
Selesai dirias Aku dibimbing menuju pelaminan oleh bukde dan Ibuku.
Kami berjalan menuju pelaminan sambil terisak.
Sangat berat terasa langkah kakiku.
Tubuhku terasa melayang antara sadar dan tidak.
Aku duduk di sebelah Mas Ali yang berhadapan dengan Bapak penghulu yang sudah siap untuk menikahkan kami.
"Aku terima nikahnya Alisya Ayudia Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas senilai 2 gram dibayar tunai" kata Mas Ali dengan sekali ucap dan di sah kan oleh saksi serta penghulu yang ada di depan kami.
" barakallah.. " kudengar Bapak penghulu menutup acara pernikahan kami dengan memanjatkan doa.
Selesai bedoa kami di minta berhadapan. Mas Ali mengangkat seperangkat Alat sholat dan memberikan nya padaku.
Lalu melingkarkan cincin emas seberat 2gram kejari manisku.
Aku pun mencium telapak tangan nya sebagai tanda pengabdian seorang istri terhadap suaminya.
Kemudian kami melakukan sungkem kepada kedua orang tua kami serta keluarga yang hadir.
Disusul tetangga dan teman yang hadir untuk menyaksikan Akad nikah.
Tepat di depanku sekarang berdiri Mas Fahri yang menatapku penuh kecewa dan berlalu begitu saja setelah menyalami kami.
Hatiku hancur seketika dan aku jadi sangat membenci Aisyah yang kabur dan tindak bertanggung jawab sama sekali.
karna dirinya sekarang aku harus rela jadi pengantin pengganti dan menikah dengan lelaki yang tidak aku kenal sama sekali.
__ADS_1
Kemudian di susul oleh Mia yang langsung memelukku dan kami terisak berdua.
Dia menguatkanku.
"Ini adalah takdirmu Ca. Aku doakan smoga kalian bahagia. Kamu pasti Kuat" katanya sambil memelukku.
Di jabatnya tangan Mas Ali .
"Tolong jaga Ica, dia adalah sahabatku, aku sangat mengenalnya, dia wanita yang sangat baik. Aku yakin kamu beruntung mendapatkan nya. aku doakan kalian bahagia" ujar Mia pada Mas Ali.
Mas Ali hanya membalasnya dengan sedikit senyuman.
Tepat jam 12 .30 acara pun selesai.
Para tamu juga sudah tidak ada lagi.
Tentu saja menggosipkan pernikahan ini.
Aku masuk kedalam kamarku, kuhapus semua riasan di wajahku dan segera mengerjakan shalat dzuhur.
Lalu aku rebahkan badanku d tempat tidur dan tertidur.
Ketika Aku terbangun kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.20 wib.
Kuraih jilbabku dan menuju dapur karna aku sudah sangat lapar.
Aku duduk di samping bukde dan mencicipi kue yang ada di meja makan.
"Tadi ayahmu mencari mu loh nduk. " kata bukde.
__ADS_1
"Kenapa bukde? " tanyaku balik.
"Mertuamu tadi pamitan mau pulang ke hotel untuk istirahat. Karna kan besok resepsi jadi mereka mau istirahat dulu. Tapi kamu nya malah asik molor di kamar. Suami mu juga sepertinya belum makan itu, baiknya kamu siapkan hidangan dan ajak dia makan sekalian. " ujar bukde lagi.
"sekarang itu kamu sudah jadi istri nya Mas Ali. dan kamu punya kewajiban untuk melayani nya sebagaimana mestinya seorang istri melayani suaminya. karna kalau tidak maka ALLAH akan melaknat mu. apa kamu mau dilaknat ALLAH? " tanya bukde lagi.
Aku menggeleng.
"Ya gak mau dong bukde. Takut ah. Bukde bahasan nya tinggi banget. Yaudah aku siapkan makan dulu kalo gitu" kataku sambil menyiapkan makan lalu pergi mencari Mas Ali.
Kulihat dia dikamar Aisyah sedang duduk di pinggir ranjang sembil memegang hanphone nya. dengan pelan kuketuk pintu kamar dan kulihat dia menoleh.
"Mas Ali udah makan siang? kalau belum mari kita makan" ujarku dengan sangat gugup.
"Saya sudah makan tadi dengan ayah dan pakde di teras depan" ujarnya sambil kembali menatap layar hp nya.
"Oh baiklah" kataku lalu pergi menuju dapur dengan langkah yang agak di percepat. dan tiba-tiba selera makanku pun hilang.
Setelah makan malam semua kembali ke kamarnya masing-masing.
bukde dan pakde juga masuk ke kamar tamu. Ayah dan Ibu juga kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Tinggal aku yang kebingungan.
Apakah aku harus kembali ke kamarku atau kekamar Aisyah? aku masih duduk di teras dengan fikiran yang benar-benar benar tidak karuan.
Lalu aku memutuskan untuk tidur dikamarku.
Dan membiarkan Mas Ali sendirian di Kamar Aisyah.
__ADS_1