Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Gavin dan Nara


__ADS_3

Queen duduk sendiri di sebuah kafe, mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering. Ia tau kalau mengabaikan Gavin akan membuat pria itu marah. Tapi untuk saat ini Queen ingin sendiri tanpa di ganggu siapapun.


Suara alunan musik pelan semakin membuatnya sakit. Di hadapannya ada sebuah kertas berbalut amplop putih yang ia letakkan begitu saja. Kertas hasil pemeriksaan yang cukup menyakitkan.


"Dunia ini memang tidak adil" keluh Queen. Telapak tangannya kembali menghapus cairan bening yang terus meleleh.


Ingin marah pada kehidupan, sejak kecil ia di beri cobaan yang menurutnya sangat berat. Jika memang harus seperti ini kenapa ia di biarkan hidup.


"Di benci Papa dari lahir, dan sekarang di beri penderitaan seperti ini. Apa memang tidak ada kebahagiaan untukku" desah Queen pelan.


Ponselnya kembali berdering, dan kali ini Queen melihatnya. Sang suami kembali menghubungi membuat Queen akhirnya beranjak dari duduk. Sudah cukup lama ia berada di kafe itu, menenangkan diri walau nyatanya semakin sakit.


Kertas hasil pemeriksaan ia masukkan kedalam tas, tak lupa Queen meninggalkan selembar uang berwarna merah untuk membayar segelas jus alpukat yang menjadi kesukaannya. Ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk.


Tujuannya saat ini adalah kantor sang suami, ia akan memberi kejutan dengan kedatangannya tiba-tiba. Gavin pasti akan senang.


*


*


*


Setiba di perusahaan, Queen berjalan cukup anggun. Ia mendekati resepsionis.


"Apa suami saya ada di ruangannya ?" Tanya Queen


Wanita yang menjabat sebagai resepsionis itu menatap Queen dengan ekspresi terkejut.


"Loh, bukannya ibu ada di ruangan bapak ya sejak tadi"


Queen terdiam sejenak, seperti nya yang di maksud resepsionis itu adalah Nara. Tapi untuk apa Nara menemui suaminya tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu.


Tak ingin berprasangka buruk, mungkin saja ada yang perlu Nara bahas dengan Gavin.


"Dia kembaran ku" jawab Queen sambil tersenyum.


"Saya kira itu tadi ibu, soalnya mirip banget"


"Sekarang boleh saya masuk"


"Silahkan bu"

__ADS_1


Queen berjalan menuju lift khusus, ia memencet tombol dimana ruangan Gavin berada. Walau sudah berusaha berpikiran jernih tapi tetap saja ada perasaan marah saat tau Nara dan Gavin bicara tanpa sepengetahuan dirinya.


Setelah pintu Lift terbuka, Queen kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Gavin. Ia melihat pintu ruangan itu tak tertutup. Dan langkahnya langsung terhenti saat mendengar suara Nara.


"Gavin maafkan aku, kesalahan ku selama ini begitu besar"


"Sekarang kamu sadar akan hal itu Ra, seharusnya dulu kamu bicarakan padaku jika ada masalah. Tapi apa yang kamu lakukan ?. Kamu mengabaikan aku dan melarikan diri" kata Gavin dengan suara dingin.


"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak melakukan itu. Seharusnya dulu aku mencintaimu seperti yang kamu inginkan"


"Kenapa sekarang kamu baru menyesal, setelah semua yang terjadi ?"


"Apa kamu masih mencintaiku Vin ?"


Queen menutup mulutnya saat mendengar pertanyaan Nara, ia merasa seperti ada sebuah duri besar yang menusuk hatinya. Rasanya begitu sesak dan sakit. Air matanya sudah menetes dengan deras.


Ia menunggu jawaban Gavin, berharap pria itu mampu memberikan jawaban yang bisa membuatnya bahagia.


"Maaf Ra, aku tidak mencintaimu lagi"


Jawaban Gavin berhasil membuat Queen tersenyum, namun senyum itu kembali hilang saat mendengar Nara kembali berkata.


