Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Akhir Kisah


__ADS_3

Daun-daun kering yang termakan usia berjatuhan di atas tanah, semilir angin berhembus memberikan kesejukan kepada setiap orang yang kini tengah berdiri mengelilingi pusaran yang masih basah itu.


Suara tangisan Nara dan Hesti terus menggema, masih tidak menyangka kalau kini Queen sudah meninggalkan mereka semua.


Namun sejak tadi seorang cowok hanya terdiam membisu, menundukkan kepalanya demi menahan tangis agar tidak pecah. Mama Medina terus mengelus pundak Gavin untuk memberi kekuatan.


Hal terberat dalam hidup Gavin adalah kehilangan wanita yang sangat ia sayangi, bahkan ia tidak pernah bermimpi akan kehilangan Queen secepat ini.


"Maafkan Papa nak ! Papa bahkan belum sempat menebus semua kesalahan Papa, tapi kamu udah pergi sangat jauh" suara Harun bergetar, berusaha menampilkan senyum menyakitkan sembari menaburkan bunga mawar ke gundukan tanah yang masih basah itu.


"Sekarang kamu gak akan sakit lagi, dan saat ini kamu udah ketemu sama Mama kamu, tolong sampaikan permohonan Maaf Papa karena tidak becus menjagamu" kembali Harun membuka suara, membuat semua orang disana hanyut dalam kesedihan.


Di sisi lain Hesti memilih diam seribu bahasa, Queen adalah anak kesayangannya selama ini. Dan ia tahu betul bagaimana Harun menyiksa wanita itu selama ia hidup. Ingin rasanya Hesti memaki Harun saat ini, tapi sebisa mungkin Hesti tahan..


"Kamu harus kuat nak ! istri kamu udah tenang disana" Mama Medina bergumam pelan di samping tubuh putranya.


Gavin tak menjawab, kepalanya terus menunduk dan tangannya menggenggam erat papan nama yang bertuliskan QUEENARA GANTARI. Wanita yang dulu sangat ia benci dan sekarang berhasil membuat Gavin cinta mati.


"Belajar buat ikhlas ya nak !, Mama tau ini berat, tapi kamu harus tau kalau setiap manusia akan kembali pada sang penciptanya" ujar Mama Medina lagi.


Gavin menggelengkan kepalanya, bukan hal yang mudah untuknya mengikhlaskan Queen. Masih banyak mimpi dan impian yang belum tercapai bersama wanita itu.


Beberapa detik kemudian, langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi kelabu. Rintik hujan satu persatu berjatuhan membasahi tanah yang baru itu. Semua orang sudah berdiri hendak meninggalkan pemakaman, terkecuali Gavin, pria itu masih duduk di samping pusara sang istri.


"Ayo pulang, sebentar lagi akan hujan deras" ajak Mama Medina.

__ADS_1


Lagi dan lagi Gavin tak menjawab, ia seolah menulikan telinga dari setiap kata yang semua orang lontarkan.


"Benar kata Mama kamu Vin ! besok kesini lagi, sekarang pulang dulu karena akan hujan deras. Queen pasti tidak akan suka melihat kamu kek gini" sahut Nara menggunakan suara parau.


Gavin mendongak, menatap wajah semua orang satu persatu. Beribu kali ia menjelaskan bagaimana rasa sakitnya semua orang tidak akan mengerti.


Menarik napas panjang, Gavin menatap papan nama itu lagi. Jari telunjuknya membelai ukiran nama indah itu.


"Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu sayang" ucapnya dengan suara serak.


"Sesempurna apapun wanita di luar sana, bagiku kamu tetap yang terbaik"


"Tunggu aku di sana, aku pasti akan menyusul"


*


*


*


Waktu berlalu begitu cepat, hari terus berganti. Tak terasa sudah 3 bulan berlalu. Hari yang begitu menyenangkan kini berubah menjadi kehampaan bagi seorang Gavin.


Semenjak kepergian istrinya 3 bulan yang lalu, pria itu lebih sering mengurung diri di kamar. Bahkan keperusahaan saja sudah tidak pernah. Saat ini ia tinggal di rumah kedua orang tuanya.


Saat melihat kondisi Gavin yang terlihat kurus dan tak terawat, Mama Medina membawa putra semata wayangnya itu kerumah utama. Ia tidak tega melihat kondisi Gavin yang seperti ini.

__ADS_1


"Sakit sayang, rasanya begitu sulit untuk mengikhlaskan kepergian kamu"


Jari-jari Gavin kembali menggeser layar ponsel, membaca setiap pesan yang dulu pernah Queen kirimkan. Bahkan tak jarang Gavin mengirim pesan ke nomor itu, walau tidak akan pernah mendapatkan balasan tapi bagi Gavin ini caranya untuk melepas rindu.


Tok-tok-tok.


Pintu kamar di ketok dari luar, kemudian di dorong menampakan Mama Medina berdiri seraya membawa nampan berisi makanan untuk Gavin.


Wanita paruh baya itu berjalan, lalu meletakkan nampan itu di atas meja nakas, ia pun duduk di pinggir ranjang Gavin.


"Makan dulu nak !" ucap Mama Medini.


"Aku belum lapar Ma, hari ini aku mau ajak Queen jalan-jalan" balas Gavin.


Mama Medina menarik napas dalam, hatinya ikut merasa nyeri mendengar jawaban Gavin.


"Kamu tidak lupa kan kalau Queen udah gak ada"


Detik itu juga cairan bening itu menetes membasahi pipi Gavin, ia memang terkadang lupa kalau istrinya sudah tiada. Kepergian Queen benar-benar membuat hidupnya hancur.


"Aku kangen Ma sama Queen" lirih Gavin


"Iya sayang Mama tahu, tapi kamu jangan kek gini terus, kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu"


Memang kalau bicara begitu mudah, tapi untuk menjalani sangat sulit. Queen adalah harta berharga dalam hidup Gavin, wanita itu berhasil merubah rasa bencinya menjadi cinta yang sangat besar.

__ADS_1


__ADS_2