Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 20: Keguguran


__ADS_3

Hari-hari aku lalui terasa begitu berat. Badanku terasa tidak bertenaga, bahkan untuk kedapurpun aku malas.


Rasa bosan yang luar biasa membuatku semakin kesal.


"Ya ALLAH apa begini yang dirasakan ibu waktu mengandungku? " tanyaku dalam hati.


Kulihat dari jendela kamar udara yang mulai cerah setelah hujan siang tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.25wib. Mas Ali masih belum pulang juga.


Perutku tiba-tiba terasa lapar.


Tiba-tiba aku ingin sekali makan gorengan yang dijual mbok Darmi dipinggir lapangan bola yang tidak jauh dari warung tempatku sering berbelanja tepat di ujung jalan.


Kucoba telepon Mas Ali minta di antar kesana.


Tapi Mas Ali menjawab tidak bisa dan memujukku untuk membelinya besok aja. Dengan sedikit kesal kututup telepon darinya.


"Kalau gitu aku minta bantuan Yuli aja" kataku pula dalam hati.


Aku segera menelepon yuli.


Ternyata Yuli pun tidak bisa.


Dia dan bik sumi sedang ke kota membeli perlengkapan untuk pernikahan yuli bulan depan.


Aku semakin kesal!!


Aku berjalan pelan menuruni anak tangga dan berjalan sendiri menuju warung gorengan mbok Darmi.


Sampai diwarung, kubeli beberapa gorengan yang ingin sekali aku makan lalu kembali pulang karna hari sudah mulai sore.


Sambil berjalan pelan kuambil gorengan tadi dan menikmatinya sembari tetap berjalan.


Tiba-tiba dari belakang suara klakson motor mengejutkanku.


Aku refleks melompat ke samping jalan yang hanyalah jalan tanah setapak dan licin karna terkena hujan siang tadi.

__ADS_1


Aku pun tergolek terduduk jatuh kedalam genangan air di jalan yang rusak.


Sakit sekali.!!


Aku berdiri menahan sakit yang luar biasa di bagian pinggangku.


Pelan kuseret kakiku yang lecet dan berdarah.


Aku berkeringat dingin.


Perut bagian bawahku terasa perih dan makin lama terasa makin sakit.


Aku terus berjalan dan terduduk di tepi tangga rumah.


Kulihat darah segar mengalir begitu banyak.


Aku panik.


Segera ku telepon Mas Ali.


"Mas... Sakiittt... " teriakku.


Aku terbangun dengan kepala yang sangat berat.


Badanku terasa remuk semuanya.


Kulihat ibu dan Aisyah ada duduk disampingku.


"Aku kenapa buk? " tanyaku pada Ibu ketika kusadari kalau aku sedang terbaring dirumah sakit.


"Mas Ali mana buk? " tanyaku lagi.


Ibu menenangkanku.


"Jangan banyak bergerak dulu. Kamu belum pulih, Ali lagi keluar sama Ayah. Sebentar lagi pasti datang" jawab ibu.


Aku mengangguk tanda mengerti, lalu kembali memejamkan mataku yang terasa sangat berat.

__ADS_1


Kurasakan Mas Ali mengusap pelan kepalaku ketika aku terbangun dari tidurku.


"Mas... " kataku padanya.


Dia membalas ucapanku dengan senyuman lalu mengecup keningku.


"Anak kita? " tanyaku dengan nada cemas.


Mas Ali menggelengkan kepalanya lalu mencium keningku.


Lama.


Kudengar dia terisak menahan tangis.


Aku menangis sejadi-jadinya.


Kupeluk Mas Ali sekuat-kuatnya dan menangis dalam pelukannya.


Dari jauh kulihat ibu menangis dalam pelukan Aisyah dan Ayah.


"maafkan Aku Mas.. " kataku dalam isak tangis.


Dia cuma diam dan terus memelukku.


Aku merasa benar-benar hancur dan berdosa. Aku terlalu egois.


Seandainya aku menuruti perintah Mas Ali pasti hal ini tak akan terjadi.


"Maafkan Mama Naaakk.. " teriakku dalam depakan Mas Ali.


"Mama sungguh menyesal Nak" kataku lagi.


"Maafkan Aku Mas.. Maafkan Aku" sambil terus menangis.


Ayah datang menepuk bahu Mas Ali lalu memintanya untuk sabar dan ikhlas.


" Smua yang terjadi ini adalah Takdir dari ALLAH. Inshaa ALLAH anak kalian akan menjadi malaikat kecil yang akan menjemput kalian di pintu syurga nantinya" kata Ayah lagi menasehati kami.

__ADS_1


"Aamiin" jawab kami bersamaan.


__ADS_2