"Lalu apa kamu benar-benar mencintai Queen ?, Kamu yakin itu rasa cinta atau rasa bersalah ?"


"Tentu saja" balas Nara.


"Aku mencintai Queen, dan sangat mencintainya. Aku tidak ingin wanita itu kenapa-napa karena semua itu akan membuat hidupku hancur"


Queen menarik napas panjang, tak terasa tas yang ada di genggamannya terjatuh, sehingga menimbulkan suara.


Mendengar hal itu dengan cepat Nara membuka pintu, mata wanita itu terbuka lebar saat melihat kehadiran Queen.


"Queen" ucap Nara gugup, ia berharap adik nya itu tidak mendengar apa yang ia bicarakan dengan Gavin tadi.


Queen berdehem, ia kehilangan kata-kata padahal ada banyak yang ingin ia lontarkan. Tapi sayangnya tak ada satupun yang lolos dari mulutnya.


"Kau menguping ya ?" Tanya Gavin serius.


Queen menundukkan kepalanya "A-ku--"


"Apa kamu mendengar apa yang aku katakan tadi ?" Gavin kembali bertanya dan di jawab anggukan pelan oleh Gavin.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mendengarnya lagi ?"


Queen mendongak, menatap sang suami.


"Aku mencintai mu Queen, sangat mencintaimu"


Cairan bening itu kembali membasahi pipi mulus Queen, ia bukan sedih melainkan terharu dengan ucapan Gavin. Ia tidak menyangka pria itu akan mengungkapkan perasaanya di depan Nara..


Kening Queen kembali mengkerut saat mendengar Nara tertawa.


"Kamu kenapa Ra ." Tanya Gavin yang juga heran melihat Nara tertawa.


"Aku bahagia karena sekarang Queen benar-benar mendengar pengakuan cintamu. Maafkan aku jika aku sempat menorehkan luka di hati kalian"


"Sudah Ra, jangan bahas masalalu" Queen menyahut, seraya berjalan mendekati Nara


"Bahagia selalu ya, aku tenang sekarang karena Gavin benar-benar mencintaimu"


Usai mengatakan itu Nara mengambil tasnya lalu berlalu dari ruangan Gavin. Mengabaikan tatapan Gavin dan Queen.


Setelah kepergian Nara, Gavin menarik tangan Queen supaya memasuki ruangannya. Kemudian sebuah tarikan pelan Gavin berikan di telinga sang istri.


"Apa yang mas lakukan ?" Queen mengusap bagian telinganya yang mendapat hadiah dari sang suami.


"Ini hukuman buat kamu, karena sejak tadi tak memberiku kabar. Kamu juga mengabaikan telepon dariku"


Queen nyengir, menampakan deretan gigi rapihnya. .


"Kamu dari mana saja sayang ?, Kenapa telepon ku gak di angkat dan sms ku gak di balas ?" Gavin kembali bertanya sambil membawa istrinya duduk di sofa.


"Sengaja mau bikin kejutan, eh mala aku yang dapat kejutan" bibir manis Queen maju, membuat Gavin begitu gemas.


"Tapi kamu membuatku khawatir" Gavin menatap wajah Queen, ia melihat ada kejanggalan, mata wanita itu sembab seperti habis menangis.


"Wajah kamu masih pucat sayang, bahkan sekarang lebih pucat dari kemaren, kamu beneran gak papa ?"


Secepat kilat Queen mengalihkan tatapannya, tentu saja wajahnya akan semakin pucat. Karena kata dokter Vanya kanker yang ia derita sudah stadium akhir. Jalan satu-satunya harus mencari donor sum-sum tulang belakang. Tapi Queen tidak ingin mengemis pada sang Papa agar mendonorkan sum-sum tulang belakangnya.


"Sayang" nada suara Gavin melembut. "Kalau kamu capek istirahat ! Jangan bekerja apapun"


"Aku gak Papa mas"

__ADS_1


Jawaban Queen tak membuat perasaan Gavin berubah, pria itu semakin di lengkapi dengan perasaan khawatir yang amat besar.


__ADS_2