Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Pergi untuk selama-lamanya


__ADS_3

Braakk.


Suara pintu yang di buka dengan kencang membuat Harun terperanjat, pria itu menatap nanar sang menantunya yang di selimuti amarah.


"Puas kau Hah ?.. Ini kan yang kau inginkan" bentak Gavin menggema.


"Apa maksud kamu Vin ?, Papa tidak mengerti"


"Cih" Gavin membuang ludah kesembarang arah "Jangan pura-pura bodoh !, jika saja kau bukan pria yang sangat di sayangi istriku, sudah ku pastikan kau mati mengenaskan"


Tubuh Harun menegang, ia tahu betul bagaimana sikap Gavin. Pria itu pasti akan melakukan apapun jika ada yang berani membuatnya marah. Tapi untuk kali ini Harun benar-benar tidak tahu kenapa Gavin marah besar padanya.


"Papa benar-benar tidak tahu Vin, Papa berani bersumpah"


"Cukup !" kembali Gavin membentak "Sekarang aku minta kembalikan ginjal istriku !, kau tau setelah dia mendonorkan ginjalnya, istriku kritis, tubuhnya tidak mampu bertahan"


Kedua bola mata Harun membulat dengan sempurna, ia tidak menyangka Queen lah yang menolongnya saat ini. Padahal sejak kecil ia tidak pernah menganggap Queen sebagai anak. Bahkan ia berharap Queen mati saja.


Tanpa terasa air mata Harun menetes begitu saja, membuat Gavin merasa muak. Ia sangat membenci pria itu tidak peduli kalau Harun Ayah mertuanya sendiri.


Menurut Gavin... Harun tidak pantas di panggil Ayah oleh wanita sebaik Queen.


"Kembalikan ginjal istriku !, aku tidak mau kehilangan dia !" Pertahanan tubuh Gavin hilang seketika, sekarang tubuh tegap itu terduduk di lantai dengan cairan bening meleleh di pipinya.


"Kasihani dia !, saat ini dia sedang sakit keras tapi dia lebih mementingkan hidup mu dari pada hidupnya sendiri.. Apa sedikitpun tidak ada rasa sayang untuknya darimu sebagai Ayah ?"


Harun terus saja terdiam, bayangan saat ia menyiksa Queen dulu kembali melintas layaknya sebuah film. Bahkan Harun pernah membuang Queen di jalanan namun entah kenapa wanita itu berhasil pulang sendiri padahal dulu umur Queen baru lima tahun.


Harun juga pernah menyiram tangan Queen dengan air panas, saat itu Queen ingin membuatkan kopi untuk Harun. Namun karena Harun membenci Queen ia dengan sangat kejam menyiramkan air panas yang baru saja di angkat dari kompor.


Tapi semua kekejaman yang telah ia lakukan, tak membuat Queen membencinya. Wanita itu terus menyayangi Harun dengan segenap jiwa raganya.


"Putriku...." ucap Harun lirih.


"Aku ingin bertemu putriku" sambungnya lagi.


Gavin kembali berdiri dari duduknya, menatap Harun dengan sangat tajam "Untuk apa kau ingin bertemu Queen ? kekejaman apalagi yang akan kau lakukan ?"


"Papa ingin menebus kesalahan Papa Vin, tolong antarkan Papa ke ruangan Queen."


Entah kenapa sulit rasanya Gavin harus percaya pada ucapan Harun. Mengingat bagaimana sikap Harun selama ini.

__ADS_1


"Ambil sum-sum tulang belakang Papa supaya Queen sembuh"


Belum sempat Gavin menjawab, pintu ruangan kembali di buka. Di susul kemunculan Nara dengan napas terengah-engah.


"Vin, Queen sadar. Dan dia nyariin kamu" ucap Nara terbata-bata.


"Queen ku" Gavin langsung berlari meninggalkan ruangan Harun.


