
Di dalam kamar mandi yang pintunya tertutup rapat, Queen terduduk dengan air mata mengalir deras. Wanita cantik berwajah pucat itu terisak dengan perasaan sakit.
Ucapan sang Papa selalu membuat luka terbaru dalam hidupnya, bahkan dalam keadaan sakit seperti ini saja Harun masih sangat membencinya.
"Aku sayang sama Papa, walau Papa tidak pernah sayang sama aku" ucapan itu terbata-bata dari bibirnya.
"Papa tenang saja, aku yang akan menyembuhkan Papa. Aku janji akan mendonorkan ginjal aku buat Papa"
Sementara itu Gavin masih berkeliling rumah sakit dengan perasaan khawatir, sampai saat ini ia belum menemukan dimana istrinya berada.
"Sialan" Gavin memukul udara di hadapannya, kesal bercampur khawatir kini ia rasakan.
"Gara-gara laki-laki tua itu, Queen sampai menghilang"
"Awas saja kalau terjadi apa-apa sama Queen, aku tidak akan memberimu ampun"
Melihat ada sebuah bangku kosong, Gavin mendudukkan diri disana. Ia merasa lelah karena sejak tadi berkeliling mencari sang istri. Kepalanya tertunduk sambil menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Saat Gavin tengah larut dalam pikirannya, tiba-tiba kedua tangan melingkar di leher pria itu. Gavin terkejut ia mendongakkan kepalanya.
"Sayang" ucap Gavin saat mengetahui kalau itu adalah istrinya.
"Kamu ngapain disini sayang ?" tanya Queen, ia melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher Gavin kemudian ikut duduk di sebelah sang suami.
"Astaga, kamu kemana saja sayang ? aku dari tadi mencari kamu"
Queen tersenyum "Aku gak kemana-mana mas, tadi aku ke toilet"
Kedua mata Gavin menatap wajah pucat Queen, ingin rasanya pria itu memeriksakan kondisi sang istri. Ia sangat penasaran kenapa akhir-akhir ini istrinya seperti orang sakit keras.
"Kamu baik-baik saja kan ?" Gavin kembali bertanya.
"Iya mas, aku baik-baik saja... Jangan khawatir !!"
Sebagai pria yang sangat mencintai, mana mungkin Gavin tidak akan khawatir. Bukan baru ini ia melihat istrinya dengan wajah pucat bagai mayat hidup..
*
*
*
Dua hari kemudian.....
Hari ini Queen pergi ke salonnya, ia ingin melihat bagaimana keadaan salon nya akhir-akhir ini..
"Mbak Queen baik-baik aja kan ?" tanya Vania.
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja, memangnya ada apa Van ?"
"Wajah mbak sedikit pucat, aku takut mbak sakit"
Queen tersenyum kecut. Padahal sebelum pergi tadi ia sudah memoles wajahnya dengan make up yang cukup tebal agar wajah pucat itu tidak terlihat. Tapi tetap saja semua itu tidak bisa Queen tutupi..Walau ia sudah sering minum obat dari dokter.
"Ya sudah ini catatan yang mbak minta, aku mau ke depan dulu" Vania menyerahkan sebuah buku pada Queen.
"Terima kasih Vania"
"Sama-sama mbak"
Setelah kepergian Vania, segera Queen memeriksa pemasukan dan pengeluaran salonnya itu. Namun semua itu Queen hentikan sejenak saat hidungnya mencium aroma parfum yang tidak asing baginya.
"Selamat siang Sayangku"
Queen mengangkat kepalanya, di hadapannya saat ini ada Gavin yang berdiri sambil tersenyum manis padanya. Queen pun membalas senyuman Gavin.
"Siang Mas, kenapa kamu ada disini ?" tanya Queen seraya mengangkat sebelah alisnya.
Saat Gavin hendak menjawab, tiba-tiba Vania berlari dengan tergesa-gesa ke arah Queen.
"Maafkan saya mbak Queen, tadi saya sudah melarang mas ini untuk masuk. Tapi dia bilang kalau dia suami mbak" ucap Vania, dia memang belum tau tentang pernikahan Gavin dan Queen.
