
Langka kaki Queen begitu tergesa-gesa saat menyusuri lorong rumah sakit. Bahkan ia meninggalkan sang suami setelah selesai menanyakan dimana ruang rawat Harun pada resepsionis.
"Nara"
Panggilan itu membuat wanita yang saat ini duduk sendiri seketika mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum pada saudara kembar nya yang baru saja tiba.
"Bagaimana keadaan Papa ?" Tanya Queen, wajahnya terus memancarkan raut penuh kekhawatiran.
"Kata dokter, Papa terkenal gagal ginjal" jawab Nara dengan suara tersedat.
Detik itu juga air mata Queen menetes dengan deras. Sejahat apapun sikap Harun selama ini, tetap saja Queen sangat menyayangi pria itu.
"Terus kata dokter apalagi ?" Queen kembali menatap Nara.
"Papa harus menerima donor ginjal. Karena salah satu ginjal Papa sudah tidak berfungsi"
"Aku mau menemui Papa dulu" Queen berdiri hendak memasuki ruangan bernuansa putih itu. Namun langkahnya langsung terhenti saat mendengar panggilan sang suami.
"Kamu tega sekali ninggalin aku" gerutu Gavin secara mencebikkan bibirnya.
Queen terkekeh, ia lantas mendekati sang suami "maafkan aku suamiku, tadi aku begitu panik karena Papa masuk rumah sakit"
"Tidak mau"
Kening Queen mengernyit "jadi kamu tidak mau memaafkan aku ?"
"Iya, sebelum kamu memberiku ciuman"
Reflek Queen memukul lengan Gavin, bagaimana bisa Gavin mengatakan hal itu saat ada Nara di sisi mereka. Diam-diam Queen melirik Nara untuk melihat ekspresi gadis itu, namun nyatanya Nara bersikap biasa saja.
"Ayo beri aku ciuman !" Gavin mendesak seraya mendekatkan pipinya ke arah Queen.
"Ini di rumah sakit Mas, dan aku mau melihat keadaan Papa"
"Huh, baiklah. Tapi lihat saja nanti malam aku akan menghabisimu"
Glekk.
Queen menelan salivanya susah payah, ucapan sang suami membuat bulunya meremang. Masih teringat oleh Queen bagaimana ganas Gavin saat bermain di atas ranjang bersamanya.
__ADS_1
*
*
Ruangan nuansa putih itu terasa sangat hening saat Queen, Gavin dan Nara masuk. Di atas pembaringan tampan seorang pria paruh baya dengan mata tertutup. Wajah nya yang pucat berhasil membuat sepasang anak kembarnya menjerit dalam tangis.
Sungguh Queen dan Nara tidak sanggup melihat pemandangan ini. Harun yang biasanya tegas tapi sekarang terbujur kaku dan tak berdaya.
"Permisi"
Mendengar suara seseorang, ketiganya langsung menoleh. Pria yang memakai jas kedokteran tampak tersenyum ramah.
"Saya dokter Vendri, yang menangani Bapak Harun"
Gavin menganggukkan kepalanya, tadi saat ia tiba di rumah sakit. Gavin langsung menemui pemilik rumah sakit untuk memanggil seorang dokter terbaik yang akan merawat Ayah mertuanya. Walau ia membenci pria itu karena terus memperlakukan Queen dengan buruk. Tapi Gavin tidak tega melihat istri kesayangannya bersedih.
"Apa pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor ginjal untuk mertua saya " tanya Gavin.
"Belum Tuan, bukan hal yang mudah untuk mencari pendonor ginjal."
"Ambil ginjal saya dok, saya yang akan mendonorkan ginjal untuk Ayah saya"
"Aku tidak setuju sayang, kita cari pendonor yang lain saja" Gavin langsung menyahut dengan ekspresi tanpa bisa di tebak.
Mata yang sejak tadi terus menetes kan air mata menatap sang suami. "Aku tidak mau Papa kenapa-napa mas, mungkin jika aku mendonorkan ginjal, Papa akan sayang sama aku" Queen terbata-bata walau dalam hatinya berkata lain.
"Aku cuman ingin memberi yang terbaik untuk Papa sebelum Tuhan mencabut nyawaku" tentu saja itu hanya Queen ucapkan dalam hati, karena sampai kapanpun Queen akan merahasiakan penyakitnya dari Gavin.
"Beri aku waktu sayang, aku akan segera mencari pendonor yang cocok untuk Papa, tolong jangan kamu. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa" suara Gavin terdengar serak, sepertinya pria itu begitu takut jika istrinya akan benar-benar mendonorkan ginjal untuk Harun.
"Biar aku saja" sahut Nara, ia yang memang sudah mengetahui penyakit yang di derita Queen tidak mungkin mengizinkan adiknya kenapa-napa.
Kini semua tatapan tertuju pada Nara. Dokter Vendri sejak tadi menyimak.
"Aku dan Queen kembar, kami semua anak kandung Papa. Pasti ginjal aku cocok untuk Papa" Nara mendekati dokter Vendri.
"Nanti kita periksa dulu" balas dokter Vendri
Beberapa saat kemudian terdengar suara yang keluar dari mulut Harun. Membuat semua orang menoleh dan menatap pria itu. Dokter Vendri langsung memeriksa kondisi Harun.
__ADS_1
"Apa yang bapak rasakan sekarang ?" Tanya dokter Vendri, setelah Harun benar-benar membuka matanya.
"Perut saya sakit dok, sakit sekali" Harun meringis membuat Nara dan Queen ikut merasa sesak.
"Saya akan memberikan obat pereda sakit nanti"
"Memangnya saya sakit apa dok ?"
Dokter Vendri segera menjelaskan apa yang di derita Harun. Pria paruh baya itu hanya terdiam sembari menyimak.
"Papa tenang saja, aku akan mendonorkan ginjal aku supaya Papa kembali sehat"
Ucapan Nara membuat Harun menoleh, ia berusaha tersenyum pada gadis kesayangan nya itu.
"Jangan nak, Papa tidak setuju. Lagian Papa ini sudah tua biarkan saja Papa pergi"
"Tapi Nara masih sangat membutuhkan Papa"
Harun kembali tersenyum, hingga matanya teralihkan menatap Queen dan membuat senyuman di wajah Harun lenyap seketika. Entah kenapa setiap menatap Queen ia terus teringat dengan istrinya.
"Kenapa wanita sampah ini ada disini" Harun mendengus kesal.
Queen tersentak, tak terasa kakinya mundur beberapa langka.
"Aku cuman ingin melihat keadaan Papa" balas Queen lirih. Bahkan suaranya yang pelan nyaris tak terdengar.
"Cih, aku tidak perlu di lihat olehmu. Pergilah ! Karena aku merasa sakit saat melihatmu"
Air mata Queen terus menetes dengan deras. Bahkan dalam keadaan sakit pun Harun tetap membencinya.
"Aku bilang pergi ! Ya pergi !" Kali ini Harun membentak membuat Gavin mengepalkan kedua tangannya.
"Niat Queen baik Pa, dia sayang sama Papa. Tapi ini balasan Papa" Gavin berusaha meredam emosinya.
"Saya tidak sudi di sayang oleh wanita sampah seperti dia, sampai mati pun saya akan membenci dia karena dia penyebab wanita kesayanganku pergi untuk selamanya"
Tidak tahan mendengar hal itu Queen langsung meninggalkan ruangan Harun dengan sedikit berlari.
"Queen" Gavin langsung mengejar, tapi sayang Queen terlalu cepat berlari hingga Gavin tidak bisa menemukan.
__ADS_1
"Dimana kamu sayang" gumam Gavin