
Pagi-pagi sekali Gavin sudah mendatangi rumah sakit, dengan langka malas ia memasuki kawasan yang menurutnya sangat membosankan. Kalau bukan karena paksaan Nara, ia enggan untuk datang kerumah sakit, karena pikirannya saat ini hanya untuk mencari sang istri.
"Akhirnya kamu datang juga" ucap Nara dengan senyum lebar di wajahnya.
Gavin mendengus kesal kemudian menjawab "Apa Papa sudah masuk keruang Operasi ?"
"Sudah, sekitar 15 menit yang lalu"
"Lalu dimana pendonor ginjalnya ?"
"Kata dokter Vendri orang itu merahasiakan semuanya, dia tidak ingin kita mengetahui identitas orang itu"
Dari sana Gavin menemukan keganjalan, seseorang dengan suka rela mendonorkan ginjal pada Harun itu rasanya sangat mustahil. Hanya orang bo-doh yang mau melakukan itu, pikir Gavin.
Sesaat kemudian tubuh Gavin menegang saat pikirannya mulai mencerna sesuatu, namun dengan cepat ia menggeleng.
"Jangan-jangan itu Queen, dia menghilang hanya untuk mendonorkan ginjal untuk Papa nya". batin Gavin.
Pria itu menunju ruang operasi, berusaha mengintip pada pintu kaca yang tidak akan mungkin bisa di tembus oleh indera penglihatannya.
"Kamu kenapa Vin ?" tanya Nara heran saat melihat kelakuan Gavin.
"Aku ingin melihat siapa pendonor itu" jawab Gavin.
"Percuma Vin, kamu tidak akan bisa melihat keadaan di dalam, karena pintu itu tertutup rapat"
Gavin menarik napas panjang, ia berharap apa yang ada di pikirannya tidak akan pernah terjadi. Karena kalau sampai Queen mendonorkan ginjalnya ia tidak akan memaafkan Harun.
Tidak berapa lama seorang suster keluar dari ruang operasi, dengan sigap Nara mendekat untuk bertanya.
"Apa operasi Papa saya sudah selesai sus ?"
"Belum, lagi dalam tindakan.. Bantu doa saja semoga operasi nya berjalan lancar"
__ADS_1
Nara mengangguk, lalu kembali duduk di tempatnya semula. Memang itu yang ia harapkan, operasi sang Papa berjalan lancar hingga kelak Harun bisa membantu nya mencari Queen.
2 Jam kemudian operasi sudah selesai, dokter mengatakan kalau keadaan Harun baik-baik saja. Pria paruh baya itu hanya membutuhkan perawatan sedikit dan bisa pulang beberapa hari lagi.
Tentu saja kabar itu membuat Nara bahagia, ia bahkan memeluk tubuh Gavin dengan erat sebagai ungkapan rasa syukur.
"Coba kalau Queen ada disini, dia pasti senang lihat Papa sembuh" ucap Nara.
"Dan aku harap bukan Queen yang membuat Papa sembuh seperti ini" balas Gavin
Nara langsung terdiam, menatap wajah Gavin dengan intens "Apa maksud kamu Vin ?"..
"Coba kamu pikir ulang Ra, mana ada orang yang mau dengan suka rela mendonorkan ginjal untuk Papa. Dan sekarang Queen menghilang, tapi tidak lama Queen hilang ada yang mendonorkan ginjal untuk Papa kamu" jelas Gavin menggebu
"Astaga" Nara menutup mulutnya karena terkejut, kenapa selama ini ia tidak berpikiran sampai sejauh ini. Mungkin saja pendonor ginjal itu adalah Queen.
"Kalau memang itu Queen, kita cari dia. Aku yakin Queen berada di rumah sakit ini"
Gavin mengangguk tanda setuju, keduanya langsung menuju resepsionis.
"Iya silahkan"
"Apa di rumah sakit ini ada pasien atas nama Queenara Gantari ?"
"Sebentar saya cek dulu"
Sang Resepsionis itu segera mengecek nama-nama pasien, detak jantung Gavin berdegup kencang. Ia masih sangat berharap istrinya tidak ada di rumah sakit itu.
"Betul, atas nama Queenara Gantari ada di dalam daftar pasien"
"Sebutkan, di ruangan mana dia sus !" sahut Gavin menggebu
"Di kamar VVIP nomor 03, lantas atas"
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi, Gavin segera berlari untuk segera menuju ruang VVIP yang tadi resepsionis itu sebutkan. Pikirannya benar-benar kacau.
Langka kaki Gavin harus terhenti seketika saat melihat Hesti dalam keadaan panik, wanita itu mondar-mandir di depan ruangan VVIP yang tadi resepsionis sebutkan.
"Tante" panggil Gavin dengan suara serak.
Hesti langsung menoleh, ia terkejut saat melihat Gavin sudah berdiri di hadapannya. Tatapan sayu yang Gavin tunjukan membuat Hesti merasa bersalah.
"Dimana istriku Tan ?"
Hesti masih terdiam, entah dengan cara apa ia menjelaskan pada Gavin, kalau Queen baru saja selesai operasi pendonoran ginjal, dan keadaan wanita itu kritis karena tubuhnya tidak mampu bertahan hanya dengan satu ginjal, di tambah Queen mengidap leukimia.
"Jawab tante !" bentak Gavin menggema.
"Hes" Belum sempat Hesti menjawab, panggilan dokter Vanya membuat semuanya menoleh, begitupun dengan Gavin.
"Ada apa Dok ?" tanya Hesti "Bagaimana Queen ?, dia baik-baik saja kan ?"
Dokter Vanya menggeleng lemah, membuat Gavin semakin menggila.
"Jawab dok !, bagaimana keadaan istriku ?" lagi-lagi Gavin membentak.
"Queen kritis, tubuhnya tidak bisa bertahan hanya dengan satu ginjal. Apalagi kanker itu mulai menjalar keseluruh tubuhnya"
Mendengar hal itu kedua tangan Gavin mengepal, tanpa memperdulikan keberadaan Dokter Vanya dan Hesti, Laki-laki itu langsung memasuki ruangan Queen, yang ternyata disana sedang ada dokter Vendri.
Mata Gavin memanas, menahan cairan bening yang sebentar lagi akan menetes. Di atas brankar sana wanita yang sangat ia cintai sedang terbaring lemah dengan mata tertutup. Beberapa alat kesehatan menempel di tubuhnya membuat Gavin tidak tahan.
"Sayang" Gavin mendekat, memberikan satu ciuman di kening Queen.
"Bangun sayang !"
Dokter Vendri menatap Gavin dengan sedih.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan pria itu, dia harus merasakan apa yang kamu rasakan"