
Aku terbangun seketika saat mendengar suara Mas Ali yang memanggil namaku tepat di kuping sebelah kiriku.
Suaranya yang berat dan serak terdengar lembut di telingaku membuat bulu kudukku berdiri tiba-tiba.
"Ica.. ayo bangun sudah jam 5.40 pagi " katanya sambil berbisik di telingaku.
Aku terbangun dan menyadari betapa dekatnya jarak antara bibirnya dan kupingku.
Kubuka pelan mataku dan kulihat posisi kepalaku yang sudah berada di atas lengan nya Mas Ali dan yang lebih memalukan kakiku ternyata memeluk paha bagian atas Mas Ali.
Aku terperanjat kaget menyadarinya.
Segera kubalikkan tubuhku membelakangin nya.
"maaf Mas" kataku pelan.
Dia bangun lalu pergi menuju kamar mandi.
Kami turun menuju lobi hotel.
Disana sudah ada papa dan mama Mas Ali beserta keluarga nya yang lain yang sudah siap untuk berangkat ke bandara.
"pagi mama, papa" sapa Mas Ali sambil menyalami kedua orang tua nya.
Akupun melakukan hal yang sama pada mertuaku.
Lalu memberi salam pada keluarga yang lain.
"Kenapa Li? kok lehernya dipijit-pijit? salah tidur? " tanya tante nya.
"Gak nte, agak pegal aja mungkin efek jadi bantal semalaman" jawab Mas Ali sambil melirik ke arahku.
Aku tertunduk malu karna jadi bahan tertawaan keluarga Mas Ali.
Sampai di bandara kluarga Mas Ali pamitan, begitu pula kedua orangtua Mas Ali.
Mama nya menangis sambil memeluk Mas Ali dan memberi beberapa nasihat pada kami berdua.
" apapun yang terjadi adalah takdir dari ALLAH, jadilah suami istri yang saling melengkapi, smoga ALLAH menjaga rumahtangga kalian" ujar mamanya sambil mengelus pipi anak semata wayangnya.
__ADS_1
"jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab, cobalah untuk membuka dirimu terhadap istrimu ya nak" ucapnya lagi pada Mas Ali.
Pulang dari bandara kami langsung menuju rumahku.
Sampai dirumah ayah dan ibu juga bukde dan pakle sedang asik berbincang sambil sarapan.
Kamipun ikut bergabung.
Disela pembicaraan, Mas Ali mohon izin untuk pulang keperkebunan lusa dan ikut membawa serta diriku.
Selesai sarapan aku pergi ke minimarket tempatku bekerja untuk menyerahkan surat pengunduran diriku.
Tiba diminimarket, aku langsung menuju ruang kerja Mas Fahri.
Dengan sangat gugup ku ketuk perlahan pintu ruangan yang sebenarnya tidaklah tertutup. Dia melihatku dan mengangguk pelan tanda mempersilahkan aku untuk masuk kedalam ruangannya.
Dia kembali menggerakkan tangan nya memberi isyarat agar aku merapatkan pintu ruangan.
Aku duduk di depan Mas Fahri yang memandangku tanpa ekspresi.
Perlahan kusodorkan di atas meja kerjanya surat pengunduran diriku.
Hening sekali.
Membuatku merasa semakin gugup.
"Apa sebenarnya yang terjadi? " tanya nya pada ku.
"Maaf mas" jawabku pelan.
"Kenapa kamu bersedia menjadi pengganti adikmu Ca?? bukannya baru kemarin kita jadian? kamu mengundangku untuk jadi pendampingmu dalam pernikahan adikmu? tapi kenapa malah ini yang terjadi? " tanyanya padaku dengan muka yang merah menahan amarahnya.
Aku hanya bisa terdiam tanpa menjawab satu patah katapun.
" Kamu kan bisa menolak permintaan orang tuamu dan keluarganya. Kamu bisa bilang ke mereka kalau kamu mencintai Aku dan tidak bisa menikah dengan pria lain!. " ujar nya lagi dengan nada sedikit ditinggikan.
Air mataku sudah tidak dapat di bendung. Aku menangis tanpa suara.
Dia berdiri mendekatiku dan berusaha memelukku.
__ADS_1
Tapi dengan sigap aku bediri dan menepis tangan nya.
Dia kaget melihat reaksiku.
"Maaf mas" kataku lagi.
"Aku sekarang adalah istri orang mas, tidak pantas rasanya jika di peluk orang lain". jawabku lagi pelan.
" Itu surat pengunduran diri saya mas, lusa saya akan ikut suami untuk tinggal di perkebunan. Terimakasih untuk semua kebaikan Mas Fahri selama ini. Cuma ALLAH yang bisa membalas semua kebaikan Mas Fahri. Mohon maaf atas semua yang telah terjadi" kataku lagi.
Lalu pergi keluar dan meninggalkan Mas Fahri yang terpaku di ruangannya.
Aku menyalami teman-teman satu persatu.
Lalu memeluk Mia begitu erat.
Kami menangis bersama dalam pelukan.
"Semoga kamu bahagia sayang" kata Mia berbisik di telingaku.
"Jangan ragu untuk telepon dan curhat ya say" ujarnya lagi.
Aku mengangguk dan kembali memeluknya.
Lalu aku berpamitan dan pulang kerumah.
Pagi ini udara cukup cerah. jam sudah menunjukkan pukul 8.30Wib.
Mas Ali telah selesai memasukkan semua koper kedalam bagasi mobilnya.
Sementara aku masih terisak dalam pelukan Ibu dan bukde.
"Jadilah istri yang slalu menjaga martabat suami ya nak. Semoga ALLAH melindungi rumah tangga kalian" kata ibu sambil melepaskan pelukan nya.
Setelah berjabat tangan dan saling berpelukan kamipun pamit dari rumah menuju Perkebunan tempat Mas Ali tinggal.
Untuk pertama kalinya aku jauh dari orangtua. Sedih sekali rasanya harus meninggalkan mereka berdua.
Sementara Aisyah sampai saat ini tidak ada yang tau keberadaan nya.
__ADS_1