
Queen menggeram saat terbangun dari tidurnya, ia merasakan rasanya tidak bisa bernapas. Dengan cepat Queen membuka mata dan melihat kesamping. Ia tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya sedang tertidur pulas.
Lengan Gavin melingkar di atas perutnya, sementara satu kaki Gavin bertumpu pada kaki Queen, membuat wanita itu benar-benar tak bisa bergerak.
"Mas, aku gak bisa gerak" ucap Queen dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Gavin memindahkan tangannya juga mengangkat kakinya. Tapi pria itu enggan membuka mata, terlihat sekali kalau dia lelah mungkin karena kegiatan mereka semalam.
"Queen" panggil Gavin.
Queen tersenyum mendengar sang suami menyebut namanya, ia kemudian bangkit dari tempat tidur, lalu mencium bibir sang suami dan beranjak berdiri.
Mata Queen menyapu sekitar kamar itu, pakaian mereka masih berserakan membuat Queen memungutinya satu persatu lalu memasukan nya kedalam keranjang baju kotor. Queen bergegas mandi karena pagi ini ia akan memasak sarapan untuk suaminya.
*
*
Sementara itu di rumah lain, Nara sudah bangun dan siap dengan pakaian rapihnya. Harun yang melihat putri kesayangan itu sudah cantik menjadi heran.
"Kamu mau kemana ? Pagi-pagi udah cantik ?" tanya Harun sambil menarik kursi lalu duduk disana.
"Hari ini aku akan mengajak Queen membuat gaun, Papa lupa kalau tiga hari lagi ulang tahun kami" jawab Nara.
Harun mendengus saat mendengar nama Queen "Seperti biasanya Papa hanya akan membuat pesta untukmu, tidak ada untuk Queen"
"Berhenti membenci Queen Pa ! Dia gak salah apa-apa atas kematian Mama, ini sudah takdir"
Mata Harun menyalang, menatap Nara dengan tajam.
"Papa sudah bilang jangan membela wanita sampah itu, sampai kapanpun dia akan tetap menjadi anak pembawa sial"
Nara terhenyak, entah bagaimana caranya untuk menyadarkan Harun.
"Suatu hari nanti Papa akan menyesal"
"Itu tidak akan terjadi, bahkan jika Queen mati pun Papa tidak akan menyesal"
Air mata Nara menetes begitu saja, menurutnya Harun benar-benar keterlaluan.
"Papa mau kemana ?" tanya Nara saat melihat Harun berdiri.
"Ke kantor"
"Gak sarapan dulu ?"
"Udah kenyang"
Nara menarik napas panjang, matanya menatap kepergian Harun dengan nanar.
*
*
Queen memasak sarapan hanya untuk dirinya dan sang suami, hanya masakan sederhana nasi goreng dan telur dadar. Saat ia sedang menggoreng telur ponselnya berdering. Queen langsung mengangkat telur itu karena sudah matang lalu bergegas melihat ponselnya.
__ADS_1
"Nara" gumam Queen saat melihat nama sang Kakak di layar ponselnya.
Segera saja Queen menjawab panggilan tersebut.
"Halo Ra" ucap Queen.
"Hai Queen, selamat pagi" balas Nara di seberang sana.
"Ada apa Ra ? Tumben jam segini kamu udah bangun" Queen tertawa pelan.
"Huh aku terpaksa bangun pagi hari ini, karena aku akan mengajak mu pergi"
"Kemana ? Bukankah kemaren kita baru saja pergi"
"Itu berbeda Queen, hari ini aku ingin membawa mu ke butik. Tiga hari ulang tahun kita berdua Queen, dan Papa akan membuat pesta"
Mendengar hal itu Queen langsung terdiam, sebenarnya ia sangat membenci hari lahirnya, apalagi sebuah pesta ulang tahun karena dirinya hanya menjadi penonton di sudut ruangan sementara Nara yang menikmati pestanya.
"Halo Queen, kenapa kamu diam ? Apa kamu tidak ingin pergi bersamaku hari ini ?" tanya Nara.
"Bisa Ra, ke butik mana tujuanmu ? Aku akan menyusul"
"Butik tempat mu bekerja dulu, aku tunggu disana"
"Ok baiklah"
Sambungan telepon pun terputus, berbarengan dengan kedua tangan Gavin yang melingkar di perut Queen.
