
Tinggal Satu Minggu lagi acara pernikahan Aisyah dan Mas Ali akan di gelar.
Akad nikah nya akan dilaksanakan Satu hari sebelum Resepsi dan akan berlangsung di rumah kami yang sederhana ini sesuai dengan permintaan Ayah.
Sementara untuk resepsi nya, akan berlangsung di gedung ballroom hotel Swiss sesuai dengan permintaan pihak keluarga mempelai lelaki.
Tentu Saja resepsi akan berlangsung sangat Mariah, karena Mas Ali calon nya Aisyah adalah seorang pengusaha Muda yang kaya raya.
Aisyah Pernah bercerita kalau Mas Ali adalah seorang pengusaha perkebunan yang Meneruskan salah satu usaha orangtua nya.
Dan dia juga sudah menyelesaikan kuliah S2 nya di Malaysia dengan gelar MBA.
Aisyah pasti sangat beruntung mempunyai calon suami yang luar biasa, tidak hanya tampan tapi juga pintar dan begitu perhatian terhadap Aisyah.
Sejujurnya aku belum pernah bertemu langsung dengan calon adik iparku itu, karna kesibukan dan jadwal kami yang memang tidak mengizinkan kami untuk bisa bertemu.
Sebenarnya aku juga sangat penasaran ingin melihat wajah lelaki yang sudah menakhlukkan hati adik ku yang paling Aku sayang.
Mungkin belum waktu nya.
Inshaa ALLAH nanti pas hari akad aku akan bertemu dan berkenalan dengan nya.
Smoga smua berjalan lancar sesuai rencana lirihku dalam hati.
Aku memang tidak seberuntung Aisyah, tapi aku juga lagi berbunga-bunga karna tepat satu minggu yang lalu Aku jadian dengan Masa Fahri.
Dia nembak Aku saat Aku masuk keruangan kerja nya untuk memberikan undangan pernikahan Aisyah.
Tiba-tiba saja Mas fahri memegang tanganku dan mengatakan kalau dia juga ingin nama kami berdua tertulis di undagan seperti nama Aisyah dan calon suaminya.
Aku tersenyum malu saat dia menyatakan perasaan nya yang suka terhdapku sudah lama sekali.
__ADS_1
Dan akhirnya hari itu kami jadian dan dia berjanji akan menjadi pendampingku nanti pas resepsi pernikahan Aisyah.
sungguh aku sangat bahagia hari itu.
Ada yang aneh menurutku.
Seminggu mnjelang pernikahannya Aisyah seperti tidak bersemangat dan cenderung pendiam.
Kemarin pas di tanyain ibu masalah baju untuk dipakai pas Akad nikahnya, dia malah menjawab terserah ibu Saja.
Padahal hari menuju pernikahan nya sudah semakin dekat.
Dia seperti menghindar dan tidak mau perduli dengan pernikahan nya.
Hari berlalu begitu cepat, besok Aisyah akan melangsungkan pernikahan dengan Mas Ali. Kulihat ibu di dapur sibuk mebuat minuman untuk para tetangga yang berdatangan di bantu dengan sanak family yang sudah datang sejak kemarin.
Tenda dengan nuansa pink dan white pun sudah berdiri kokoh di halaman rumah, bahkan rumahpun sudah di penuhi dengan tirai-tirai senada dengan warna tenda.
Disudut rumah yang biasanya menjadi ruang tamu sekarang sudah berubah menjadi pelaminan yang indah bernuansa pink dan white juga, untuk pelaksanaan Akad nikah mereka.
kamar Aisyah juga sudah hias secantik mungkin dengan perabot yang benuansa pink tentunya sesuai selera Aisyah.
Aku menuju kamar pengantin yang sedikit terbuka.
Kulihat Aisyah sedang berbaring menghadap dinding bertirai putih di depan nya.
Aku mendekatinya, setengah berbisik sambil bercanda ku bisikkan ditelinganya
" ciee... calon manten.. ngelamun aja. malas-malasan dikamar. udah gk sabar ya nunggu besok" ujarku sambil tertawa.
Dia malah menepis jariku dan menyuruhku keluar dari kamarnya dengan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Aku kaget mendengar ucapannya.
"kamu kenapa? kok marah? mbak kan cuma bercanda" ujarku padanya.
Dia duduk kemudian menghadap ke arahku, kulihat air mata di ujung matanya.
"kok nangis? " tanyaku lagi.
Kemudian dia memelukku sangat erat sambil menangis terisak .
"Aku gk mau nikah mbak. Aku gk bisa. Aku belum siap. Aku gak bisa bayangkan diriku setelah menikah yang harus ikut Mas Ali tinggal di perkebunan. Menjadi istri yang membosankan yang kerjanya cuma mengurus rumah dan menunggu suami pulang kerja. Aku gak bisa mbak. Kita kan gk pernah tinggal dikampung, dari lahir sampai sekarang kita hidup di tengah kota, mana mungkin aku bisa bertahan hidup di perkebunan yang sepi. " ujarnya sambil terisak.
Aku menatapnya dalam.
" Bukannya kamu sudah menyetujui permintaan calon suami mu? bukannya kamu sendiri yang bilang bersedia untuk ikut tinggal diperkebunan dengan nya? " tanyaku lagi.
"Iya mbak, tapi setelah Aku renungkan Aku gak bakalan sanggup. Aku gak bisa ninggalin pekerjaanku, meninggalkan teman-temanku, disana pasti sepi dan membosankan tidak ada mall apalagi Bioskop. Aku pasti gak bakal betah. Aku mau batalin aja mbak. Aku gk bisa" katanya lagi sambil menangis.
Astagfirullah" ujarku.
" Jangan bersikap bodoh Aisyah, pernikahanmu besok pagi, jangan berfikir yang tidak-tidak. Inilah takdir yang harus kamu jalani. Jalani dengan ikhlas, Inshaa ALLAH hidupmu akan bahagia bersama suamimu. Lagi pula kan tiap dua bulan kamu bisa ikut suami mu ke kota dan kita bisa saling melepaskan rindu" bujukku padanya dengan nasihat.
"Sudahlah, jangan berfikir yang bukan-bukan lagi. Sekarang tidur dan berhentilah menangis, karna kalau tidak besok matamu akan bengkak dan sangat jelek kelihatannya. " Kataku sambil mengelus rambutnya.
Dia diam.
Akupun keluar dari kamarnya sambil beristigfar.
Inshaa ALLAH smua akan berjalan lancar bisikku dalam hati.
Aamiin.
__ADS_1