Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Pesta ulang tahun


__ADS_3

Tiga hari kemudian-----.


"Mas" pekik Queen yang mulai kesal "Berhenti menciumku !" katanya sambil memakaikan dasi sang suami.


"Tapi bagaimana kalau aku tidak mau, bibirmu begitu candu sayang" balas Gavin.


Queen menarik napas dalam-dalam lalu kembali memakaikan dasi suaminya, hari ini adalah pesta ulang tahun mereka atau lebih tepatnya untuk Nara. Dan Harun sangat berharap Gavin bisa datang.


Sebenarnya Gavin sangat malas bertemu dengan mertua nya itu, karena sampai saat ini Harun masih tetap membenci Queen, beruntung semlam ia sudah membuat pesta untuk istrinya karena ia yakin pesta yang sekarang di adakan hanya untuk Nara.


"Selesai, sekarang ayo pergi !" ajak Queen.


Tapi Gavin justru menahan pinggangnya, sehingga Queen tak bisa bergerak. "Aku masih ingin seperti ini sayang"


"Papa dan Nara pasti sudah menunggu kita mas" ujar Queen berusaha melepaskan tangan suaminya, tapi usaha Queen sia-sia karena cengkraman tangan Gavin semakin kuat. Dan sekarang pria itu menyusuri lehernya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Mas berhentilah ! Nanti riasanku akan berantakan" kata Queen.


"Apa riasanmu lebih penting dari pada aku sayang ?" tanya Gavin yang menyudahi aksinya, ia menatap wajah istrinya dengan intens.


Queen menarik napas panjang, ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami "nanti kita akan lanjut lagi mas, tapi sekarang kita harus pergi kerumah Papa, kasihan Nara kalau terlalu lama menunggu" ucap Queen dengan suara lembut.


Sekarang giliran Gavin yang menarik napas dalam, ia menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih lalu tersenyum sembari berkata "Baiklah sayang, ayo kita pergi"


*


*


Setiba di rumah Harun, Gavin langsung menghentikan mobilnya di depan rumah besar itu. Gavin juga membukakan pintu untuk istrinya dan membantu Queen turun dari mobil. Lengan Gavin melingkar di pinggang sang istri.


"Aku menyesal karena menyuruhmu memakai gaun ini, kau terlihat sangat seksi sayang" bisik Gavin di telinga istrinya.


"Berhentilah menggodaku mas ! Ini gaun yang sama dengan Nara" balas Queen.


Saat tiba di dalam rumah yang sudah di dekorasi dengan bagus, Nara langsung menyambut kedatangan Queen dan Gavin. Wanita itu juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Queen seperti biasanya.


Hanya Harun yang tidak, dan Queen sudah terbiasa akan hal itu. Walau ia masih sangat mengharapkan sang Papa mengucapkan selamat ulang tahun seperti yang ia lakukan pada Nara.


"Ayo naik ke atas panggung ! Kita tiup lilinnya sama-sama" ajak Nara.


Queen menggeleng dengan cepat, jika ia melakukan itu otomatis Harun akan semakin membencinya.


"Kamu saja Ra ! Aku titip doa yang sama dengan mu" balas Queen lirih, cairan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Baiklah, sekali lagi selamat ulang tahun adikku"


Setelah itu Nara naik ke panggung, wanita itu begitu cantik dengan gaun berwarna maroon seperti yang Queen pakai saat ini, hanya saja Queen memakai warna pink.


"Selamat ulang tahun putriku, semoga panjang umur dan sehat selalu, papa menyayangimu selamanya"


Dada Queen terasa amat sesak saat menyaksikan adegan ini, hampir setiap tahun ia merasakan hal ini, Selalu tak di anggap apa-apa oleh sang Papa.


"Menangislah jika kamu mau melakukannya ! sekarang ada pundakku tempatmu bersandar" ucap Gavin yang menyadari kesedihan istrinya.


Queen menoleh, ia hampir saja melupakan suaminya itu. Sekarang ia tak sendiri karena ada Gavin yang mencintainya dengan tulus.


"Boleh aku kesana sendiri mas ?" tanya Queen.


"Kenapa tidak denganku sayang ?"


