbiasa menata hidupnya lagi. Walau kepingan rasa sakit itu tetap tinggal di hatinya.


Dan yang membuat Gavin terkejut, di atas gundukan tanah itu terdapat bunga mawar putih yang masih segar. Sepertinya baru tadi pagi di letakkan. Gavin pun mulai berpikir siapa yang mengurus makam ini.


Tidak mungkin itu Nara, karena sebelum ke makam tadi Gavin menyempatkan diri untuk singgah ke rumah Harun. Rumah besar itu menjadi terbengkalai dan menurut tetangga tidak ada satu orang pun yang masuk kerumah itu.


"Pak" panggil Gavin saat melihat penjaga makam yang hendak lewat.


"Iya Mas, ada apa ?"


"Mau nanya, siapa yang merawat makam istriku ? Dan siapa yang meletakkan bunga mawar putih ini ?"


"Saya tidak tahu namanya mas, tapi dia cowok, setiap pagi dia kesini dan bawa bunga mawar putih"


"Setiap hari Pak ?"


"Iya mas, betul. Tadi pagi dia kesini lagi"

__ADS_1


Gavin terdiam sejenak, ia belum bisa menebak siapa yang sudah melakukan itu. Bukan ingin marah, tapi Gavin ingin mengucapkan terima kasih karena ada yang peduli dengan makam istrinya selama ia di rumah sakit.


"Terima kasih Pak, maaf mengganggu kerja bapak"


"Sama-sama Mas..... Mari"


Setelah bapak penjaga makam itu pergi, Gavin duduk di samping pusara sang istri. Bunga mawar merah yang ia beli tadi, di letakkan di samping bunga mawar putih itu.


"Selamat siang istriku" ucap Gavin. Seperti biasa jika mengunjungi makam Queen, rasa sesak itu masih terasa.


"Maaf aku baru bisa datang sekarang sayang, kamu pasti rindu kan sama aku"


"Sama, aku pun sangat merindukan kamu. Ingin peluk kamu, tapi kamu pergi terlalu jauh sehingga aku tidak tahu dimana harus menemukan kamu"


Kembali, cairan bening itu lolos begitu saja tanpa bisa di cegah. Dadanya semakin sesak seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam.


"Aku mau pamit sayang, aku akan menetap di Amerika. Di sini terlalu banyak kenangan bersamamu"


"Mungkin ini mawar terakhir untuk kamu, tapi kamu tenang saja aku akan menyewa seseorang untuk mengurus makam kamu. Hanya saja aku tidak akan membayar orang untuk meletakkan mawar merah ini, karena hanya aku yang boleh melakukannya"


"Aku pasti akan merindukan kamu, tapi percayalah sampai kapanpun aku tidak akan menikah lagi karena bagiku, istriku hanya kamu Queenara Gantari"


Setelah itu Gavin berdiri, sebelum melangkah pergi ia tersenyum seolah Queen sedang menatapnya.


Gavin berjalan dengan pelan, meninggalkan area pemakaman dengan perasaan yang sama. Sakit dan sesak. Tapi kali ini pria itu terlihat tegar. Mungkin ini akan menjadi kunjungan terakhirnya karena setelah ini ia akan ke Amerika untuk melanjutkan hidup.


...~~TAMAT~~~~~...


Kisah Gavin dan Queen tamat juga, terima kasih untuk semuanya yang sudah setia membaca novel ini sampai akhir. maafkan kalau membuat kalian menunggu.


nanti aku kasih ektra part nya ya.. !


Bye... Tetap baca karya ku yang lain...

__ADS_1


__ADS_2