
Mendengar ucapan sang suami, Queen langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, dengan tatapan nyalang ia menatap Gavin.
"Dia kakak ku mas, bagaimana mungkin aku menghindarinya. Apa jangan-jangan kamu masih mencintai Nara ?" teriak Queen menggema.
"Bukan begitu Queen, Aku--"
"Tidak bisakah kamu menjalin kekeluargaan dengan Nara ?" potong Queen dengan cepat, kali ini ia menundukan kepalanya.
Gavin mengerutkan keningnya, namun sedetik kemudian ia tertawa pelan.
"Itu tidak akan terjadi Queen, harus kamu ingat dia adalah wanita yang akan menikah dengan ku dulu" jelas Gavin dan berharap istrinya akan mengerti, kalau dia dan Nara tidak mungkin bisa akur seperti yang Queen harapkan.
Queen berdiri, dan hendak meninggalkan kamar itu. Namun dengan cepat Gavin mencengkal pergelangan tangan Queen.
"Maafkan aku Queen, tolong mengertilah ! aku dan Nara tidak mungkin bisa akur seperti yang kamu harapkan, dia itu kekasihku di masalalu"
"Bohong ! Kamu menolak untuk menjalin kekeluargaan dengan Nara, karena kamu masih mencintainya kan ?"
Gavin menatap wajah Queen dengan serius, kemudian kembali berkata "Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya ?, aku sudah tak mencintai Nara lagi karena saat ini yang ada di hatiku cuman kamu"
Queen balik menatap wajah suaminya, mencari kebenaran dari setiap kata yang Gavin ucapkan.
"Aku menjauh dari Nara karena punya alasan. Aku tidak ingin kamu terluka Queen" ucap Gavin lagi, kedua telapak tangannya menyentuh kedua pipi Queen, kening mereka saling bersentuhan.
"Nara tau segalanya tentang aku, dan aku tidak ingin kamu akan membandingkan dirimu dengan Nara. Percayalah ! Aku tidak ingin menyakiti kamu lagi"
Semua ucapan Gavin ada benarnya, kalau boleh jujur Queen merasa tak tenang saat Nara kembali, ia takut suaminya akan berpaling darinya dan kembali pada Nara.
Queen membaca ketulusan di mata Gavin, ia begitu senang mendengar semuanya, tak bisa di pungkiri kalau detak jantung Queen saat ini begitu cepat.
"Terima kasih mas, karena memahami aku" ucap Queen lalu memeluk suaminya dengan erat. Senyum di wajahnya tak pernah pudar.
"Apa yang kamu lihat dari aku mas ? sehingga sekarang kamu memilihku ?" tanya Queen, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang suami.
Gavin tak menjawab, pria itu tetap menatap wajah Queen dengan intens. Jari telunjuk nya mengangkat dagu Queen kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang istri.
__ADS_1
Lama keduanya terdiam, menikmati kemesraan yang begitu membahagiakan. Akan tetapi Queen mendesah kesal saat Gavin melepaskan pagutananya, saat Queen hendak melayangkan protes Gavin justru mengangkat tubuh Queen dan menurunkan nya di atas tempat tidur.
Gavin kembali mendaratkan ciuman di bibir istrinya.
"Kamu bisa membuatku bahagia yang tak bisa di lakukan orang lain" jawab Gavin sembari tersenyum.
Mendengar jawaban sang suami, Queen begitu bahagia. Ia ingin kembali bertanya tapi apa yang di lakukan Gavin sekarang membuat Queen kehilangan kata-kata.
Bagaimana bisa Queen menolak semua ini, Gavin menyusuri leher jenjangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Sesekali pria itu menggigit leher Queen membuat wanita itu mende sah tak karuan.
Apalagi saat Gavin membelai perutnya, membuat tubuh Queen terasa menggigil.
"Apa malam ini kamu siap ?" tanya Gavin dengan suara serak menahan sesuatu, terlihat sekali kalau pria itu sudah tak bisa menahannya.
"I-ya mas" jawab Queen malu-malu.
Senyum Gavin langsung mengembang mendengar ucapan istrinya, dan tanpa menunggu lama lagi Gavin semakin liar, pria itu langsung melepaskan pakaian sang istri sampai tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh Queen.
Usai melepaskan pakaian istrinya, giliran Gavin yang melepaskan pakain nya sendiri. Queen menganga lebar saat melihat betapa indahnya tubuh sang suami.
"Aku takut mas" ucap Queen.
"Suuttt, tenanglah sayang ! aku janji akan melakukannya dengan pelan" balas Gavin seraya mengelus rambut Queen dengan lembut.
"Kata orang itu sakit sekali"
"Itu hanya awalnya saja, nanti lama kelamaan akan terasa enak"
Gavin terus meyakinkan sang istri, bahwa apa yang akan mereka lakukan nanti tidak seburuk pikiran Queen. Dengan lembut Gavin kembali mencium bibir istrinya. Li dahnya menelusuri setiap rongga mulut milik Queen.
"Mas" panggil Queen.
"Hemmmm"
"Se-karang saja !"
__ADS_1
Dengan senyum senang, Gavin mengangkat kedua kaki Queen. Membuka pa ha wanita itu dengan lebar.
"Aaaaaahhhh" Queen berteriak saat Gavin mencoba mendorong pusakanya ke tempat Queen, air mata wanita itu menetes dengan deras . Ia ingin mendorong tubuh suaminya agar kembali menjauh.
"Tenang sayang, ini tidak akan lama" bisik Gavin yang kembali mendorong pusa kanya.
"Sakit mas, aku tidak tahan lagi"
"Tahan"
Hingga dorongan ketiga pusa ka milik Gavin berhasil menerobos milik Queen, pria itu memeluk tubuh istrinya dengan kuat, mendiamkan pusa ka nya sebentar sebelum kembali beraksi.
"Apakah kamu baik-baik saja ?" tanya Gavin berbisik.
"Iya mas, sakitnya sudah mendingan"
Gavin tersenyum, ia kembali mengngkat tubuhnya dan mulai menjalankan aksi. Menghentakkan pusa kanya sampai mengeluarkan lahar panas yang akan membanjiri rahim istrinya.
Di bawah sana, Queen mengerang. Kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan dengan mata terpejam. Ini sangat nikmat menurutnya, sakit tapi membuatnya menginginkan lagi.
"Queen"
"Mas"
Ucap keduanya berbarengan, hingga satu menit kemudian Gavin terkulai lemah karena ia sudah berhasil menyemburkan lahar panas itu.
"Terima kasih sayang" ucap Gavin sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
Queen hanya menjawab dengan anggukan, napasnya masih naik turun.
"Sekarang kamu resmi milikku dan aku milikmu" kembali Gavin berucap, membuat Queen menoleh kesamping.
Wanita itu tersenyum, sekarang ia benar-benar sudah menjadi istri Gavin bukan hanya status saja. Ia berharap harapan suaminya yang menginginkan seorang anak akan segera terkabul.
"Tidurlah ! kamu pasti lelah"
__ADS_1
Queen mendekat, ia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Menempelkan wajahnya di dada sang suami. Dapat Queen dengar detak jantung Gavin yang begitu cepat.