Queen tersenyum "Hanya sebentar mas, lagian Nara akan tiup lilin, papa akan mencarimu"


Gavin menatap istrinya, terlihat sekali kalau wanita itu sedang sedih.


"Aku tunggu disini sayang"


"Iya mas"


Seeperti tahun-tahun sebelumnya, Queen duduk sendiri di tepi kolam. Matanya menatap air jernih nan tenang itu. Hingga perlahan air matanya menetes dengan deras.


"Papa, bisakah sekali saja papa mengucapkan kalimat itu padaku" gumam Queen lirih.


*Tes...


Tes*.


Dua tetes darah berada di telapak tangannya, Queen terkejut ia semakin penasaran kenapa ia sering sekali mimisan seperti ini.


"Walau kamu matipun Papa tidak akan menyayangimu"


Ucapan Harun waktu itu kembali terngiang di ingatannya.


"Apa mungkin ucapan Papa waktu itu di kabulkan tuhan ?" batin Queen.


Dara segar itu semakin banyak menetesi telapak tangannya, Queen sengaja tak mendongakan kepalanya ia ingin melihat seberapa banyak dara itu akan menetes.


Namun lama kelamaan tubuh Queen mulai melemah, wajahnya pucat bagaikan mayat hidup.

__ADS_1


*


Sementara di pesta semua orang tampak bahagia, saat ini Gavin berdiri tepat di samping Nara yang akan meniup lilin. Orang-orang bernyanyi dengan penuh kegembiraan tak ada yang tau bagaimana kondisi Queen saat ini.


"Potongan pertama untuk Papa" ucap Nara setelah meniup lilin dan memotong kuenya. Ia menyuapkan kue itu kepada Harun.


"Terima kasih nak, semoga panjang umur" kata Harun sambil mencium kening Nara dengan penuh kasih sayang.


"Potongan kedua untuk Queen" Mata Nara melihat sekitar, ia baru menyadari kalau Queen tidak ada di antara puluhan orang itu.


"Mana Queen ?" tanya Nara pada Gavin.


"Dia tadi ingin sendiri" balas Gavin yang sebenarnya mulai mengkhawatirkan istrinya, ia terpaksa berdiri disamping Nara karena paksaan Harun.


"Kemana ?"


Gavin menunjuk kemana Queen berjalan, dan Nara sudah tau dimana Queen berada.


"Sudahlah sayang jangan hiraukan dia ! Lebih baik kue nya kau berikan pada Gavin" sahut Harun yang kesal.


"Tidak bisa Pa, kue ini tetap untuk Queen. Selama ini Queen banyak berkorban untukku, dan aku sering membuatnya menderita" balas Nara, ia ingat cerita Queen kalau dulu Gavin sering menyiksanya.


Nara berjalan meninggalkan panggung, menuju kolam renang karena disana tempat favorit Queen. Padahal Queen tidak bisa berenang tapi entah kenapa wanita itu sangat menyukai tempat itu.


"Queen" pekik Nara saat melihat adiknya tergeletak begitu saja di atas lantai.


Kue yang ia pegang langsung di lempar begitu saja, ia berlari mendekati Queen. Matanya membulat saat melihat hidung Queen sudah kering dengan darah. Sementara pakaian dan telapak tangan Queen di penuhi dengan warna merah.


"Apa yang terjadi Queen, bangunlah !" teriak Nara, ia duduk dan mengangkat kepala adiknya lalu ia tidurkan di atas paha.


"Gavin, tolong Queen" teriak Nara dengan kencang, berharap Gavin akan mendengar teriakannya.


"Queen bangunlah ! Ini ulang tahun kita"


Tidak berapa lama Gavin datang, pria itu cukup terkejut dengan kondisi istrinya saat ini.


"Apa yang terjadi Ra ?" tanya Gavin panik, ia mengambil alih hendak menggendong istrinya.


"Tidak tau Vin, saat aku kesini Queen sudah seperti ini" jawab Nara yang sudah menangis.


"Tidak usah panik, dia pasti hanya pura-pura" sahut Harun yang berdiri di ambang pintu, tak ada raut kekhawatiran di wajah pria itu.


Saat itu juga tatapan Gavin berubah tajam.

__ADS_1


__ADS_2