Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 18: Honeymoon yang tertunda


__ADS_3

Kami sampai di Malaka jam 13.45 waktu Malaysia.


Di bandara sudah menanti seorang supir pribadi kelurga Mas Ali yang akan mengantar kami ke rumah orangtua Mas Ali di Pontian, Malaysia.


Kurang lebih satu atau dua jam perjalanan kami tiba di depan sebuah rumah besar dengan pagar sangat tinggi mengelilingi nya.


Di sepanjang pagar bagian depat terdapat deretan tanaman pohon cemara yang tinggi.


Aku takjub melihatnya.


Pak supir membunyikan klakson mobil memberi tanda pada satpam untuk membuka gerbang pagar.


Di depan pintu rumah, Mama menyambut kami dengan pelukan hangat.


"Assalamualaikum Mam" sapa Mas Ali sembari mencium dan memeluk Mamanya.


"waalaikumsalam sayang" jawab mama nya lembut.


"Ayo Masuk, Oma sudah menunggu kalian dari tadi" kata mama pada kami sembari membimbingku dan Mas Ali menuju dapur.


Terlihat Oma didapur sedang menyiapkan makan siang dengan di bantu oleh dua orang asistennya.


Melihat kami datang Oma Langsung memeluk Mas Ali dengan erat.


"Ali rindu sekali dengan Oma" ujar Mas Ali pada Oma.


Oma lalu mencium kening nya dan mengelus pipi kanan Mas Ali.


"Assalamualaikum Oma" sapaku pelan.


"Waalaikum Salam Sayang" katanya mengelus kepalaku.


"Cantik sekali kamu, pintar ya Ali milih istri" kata Oma lagi sambil memelukku.


Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pujiannya.

__ADS_1


Setelah bercengkrama Oma mengajak kami makan siang bersama, dia sudah mempersiapkan nasi briani kesukaan Mas Ali.


Aku duduk di tepi ranjang mengoleskan handboy ketubuhku sambil memperhatikan wajahku di cermin meja rias yang berhadapan tepat pada sisi sebelah kiri ranjang.


Kudengar samar-samar langkah kaki Mas Ali mendekat menuju pintu kamar kami.


Dia duduk di sampingku lalu memelukku dan menghujani leherku dengan ciuman yang membuat tengkukku merasa geli.


"Aroma tubuhmu ini selalu membuatku bergairah" katanya sambil terus mencium jenjang leherku.


"Masss.. geliii.. " kataku sambil tertawa kecil, dan dia tidak perduli.


"Mas.. kunci dulu pintu kamarnya, dan matikan lampunya" kataku lagi padanya yang sudah mulai membuka kancing baju piayamaku.


Dia berdiri kearah pintu, menguncinya lalu mematikan lampu dan kemudian melompat kearahku yang sudah terbaring diatas kasur siap menerima permainan nakalnya.


Aku dan Mas Ali duduk di kursi bagian belakang Kapal Fery yang mengantar kami menuju pulau Langkawi.


Dari kejauhan terlihat patung burung elang besar yang menjadi icon di pulau ini.


Hari ini kami melihat indahnya Langkawi menggunakan kereta gantung gunung matt cincang dan menonton bioskop 6D yang berada tidak jauh dari tempat itu.


Setelah sore Mas Ali mengajakku menuju hotel untuk beristirahat.


Malam hari nya Mas Ali mengajakku makan malam romantis di pinggir pantai yang tidak jauh dari hotel.


Aku sangat bahagia dan terharu.


Setelah makan malam kami langsung kembali kehotel untuk beristirahat.


Kubuka pintu balkon kamar hotel lalu berdiri di tepi pagarnya yang berwarna cokelat. terdengar samar dari kejauhan suara ombak yang bergulung-gulung.


Angin semilir terasa sejuk menyapaku pagi ini dengan cuaca yang cerah.


Aku sontak kaget ketika Mas Ali datang memelukku dari belakang.

__ADS_1


"pagi sayang" sapanya padaku sambil mencium lembut tengkuk belakangku.


"pagi Mas" kataku sambil membalikkan wajah kearahnya.


Mas Ali lalu menyuruhku memejamkan mata, kuturuti permintaan nya dengan rasa penasaran.


Aku merasakan jari mas Ali mendekat kebagian leherku dan mengalungkanku sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang dihias permata kecil di tengahnya.


Cantik sekali.


Aku memelukknya erat dan lama.


"makasih Mas" kataku dengan mata berkaca-kaca.


Dia menciumku pelan, lalu menggendongku kearah tempat tidur.


Kami menikmati pagi dengan gairah yang sangat indah.


Tujuan kami hari ini adalah pulau lumba-lumba yang ada di langkawi.


Dari tengah laut kami makan siang sambil menikmati indahnya pemandangan pulau langkawi menggunakan kapal blue dolphin yang telah disewa oleh Mas Ali.


Di iringi suara ombak dan angin semilir yang menyapa, kami terus saling berpelukan seperti perangko yang melekat pada amplop surat.


Dihari yang ketiga di pulau langkawi, kami habiskan bermain di sepanjang pantai dengan berenang, snorkling, dan terakhir naik bananaboat.


Lalu Kami menikmati sunset sambil berbaring dan berpelukan diatas ayunan yang terbuat dari tali kekang dan di ikat kuat pada kedua pohon kelapa.


Mas Ali berdiri tegak menghadap kearah Pantai


"Alisya... I Love U.. Aku mencintaimu" teriaknya kencang-kencang.


Aku tertawa bahagia lalu akupun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh nya.


"Mas Ali... Aku juga mencintaimu... " teriakku sekuat tenaga.

__ADS_1


__ADS_2