"Ini masih sangat pagi sayang, siapa yang menghubungimu ?" tanya Gavin menggunakan nada manja.
"Nara mas, hari ini dia ingin mengajakku ke butik katanya untuk mencoba gaun"
"Tiga hari lagi kami berdua ulang tahun dan Papa bikin pesta" jawab Queen lirih. Dapat Gavin lihat kesedihan di mata istrinya.
"Baik kalau begitu aku akan mengantarmu"
"Ta-pi disana ada Nara mas ?"
"Tidak apa-apa, lagian ada kamu juga"
Queen tersenyum, ia mengelus tangan suaminya yang masih melingkar di perutnya.
"Mana sarapan ku sayang ?"
"Masih di dapur mas, ayo sarapan dulu"
*
*
Mobil Gavin berhenti tepat di depan butik dimana dulu Queen bekerja sebagai desainer. Semenjak Gavin menyatakan perasaannya ia tak lagi menyuruh Queen bekerja.
Queen turun dari mobil di ikuti oleh Gavin, tangan Gavin melingkar di pinggang Queen saat keduanya memasuki butik tersebut.
"Queen" panggil Nara, ia berlari dan memeluk Queen dengan erat.
__ADS_1
"Apa kamu merindukan ku Ra ?" tanya Queen terkekeh, Gavin menarik tangannya yang melingkar di pinggang sang istri.
"Tentu saja" balas Nara.
Saat keduanya masih berpelukan Gavin berdehem.
"Berhenti memeluk istriku Ra ! Dia bisa kehabisan napas" ucap Gavin.
Sekejap Nara melepaskan pelukannya begitupun dengan Queen, kedua wanita itu menatap Gavin.
"Aku sangat merindukan adik ku Vin, ah sudahlah ayo kita masuk dan coba gaunnya" ajak Nara.
Queen dan Nara langsung mencoba gaun yang sudah Nara pesan, hanya bagian Queen yang perlu di kecilin sedikit di bagian perutnya karena memang tubuh Queen yang kecil.
Setelah mencoba gaunnya, mereka langsung meninggalkan butik.
"Kami akan mengantarmu pulang Ra" ucap Queen .
"Tidak perlu Queen, aku bawa mobil kok dan lagian aku tidak mau mengganggu kalian berdua" balas Nara.
"Tapi Ra--"
"Biarkan saja sayang !" bisik Gavin di telinga istrinya.
Queen menghela napas, mungkin suaminya akan merasa risih jika Nara satu mobil dengannya. Queen pun membiarkan Nara pulang sendiri.
Setelah Nara pulang, Queen bertanya pada sang suami.
"Sekarang kita akan kemana mas ?" tanya Queen.
"Ka kantorku !"
"Ngapain ?"
"Aku tidak ingin jauh darimu sayang, jadi kamu harus ikut ke kantor"
Queen tertawa mendengar ucapan suaminya, menurutnya itu sangat lucu.
*
*
Setiba di kantor, Keduanya langsung menuju lift dengan bergandengan. Banyak para karyawan yang heran melihat Gavin membawa istrinya ke kantor.
"Ini luas sekali mas" ucap Queen saat sudah berada di ruangan suaminya, ia begitu terpanah dengan kemewahan ruangan itu.
"Apa kamu ingin melihat sesuatu ?" tanya Gavin.
"Apa mas ?"
Gavin berjalan mengambil sebuah remote, lalu menekan sala satu tombol disana. Queen menoleh dan melihat pintu bercat putih bergeser dengan pelan.
Mulut Queen terbuka lebar dengan kedua bola mata yang melotot, bagaimana tak terkejut di ruangan yang baru saja Gavin buka ada foto dirinya yang lagi tertidur dengan mulut terbuka.
"Mas, ini memalukan" pekik Queen menatap suaminya dengan tajam, ia tak menyangka kalau Gavin akan senakal itu.
__ADS_1
"Hahaha" Gavin justru tertawa terpingkal-pingkal apalagi saat melihat raut wajah istrinya "Tapi menurutku ini fotomu yang sangat cantik"
Queen melempar suaminya menggunakan bantal sofa "Menjengkelkan" ucap Queen