
Bab 37-Menghilang.
Malam harinya, di saat semua orang sudah terlelap tidur Queen masih duduk di balkon kamar, menikmati angin malam yang terasa dingin namun menyejukkan.
Di tangannya ada sebuah buku dan pena yang sejak tadi ia pegang, ingin menulis sesuatu yang entah apa isinya nanti.
Sementara sang suami sudah terlelap tidur, usai melakukan olaraga ranjang, Gavin langsung terlelap begitu saja, sedangkan Queen tidak bisa tidur lantaran memikirkan sang Papa yang sampai saat ini masih terbaring di rumah sakit.
"Maafkan aku mas, kamu pasti akan kecewa dengan keputusan ku" gumam Queen lirih.
Kembali telapak tangannya menghapus cairan bening yang terus saja menetes, terkadang Queen terisak saat dadanya terasa sesak.
"Tuhan, jika umurku tidak akan lama lagi, beri aku kesempatan untuk memeluk Papa"
"Semoga secepatnya Papa sehat seperti dulu lagi"
Kertas putih yang sejak tadi kosong, sekarang sudah terisi tulisan Queen, setelah selesai Queen kembali kekamar tak lupa menutup pintu balkon. Di pandangnya wajah sang suami yang sudah terlelap.
"Besok aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi mas, semoga kamu baik-baik saja ya mas selama aku pergi.."
Queen berbaring di samping sang suami, ia peluk tubuh Gavin dengan erat seolah ini adalah pelukan terakhir yang ia rasakan.
*
*
*
Sinar matahari mulai menembus kaca jendela, Gavin menyipitkan matanya saat sinar itu menerpa wajah.
"Jam berapa sih" ia bergumam, sebelah tangannya meraba meja nakas untuk mencari ponsel, padahal di dinding jam menggantung begitu saja.
"Jam 08, tumben Queen tidak membangunkan aku"
Gavin merubah posisi menjadi duduk, menoleh ke samping dimana istrinya tidur semalam. Tapi pagi ini tempat tidur itu kosong, namun Gavin tidak curiga ia pikir istrinya sedang memasak di dapur, seperti kebiasaan Queen selama ini.
Tanpa menunggu lama Gavin langsung menuju kamar mandi, waktu 30 menit ia habiskan disana, setelah selesai Gavin berganti pakaian.
Setelah siap dengan pakaian kerjanya, Gavin langsung turun kebawah ia tidak sabar ingin memeluk Queen dari belakang seperti yang sering ia lakukan.
"Sayang...." panggil Gavin.
Namun hening, tidak ada sahutan sama sekali, Gavin melihat dapur yang ternyata kosong. Tidak ada siapa-siapa disana tapi di meja makan sudah tersaji makanan yang Gavin yakini masakan sang istri.
__ADS_1
"Apa dia sedang jemur baju"
Gavin melangkah ke samping rumah dimana sang istri sering jemur pakaian, disana juga kosong tidak ada Queen, membuat Gavin mulai panik karena tak biasanya Queen pergi sepagi ini.
"Kemana kamu sayang ?"
Buru-buru Gavin menghubungi Queen, tapi nomor teleponnya tidak aktif membuat Gavin semakin gusar, hingga akhirnya ia memutuskan menghubungi Nara.
"Ada apa Vin ? tumben sepagi ini kamu menghubungiku". ucap Nara di seberang sana.
"Apa Queen bersamamu sekarang ?" tanya Gavin.
"Tidak, memangnya kenapa ?"
"Queen tidak ada di rumah, tidak biasanya dia pergi sepagi ini"
"Mungkin Queen ke pasar Vin, jangan panik dulu !"
"Dia pasti akan membangunkan aku, biasanya kalau belanja Queen akan minta di temenin"
Suasana hening sesaat, Gavin semakin gusar karena istrinya tidak bersama Nara, lalu kemana Queen saat ini ?.
"Aku akan kesana, kita cari berdua". kata Nara
"Baik aku tunggu"
"Kamu kemana sayang ? kenapa kamu pergi tidak memberi tahu aku" Gumam Gavin lirih, saat ini ia kembali ke kamar dan duduk di bibir ranjang dengan tatapan sendu.
