
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur.
Aku gelisah dan takut menanti pagi.
"Apa yang harus Aku lakukan? Aku tidak siap menghadapi semua ini" bisikku lirih dalam hati.
Terdengar dari ruang keluarga bunyi dentang jam dinding yang memberikan isyarat bahwa sekarang sudah pukul 4.00 pagi.
Pelan Aku keluar dari kamar.
Kukemas beberapa pakaianku dan barang-barang penting kedalam ransel berwarna biru.
Aku keluar menuju pintu rumah lalu kabur menuju kontrakan Mia.
Kuketuk pintu rumah kontrakan Mia beberapa kali.
Terdengar suara langkah dari dalam rumah
"siapa diluar? " tanya Mia dari dalam.
"Aku Mi... Ica" jawabku.
Mia segera membuka pintu rumahnya dan mengajakku masuk kedalam.
"Kenapa subuh begini kamu kemari Ca?" tanya nya padakku.
Kujawab pertanyaan nya dan menceritakan semua yang sudah terjadi padaku sambil menangis sesungukan.
__ADS_1
Ica menenangkanku dengan membawakanku segelas Air hangat.
"Pergilah cuci wajahmu lalu istirahat. besok pagi kita fikirkan jalan keluarnya bersama. OK? " katanya lagi padaku.
Aku mengangguk tanda setuju.
kurebahkan tubuhku di samping Mia lalu membelakanginya menghadap tembok. Aku makin gelisah mengingat sebentar lagi akan pagi.
Kuambil handphone ku, lalu kikirim pesan untuk Mas Ali:
"Mas maafkan Aku, ternyata Aku tidak sanggup menghadapi semua ini. Aku mengizinkanmu menikah dengan Aisyah tapi maaf Aku tak akan sanggup untuk menyaksikan nya. Jadi kuputuskan untuk pergi. Titip salam maaf untuk Ibu dan Ayah juga untuk keluargamu. maaf Aku sudah mengecewakan semuanya."
Dan pesan pun terkirim.
Setelah itu kumatikan handphone ku agar tidak ada yang bisa menghubunginya.
"Makasih Mi, kamu memang sahabat terbaikku." Kataku pula pada Mia.
"Aku akan pergi hari ini, Aku ingin ketempat Bukde dan Pakdeku di kampung untuk menenangkan diri.
Saat ini Aku butuh ketenangan agar bisa berfikir jernih" ujarku pada Mia lagi.
"Aku akan mengantarmu ke terminal sebelum berangkat kerja ya" kata Mia pula padaku. Aku mengangguk pelan.
Aku Naik Bus menuju kampung halaman Ayah tempat Bukde dan Pakdeku tinggal.
Hati ku benar-benar terasa sakit.
__ADS_1
Air mataku tidak berenti menetes.
Aku memandang lurus keluar jendela sambil membayangkan hari-hariku berikutnya yang akan terasa sangat berat.
Aku sampai di rumah Pakde dan Bukde jam 16.10 Wib.
Bukde menyambutku dengan bahagia. Sementara Pakde masih di sawah kata Bukde menjelaskan.
Malam harinya setelah makan kami berbincang bertiga.
"Maafkan Ica ya Pakde dan Bukde, Ica jadi merepotkan Pakde dan Bukde. Ica butuh waktu sementara untuk menenangkan diri disini" jelasku pada mereka.
Mereka membalasku dengan senyuman.
"Tinggal lah disini selama Kamu Mau, Pakde dan Bukde tidak akan pernah merasa keberatan. Tapi kalau Pakde boleh kasih saran, apapun masalahmu dengan suami sebaiknya di selesaikan bukan nya kabur nak" Kata Pakde menasihatkan.
"Nanti setelah merasa tenang dan punya kekuatan penuh, pasti Ica pulang untuk menyelesaikan semua masalah yang ada Pakde. " kataku lagi pada nya.
Dia mengangguk dan menyuruhku untuk kekamar beristirahat.
Kutatap langit-langit kamar dengan mata sendu.
Terbayang semua yang sudah terjadi.
Knapa semua bisa jadi begini? sakit sekali rasanya.
"Aku mencintaimu Mas... sangat mencintaimu.. Maafkan Aku Mas, Aku benar-benar tidak siap membagi dirimu dengan wanita lain sekalipun itu adikku sendiri. Dari awal pernikahan kita, Aku memang hanyalah Wanita pengganti yang mengambil posisi Aisyah dalam hidupmu. Dan mungkin sekarang adalah waktu nya untuk Aku kembalikan posisi itu pada Aisyah sebagai pendampingmu. Karna Aku bukanlah pengantin pilihanmu" Bisikku dalam tangis yang tak terbendung.
__ADS_1