
Sementara itu setelah dari kantor Gavin, Nara langsung menuju rumah sakit. Bukan tanpa alasan ia datang kerumah sakit sekarang, tadi sang dokter menghubunginya kalau hasil pemeriksaan sampel dara Queen sudah keluar.
Waktu itu saat Queen dan Gavin menginap di rumah usai tragedi Queen pingsan, secara diam-diam Nara mengambil sampel dara Queen saat adik nya sedang tidur siang. Ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Queen.
Tepat di parkiran rumah sakit, Nara menghentikan mobilnya. Wanita itu turun dan berjalan dengan anggun memasuki rumah sakit.
"Permisi, ruangan dokter Vanya dimana ?, saya sudah ada janji dengan beliau" tanya Nara sekaligus menjelaskan maksud kedatangannya.
"Disana mbak, silahkan masuk saja. Saat ini dokter Vanya sedang tidak ada pasien karena memang waktunya istirahat"
Nara menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju ruangan dokter Vanya.
"Permisi dok" sapa Nara setelah membuka pintu ruangan.
"Iya, silahkan duduk ?" dokter Vanya tersenyum ramah.
"Bagaimana hasilnya dok ?, adik saya baik-baik saja kan ?"
Dokter Vanya menatap Nara dalam, ia sebenarnya heran dengan nama pasien nya saat ini, soalnya sama persis dengan nama pasien yang ia periksa tadi pagi. Dan hasil pemeriksaan mya juga sama. Tapi dokter Vanya tidak akan membahas itu, mungkin saja memang kebetulan sama.
"Menurut hasil pemeriksaan adik anda menderita leukimia stadium akut" dokter Vanya berkata dengan pelan.
Mendengar hal itu reflek Nara menutup mulutnya yang tak sengaja terbuka, di susul dengan jatuhnya air mata, pantas saja selama ini Queen selalu mimisan, ternyata adik nya itu sedang menderita penyakit mematikan.
"Apa dokter yakin ?"
"Kami sudah melakukan pemeriksaan berulang, dan hasilnya tetap sama"
Kepala Nara menggeleng, berusaha untuk tidak menerima kenyataan pahit ini.
"Kenapa harus Queen ?, kenapa tidak aku saja ?, selama ini Queen sudah menderita karena kelakuan Papa"
Betul memang, kenapa harus Queen yang menerima takdir buruk ini ?, sejak kecil wanita itu terus terluka karena kebencian Harun.
"Apa penyakit adik saya bisa di sembuhkan dok ?"
"Insya Allah bisa"
__ADS_1
"Bagaimana caranya ?"
"Harus ada yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang pada dia, biasanya kedua orang tuanya ada yang cocok"
"Kalau saya gimana ?, apa sum-sum tulang belakang saya cocok ?, soalnya kami berdua kembar"
"Kemungkinan ada kecocokan, nanti kita periksa dulu"
Nara sangat berharap kalau dirinya cocok, karena Nara rela mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Queen.
*
*
Habis dari rumah sakit Nara langsung menuju rumah, ia bergegas menemui sang Papa yang saat ini ada di ruang kerjanya.
"Pa" wanita itu masuk dengan tergesa, membuat Harun mengernyit bingung
"Ada apa Ra ?, apa terjadi sesuatu ?" tanya Harun heran.
"Gawat apanya ?, coba jelaskan sama Papa !"
Nara menarik napas panjang sebelum kembali berkata "Queen sakit Pa, dia sakit leukimia"
Harun terdiam, ia menatap wajah putrinya itu. Terlihat sekali kalau Nara begitu cemas dan juga khawatir.
"Baguslah, Papa harap dia cepat pergi"
"Papa" Tak sengaja Nara memukul meja membuat Harun terperanjat.
"Queen juga anak Papa, saat ini dia sakit parah. Bisa gak sih sedikit saja Papa peduli sama dia, Queen butuh Papa sekarang"
Mata Harun kembali menatap Nara "Papa sibuk, dan Papa tidak mau membuang waktu hanya untuk mengurus anak sampah itu"
Nara benar-benar tidak percaya dengan sikap Harun, ia tidak bisa membayangkan bagaimana di posisi Queen saat ini.
"Kalau Papa tidak mau peduli sama Queen, aku yang akan peduli sama dia, semoga saja sum-sum tulang belakang aku cocok dengan Queen"
__ADS_1
"Terus kamu mau apa kalau cocok ?" tanya Harun geram. Walau di pikiran nya sudah bisa menebak apa yang akan Nara lakukan.
"Aku yang akan mendonorkan nya buat Queen, dia berhak bahagia"
Mendengar hal itu Harun begitu marah, kedua rahangnya mengeras. "Jangan sekali-kali kamu mencoba melakukan itu Nara, karena sampai kapanpun Papa tidak akan setuju"
"Aku tidak butuh persetujuan Papa" bentak Nara dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Harun.
Tapi baru saja selangka Nara kembali berbalik saat mendengar rintihan Harun yang seperti menahan sakit. Nara mendekat lalu memegangi kedua pundak sang Papa.
"Papa kenapa ? apa nya yang sakit ?" tanya Nara
"Papa tidak apa-apa, ini sudah biasa Papa rasakan" balas Harun.
"Sudah biasa ?, apa Papa sudah memeriksakan kondisi Papa kerumah sakit ?"
Harun menggeleng, ia terlalu di sibukkan dengan pekerjaan sehingga tidak punya waktu untuk memeriksakan kondisi tubuhnya. Padahal Harun sudah sering merasakan sakit di bagian perutnya.
"Nanti periksa sama Nara, aku tidak mau Papa kenapa-napa" ujar Nara sambil berjalan menuntun sang Papa menuju kamar.
"Iya nak" pria itu kembali meringis, telapak tangannya terus berada di atas perut.
Dengan pelan Nara menidurkan Harun, menarik selimut untuk menutupi tubuh Harun. Wajah pria itu sudah pucat dengan peluh yang membanjiri keningnya. Mungkin karena menahan rasa sakit.
"Atau aku panggil dokter saja Pa ?" usul Nara, ia tidak tega melihat sang Papa seperti ini.
"Boleh nak" balas Harun yang hanya menurut.
*
*
"Bagaimana keadaan Papa saya dok ?" tanya Nara setelah dokter Faisal selesai memeriksa keadaan Harun. Tadi saat Nara menghubunginya pria itu langsung datang kerumah.
"Sebaiknya bawa papa anda kerumah sakit saja !, sepertinya penyakit yang pak Harun derita cukup serius"
Rasanya pertahanan tubuh Nara terhenti saat itu juga, hari ini ia mendapat kabar menyakitkan dua sekaligus.
__ADS_1