
Tidak terasa sudah hampir 3 bulan lamanya aku tinggal di perkebunan yang asri ini.
Aku sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman tinggal disini.
Bik Sumi dan keluarganya sangat baik terhadapku.
Aku juga sudah memiliki banyak kenalan disini.
Masyarakat di Perkebunan ini semua Ramah dan baik.
Aku juga jadi anggota aktif dalam ikatan ibu-ibu PKK dan Posyandu.
Tidak jarang pula aku ikut Mas Ali melihat- lihat para pekerja yang bekerja diperkebunan milik mas Ali.
Aku sungguh sangat bersyukur memiliki suami yang sempurna seperti Mas Ali.
Hari ini kami dalam perjalanan menuju kota. Mas Ali setiap pertiga bulan memang harus kekota untuk mengontrol semua para karyawan-karyawan pemasoknya.
Aku sudah tidak sabar rasanya untuk segera sampai dirumah Ayah dan Ibu.
Aku sangat merindukan mereka.
Tiba di depan rumah aku di sambut pelukan hangat Ibu dan Ayah yang telah menanti kami datang dari perkebunan.
"Bagaimana kabar kalian? " tanya Ayah pada Mas Ali sembari berjabat tangan dan memukul pelan lengan Mas Ali.
"Alhamdulillah sehat pak" jawab Mas Ali.
Kemudian kami berempat langsung menuju meja makan didapur.
"Rindu sekali dengan masakan Ibu" kataku sambil menyuap nasi kedalam mulutku.
Ibu tersenyum bahagia.
Selesai makan Mas Ali pamit untuk pergi bekerja.
__ADS_1
Aku mengantarnya kedepan pintu mobil kemudian menyalaminya.
Dia membalasku dengan mencium keningku.
Tanpa sengaja hal ini sudah menjadi kebiasaan kami berdua ketika ingin terpisah.
Aku duduk di samping Ayah yang sedang menyeruput kopi panasnya.
"Kamu betah disana nak? " selidik ayah padaku.
Aku mengangguk dan menceritakan banyak hal tentang perkebunan pada Ayah dan Ibu. Mereka ikut bahagia mendengar ceritaku dan tentang hidupku yang sekarang.
"Beberapa hari lalu Aisyah ada telepon Ibu nak" kata ibu padaku.
Aku kaget Mendengarnya.
"dia sekarang ada di Batam, mungkin bulan depan akan pulang kerumah, dia menangis meminta maaf pada Ayah dan Ibu" kata ibu lagi padaku.
Aku cuma terdiam mendengarnya.
Ada rasa takut muncul di benakku.
Takut dengan kehadiran Aisyah kembali kedalam keluarga yang akan menghancurkan hubunganku dengan Mas Ali yang baru saja aku bangun.
Aku takut Mas Ali masih mencintai Aisyah dan ingin kembali padanya.
Dan Aku takut Aisyah ingin merebut kembali posisi yang kutempati sekarang sebagai Istri Mas Ali.
Apa yang harus aku katakan pada Mas Ali? haruskah aku ceritakan tentang keberadaan aisyah pada nya? hatiku benar-benar berkecamuk.
Kami cuma menginap dua malam saja di rumah Ayah.
Hari ini kami akan kembali Keperkebunan.
Mas Ali menjalankan mobil nya pelan menuju arah tengah kota.
__ADS_1
"Mas kita mau kemana? Mas masih ada rapat lagi ya?
" tanyaku yang kebingungan.
Dia menggeleng dan tersenyum penuh misteri.
Kami tiba di depan Mall terbesar di kota ini. Dia memarkirkan mobil nya di parkiran bagian bawah.
"Mari kita berkencan ala orang kota" ajaknya sambil tersenyum.
Akupun tertawa geli mendengarnya.
Kami turun dari Mobil dan segera menuju bioskop yang ada di lantai 5 Mall ini.
Mas Ali membeli tiket film yang romantis.
Suasana bioskop tidak terlalu ramai.
Kami duduk di bangku bagian tengah bioskop dan mulai menonton sambil menikmati cemilan yang Kami beli diluar tadi.
Kepalaku kusandarkan pada bahu Mas Ali yang bidang.
Sesekali ku tegakkan kepalaku keatas untuk melihat wajah Mas Ali.
Kemudian dia mengecup wajahku bergantian. Dari kening, mata, pipi, hidung hingga bibirku.
Kami terbawa romantisnya film yang sedang kami tonton.
Selesai menonton Mas Ali mengajakku makan di restoran yang ada di dalam Mall. Aku sangat bahagia.
"Dan aku tidak ingin kebahagiaan ini di rebut oleh Aisyah" bisikku dalam hati.
Setelah makan barulah kami kembali pulang menuju Perkebunan.
__ADS_1