Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Bab 42


__ADS_3

Setangkai bunga mawar merah Gavin letakkan di atas gundukan tanah itu. Bibirnya berusaha tersenyum, menguatkan hatinya bahwa ia bisa melewati hari-hari tanpa Queen.


"Assalamualaikum istriku, ini aku bawa mawar merah untuk kamu" ucapnya dengan suara pelan.


"Jika kamu nanya kenapa aku selalu bawa bunga mawar merah, karena warna merah melambangkan keberanian seperti kamu yang begitu berani ninggalin aku"


"Sayang, sesekali datang dong ke mimpi aku ! aku pengin peluk kamu !"


Lama kelamaan suara Gavin semakin parau, menahan rasa yang kian sesak yang menghantam dadanya. Tangannya menggenggam erat papan nama itu, bicara dengan makam Queen seolah memberinya sebuah ketenangan.


"Vin"


Gavin mendongakkan kepalanya, menatap wajah Nara yang terlihat sendu.


"Aku kira kamu gak bakal kesini hari ini, makanya aku kesini" Nara ikut duduk di samping pusara itu, sedetik kemudian air matanya menetes melihat papan nama bertuliskan nama sang adik.


"Aku sendiri Queen, kenapa kalian semua ninggalin aku di dunia yang kejam ini ?" tangis Nara mulai pecah, meratapi kehidupannya yang menyakitkan seperti ini.


Sekarang Nara hidup sendiri di dunia ini, sebulan setelah Queen meninggal, Harun pun menyusul. Pria paruh baya itu kecelakaan saat selesai mengunjungi makam Queen. Saat itu hujan deras, Harun terlalu kencang melajukan mobilnya hingga menabrak sebuah batang besar dan mobilnya terbalik.


"Aku mau pamit dek" ucap Nara lagi.


Gavin langsung menoleh, mendengar kata pamit yang Nara ucapkan.


"Kamu mau kemana ?" tanya Gavin.


"Aku akan ke Jerman, Aku akan tinggal dengan Tante Hesti disana. Dia yang akan menjadi ibuku" jawab Nara.


"Tolong titip Queen dan makam kedua orang tuaku, karena aku tidak tahu kapan aku akan kembali"


Gavin terdiam, ia mengerti sangat sulit jadi Nara karena kehilangan semua anggota keluarganya. Sama seperti dirinya yang kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


Setelah beberapa saat Nara kembali berdiri, meninggalkan Gavin yang masih betah di pusara sang adik.

__ADS_1


*


*


Kini kembali hanya ada Gavin disana, pria itu belum beranjak sedikitpun walau hari sudah mulai gelap. Ia terus menggenggam erat papan nama itu.


Ponsel di saku celananya terus bergetar, tapi Gavin hiraukan. Ia tahu itu adalah Mama Medina. Mungkin wanita itu khawatir karena Gavin belum pulang.


"Sakit sayang"


"Bisa gak minta sama Allah buat balikin kamu lagi"


"Aku benar-benar gak bisa hidup tanpa kamu"


Kehilangan orang yang di cintai menjadi hal terberat bagi semua orang termasuk Gavin. Ini rasanya seperti mimpi buruk yang ingin Gavin hindari.


Bulu mata indah itu mengerjap dengan dengan indah, lalu kembali memejam dalam-dalam. Memutar kembali kenangan-kenangan bersama Queen dulu. Masih teringat dengan jelas bagaimana Queen tersenyum saat menyambutnya pulang bekerja.


Dan sekarang semuanya hampa, tidak ada lagi wanita yang selalu tersenyum saat ia pulang dalam keadaan letih. Tidak ada lagi bau masakan yang menggugah selera. Dan hal yang menyakitkan tidak akan ada lagi yang akan memanggilnya dengan sebutan Mas dengan nada yang manja.


"Tidak kah kamu kasian sama aku sayang"


"Lihat sekarang, aku hancur"


Gavin ingin marah, tapi tidak tahu marah dengan siapa. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 09 malam. Tapi Gavin enggan untuk pergi, justru kini ia tidur seraya memeluk pusara sang istri dengan erat.


Lama kelamaan mata pria itu terpejam, namun tidak lama harus terbuka lagi karena merasa silau dengan cahaya yang menerpa wajahnya.


"Mas ngapain tidur di kuburan ? ini udah malam, mending mas pulang dulu, besok mas kesini lagi" ucap seorang pria yang bertugas menjaga makam itu.


"Istriku kembali Pak" jawab Gavin


"Orang yang udah pergi gak mungkin kembali Mas, belajar ikhlas supaya tidak sakit"

__ADS_1


Gavin terdiam, ia memilih berdiri dan meninggalkan pusara itu. Membuat bapak penjaga makam itu geleng-geleng kepala.


*


*


Setiba di rumah, Gavin langsung di sambut oleh Mama Medina, raut wajah penuh kekhawatiran begitu jelas terlihat.


"Kamu dari mana nak ? kenapa baju kamu kotor begini ?" tanya Mama Medina saat melihat kaos yang Gavin kenakan penuh dengan tanah merah.


"Aku habis nemenin Queen Ma, dia takut sendirian"


"Astaghfirullah" Mama Medina mengelus dadanya.


"Tolong jangan seperti ini nak ! Queen udah tenang disana, dia udah gak sakit lagi"


"Queen masih hidup Ma, dia butuh Gavin"


Mama Medina menangis, sikap Gavin benar-benar berbeda sekarang.


"Sadar sayang, Queen udah gak ada"


"Cukup Ma" bentak Gavin "Kenapa sih semua orang bilang kalau Queen udah gak ada. Dia masih ada Ma, dia datang"


Mama Medina memeluk erat tubuh putranya, ia tidak menyangka kalau Gavin akan menjadi seperti ini.


"Sakit Ma" Gavin terduduk dengan lemas di lantai.


"Iya sayang Mama tahu"


"Aku mau Queen ma, aku gak mau yang lain"..


Usai mengatakan itu Gavin tertawa dengan keras, membuat Mama Medina sakit namun juga takut.

__ADS_1


"Seperti nya kamu harus di bawah ke dokter Nak, kamu harus sembuh" gumam Mama Medina pelan.


__ADS_2