Setiba di ruangan sang istri, Gavin berusaha membalas senyuman Queen. Wajah Queen yang sangat pucat membuat Gavin tidak tahan.


"M-a-s" panggil Queen dengan suara lemah.


"Jangan banyak bicara sayang !" balas Gavin yang kini sudah berdiri di brankar sang istri.


"Ma-af kan a-ku mas !"


"Aku tidak akan memaafkan kamu, jika kamu tidak sembuh"


Pipi Queen sudah basah karena air mata, ia merasa bersalah karena tidak berunding dulu dengan Gavin. Tapi kalau Queen jujur sejak awal Gavin pasti tidak akan setuju, makanya Queen memilih menghilang.


"S-a-k-i-t" Queen merintih, membuat Gavin terasa sangat sesak.


"Dok lakukan sesuatu ! istriku kesakitan" ucap Gavin pada dokter Vanya.


"Lakukan cara lain dok ! anda kan dokter"


"Jalan satu-satunya mencari seseorang yang akan mendonorkan sum-sum tulang belakangnya"


"Saya yang akan mendonorkan sum-sum tulang belakang saya dok"


Semua orang menoleh, Harun duduk di kursi roda yang di dorong oleh Nara.


"Ambil sum-sum tulang belakang saya ! dan selamat kan putriku" sambung Harun lagi.


"Apa anda serius ?" tanya Gavin.


"Iya Vin, Papa sadar sekarang kalau Queen tidak bersalah. Dia sama dengan Nara yang tidak mengerti apa-apa tentang kematian Istriku. Selama ini Papa begitu di selimuti kebencian sehingga tidak merasakan bagaimana sayangnya Queen"


Air mata Queen semakin deras sejak kemunculan sang Papa tadi, ia berusaha membalas senyuman Harun yang saat ini menatap ke arahnya.


"Pa-pa" panggil Queen

__ADS_1


Nara kembali mendorong kursi roda itu, sehingga Harun kini di samping ranjang putrinya. Tangis Harun semakin pecah, rasa bersalah itu semakin besar.


"Maafkan Papa sayang !, maafkan Papa !" ucapnya terisak .


"Aku sayang Papa" balas Queen.


"Papa juga sayang banget sama kamu, maafkan Papa sayang !"


Harun hendak berdiri dan dengan sigap Gavin membantu, kini pria paruh baya itu duduk di atas ranjang putrinya. Memeluk tubuh lemah Queen dengan sangat erat.


"Papa sakit" kembali Queen merintih membuat Harun dan yang lainnya menangis.


"Dok, lakukan operasinya sekarang !" pinta Harun.


"Tidak bisa secepat itu Pak, kita harus memeriksa dulu apa sum-sum tulang belakang Bapak cocok untuk Queen"


"Pasti cocok, aku Ayahnya"


Harun semakin mendekap tubuh Queen dengan erat, tidak tahan dengan rintihan putrinya yang menahan sakit.


"Ma-ma" tiba-tiba Queen berucap seperti itu, membuat semua orang saling pandang.


"Papa peluk aku !"


"Iya nak, ini sudah Papa peluk erat"


Gavin semakin tidak tahan, ia menggenggam tangan sang istri dengan erat, hingga tiba-tiba tangan itu terkulai lemah membuat detak jantung Gavin berdegup kencang.


"Queen" panggil Gavin.


Harun mengangkat kepala Queen, mata itu sudah terpejam dengan damai. Sementara senyum di bibirnya tak pernah pudar sedikitpun.


"Nak..." panggil Harun "Bangun Nak !"


Dokter Vanya dengan sigap memeriksa keadaan Queen, sedetik kemudian ia tertegun.


"Tidak mungkin" gumam dokter Vanya.


"Kenapa dok ? apa yang terjadi pada adik saya ?" sahut Nara yang sejak tadi diam


"Queen sudah pergi ninggalin kita semua"

__ADS_1


"Apa... ?"


__ADS_2