Pikiran negatif terus menyerang otaknya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Queen. Hingga tak berapa lama terdengar suara Nara memanggil, tak sedikitpun Gavin menjawab hingga Nara memutuskan untuk memasuki kamar tersebut.
"Vin" panggil Nara tapi Gavin tak menjawab
"Bagaimana, apa Queen sudah ketemu ?" tanya Nara lagi.
Gavin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau Queen belum di temukan.
"Aku sudah hubungi Vania, katanya Queen juga tidak disana" jelas Nara.
Tatapan Nara tertuju pada sebuah buku di atas meja nakas, wanita itu berjalan mendekat, siapa tau ia menemukan petunjuk disana. Ia ingat kalau Queen sering menulis diary sejak dulu.
"Ini buku Queen" ucap Nara.
Halaman pertama yang terbuka membuat ulu hati Nara terasa nyeri, air matanya menetes dengan deras, ia tahu betul bagaimana adiknya itu sangat menginginkan sebuah pelukan dari sang Papa.
__ADS_1
" đŸ’•Tentang Papa....."
Begitu lah isi halaman pertama yang tertulis, hingga Nara kembali membalikan halaman berikutnya, dan menemukan sebuah tulisan.
"Vin, ini dari Queen" ucap Nara saat membaca baris pertama kalau tulisan itu untuk Gavin.
Buru-buru Gavin merebut buku tersebut, ia membaca sebuah tulisan dengan tangan bergetar.
"***Teruntuk Mas Gavin tersayang"
-Aku tau saat ini kamu sedang mencariku ke seluruh rumah.
-Aku tau kamu panik karena saat kamu bangun aku tidak ada di sampingmu.
-Dan aku tau saat ini kamu bingung karena aku tak kunjung pulang.
-Hei, tenanglah sayang aku baik-baik saja, tapi untuk saat ini aku tidak bisa berada di sisimu, aku pergi sebentar. Ingin mendinginkan perasaanku yang selalu kecewa.
-Aku janji tidak akan lama, kelak setelah aku kembali kamu boleh marah sama aku, kamu boleh diam kan aku.
-Sayang ku mohon jangan sedih, dan tolong titip Papa*** !.
Hanya sepenggal catatan pendek disana, tapi itu langsung membuat pertahanan tubuh Gavin hilang. Pria itu terduduk dengan lemas setelah membaca isi catatan sang istri.
Ingatan nya kembali pada kejadian semalam, bagaimana Queen menuruti semua keinginannya, bahkan saat Gavin ingin minta di layani Queen langsung setuju, padahal Gavin ingat bagaimana pucatnya wajah Queen semalam.
"Vin kenapa ?" tanya Nara bingung
Tapi Gavin tak menjawab, membuat Nara memutuskan membaca catatan itu, ia cukup terkejut saat tau semua itu.
"Tidak, Queen tidak boleh pergi jauh, ini bahaya untuk kesehatannya" gumam Nara namun masih di dengar jelas oleh Gavin
"Apa maksud kamu, kesehatan apa ?"
"Queen sakit Vin, dia menderita Leukimia, tidak kah kamu curiga saat melihat Queen sering mimisan dan wajahnya selalu pucat" bentak Nara
Duaar.
Rasanya Gavin seperti tersambar petir begitu saja, bagaimana mungkin ia tidak tahu semua ini, padahal Queen adalah istrinya.
"Dari mana kamu tau ? jangan asal bicara Ra "
"Waktu itu aku diam-diam ambil sampel darah Queen saat kalian tidur di rumah, setelah itu aku bawah kerumah sakit. Disana dokter mengatakan kalau Queen menderita Leukimia stadium akut" jelas Nara dengan air mata berderai.
__ADS_1
"Aku tidak percaya Ra, istriku sehat"
"Kalau kamu tidak percaya aku akan membawa kamu ke dokter dimana aku memeriksakan semuanya"