
Aku dan Bik Sumi lagi membuat beberapa macam kue untuk menyambut kedatangan Mama dan Papa mertuaku besok.
Ini adalah kunjungan pertama mereka ke perkebunan setelah Aku dan Mas Ali menikah.
Kusambut Mama dan Papa dengan pelukan hangat.
"Bagaimana keadaanmu sayang? " tanya Mama mertuaku.
"Alhamdulillah Ma Udah baikan" jawabku sambil menggandeng Mama masuk kedalam rumah.
Kami berbincang-bincang santai sambil menikmati kue yang kemarin aku buat bersama Bik Sumi.
"Maaf ya Mama sama Papa Baru sempat berkunjung, soalnya kerjaan Papa disana baru bisa di tinggal, dan Oma juga baru selesai Kemoterapi minggu kemarin". kata Papa pada kami.
"Gak apa Pa, Lagi pula kemarin waktu Alisya sakit Ibu dan Adik nya datang kemari buat merawat Alisya" jawab Mas Ali pula.
"Yuk kekamar..! Mama ada oleh-oleh buat kamu" kata mama semberi menggandeng tanganku menuju kamar tamu.
Sudah empat hari lamanya Mama dan Papa ada di Perkebunan.
Besok mereka akan pulang kembali ke Malaysia.
__ADS_1
Setelah makan malam, Mas Ali dan Papa kembali keperkebunan karna ada kerjaan penting yang harus mereka selesaikan sebelum Papa ke Malaysia.
Aku terbangun ketika ku dengar suara Mas Ali yang sepertinya sedang marah di ruang kerjanya.
Aku keluar karena penasaran.
Kuintip dari celah pintu ruang kerja yang tertutup rapat.
Kulihat Mas Ali duduk menjambak rambutnya, sementara Mama ada disampingnya membelai lembut punggungnya.
"Aku gak mau Pa, ini ide gila, lagi pula anak itu kan rejeki dari ALLAH, kami akan terus berusaha agar bisa memiliki anak lagi. " kata Mas Ali sambil menatap Mama nya.
"Tapi mau sampai kapan? Mama dan Papa sudah tua Ali, Oma apalagi, dia ingin sekali bisa menimang cicit sebelum ajal menjemputnya, begitupun Mama dan Papa" kata Mama pula padanya.
Aku kaget mendengar ini semua.
Aku kembali ke kamar sambil menahan isak tangis.
Pagi ini aku akan berusaha seperti biasanya, menganggap diriku tidak mendengar pembicaraan mereka semalam.
Kulayani Mama dan Papa juga Mas Ali sarapan pagi.
__ADS_1
Lalu Mas Ali dan Papa ke perkebunan sebentar sebelum Papa diantar kebandara.
Aku masuk kedalam kamar tamu dan membantu Mama merapikan koper nya.
Kami duduk di tepi ranjang.
Mama memegang tanganku erat.
Aku tersenyum.
" Ada yang ingin Mama sampaikan, mungkin hal ini akan menyakiti Ica, tapi Mama yakin Ica adalah wanita yang baik, wanita sholeha, dan sangat mencintai Ali" . ujar mama menatapku.
Aku mulai merasa gugup sekali.
"Mama dan Papa juga Oma sangat sayang dengan Ica, tapi kami butuh penerus keturunan nak. Ali adalah harapan kami satu-satu nya cuma dia yang kami miliki, dan ketika kami tau kalai Ica di vonis akan sulit untuk punya anak lagi kami smua sangat bersedih. Harapan kami jadi hancur nak. Maka dari itu Mama mohon dengan sangat, izinkan Ali menikah lagi nak. Kami sudah biradakan hal ini semalam dengan nya dia menolak karna dia sangat mencintai Ica, tapi Mama sangat berharap Ica mengerti keadaan keluarga ini. " Kata mama sambil memelukku yang menangis terisak.
Aku bingung dan tidak tau harus berbuat apa.
Kembali terngiang permohonan mama padaku.
Hatiku semakin sakit.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku bisa membagi suamiku denga wanita lain" kataku dalam hati.