"Tidak apa-apa Vania" balas Queen tersenyum hangat "Dia memang suamiku" sambung Queen lagi.
"Tolong tinggalkan kami !" pinta Queen.
"Baik mbak"
Setelah kepergian Vania..... Gavin kembali mendekat lalu duduk di atas meja kerja sang istri.
"Apa mas tidak punya pekerjaan lagi ? sampai harus datang kesini ?" Queen kembali duduk di kursinya.
"Tentu saja aku banyak kerjaan sayang, tapi pekerjaanku masih bisa di atasi yang lain. Aku sengaja kesini untuk memotong rambut ku" jawab Gavin.
Queen menatap rambut sang suami, memang sudah terlihat panjang dan bagian depannya akan segera menutupi mata.
"Aku akan memotongnya, tapi kamu harus membayar nya dengan harga fantastis" ucap Queen
Gavin tertawa terbahak-bahak "Berapapun yang kamu minta akan aku bayar sayang" balas Gavin seraya menarik kedua tangan istrinya agar mendekat. Tanpa aba-aba Gavin mendaratkan ciuman di bibir ranum sang istri.
Sesaat keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan, Queen bahkan sudah melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Tapi beberapa detik kemudian Queen tersadar kalau saat ini mereka sedang berada di salon, segera Queen menyudahi ciumannya sebelum Vania melihat.
"Sekarang ayo keluar, aku akan memotong rambutmu" ajak Queen usai mengatur detak jantungnya yang begitu cepat berdetak akibat ciuman sesaat tadi.
"Baiklah, mau model apa potongannya sayang ?" tanya Gavin berjalan beriringan dengan istrinya.
__ADS_1
"Sebaiknya di gundul saja"
"Yang benar saja sayang, kalau di gundul kegantengan aku akan hilang"
Queen tekekeh, mana mungkin ia akan memotong rambut suaminya sampai gundul. Membayangkan saja sudah membuat Queen ingin tertawa keras.
"Ayo duduk !" pinta Queen setelah menarik kursi di depan sebuah cermin.
"Tapi jangan sampai gundul !" ucap Gavin yang mulai takut jika istrinya benar-benar akan menggundulkan kepalanya.
"Tidak sayang, percaya sama aku"
*
*
*
Queen mendaratkan ciuman di pipi Gavin setelah menyelesaikan tugasnya memotong rambut. Detik itu juga mata Gavin terbuka karena sejak Queen memotong rambutnya ia tertidur pulas.
"Sudah selesai sayang ?" tanya Gavin.
"Hemmm" Balas Queen, karena saat ini ia tengah menyisir rambut Gavin bagian belakang.
Gavin melihat penampilannya saat ini, ia merasa kagum karena hasil potongan istrinya begitu bagus dan rapih.
"Bagaimana bagus kan ?" tanya Queen, seraya merapihkan lagi beberapa gunting yang tadi ia gunakan.
"Bagus ,aku sekarang jadi lebih tampan. Jadi aku bisa cari cewek lagi" jawab Gavin menggoda sang istri.
Reflek Queen memukul lengan suaminya, merasa cemburu dengan ucapan Gavin tadi.
"Aku hanya bercanda sayang" Gavin tertawa saat melihat istrinya dalam mode marah.
"Aku gak suka candaan mu" balas Queen dengan serius, ia menatap Gavin dengan tajam.
"Maafkan aku sayang !, sumpah aku gak ada niat sedikitpun untuk mencari wanita lagi. Karena bagiku saat ini memilikimu adalah anugerah terindah" Kedua tangan Gavin mengambil kedua tangan Queen, lalu mendekatkan kedua tangan itu ke bibirnya.
"Jangan coba-coba cari perempuan lain, karena kalau sampai kamu melakukan itu, aku tidak akan segan-segan menguburmu hidup-hidup"
Gleek .
Gavin menelan saliva berkali-kali, ucapan istrinya terasa menakutkan.
"Hehe, tidak akan sayang"..
Queen meraih tas nya, lalu beranjak pergi meninggalkan sang suami.
__ADS_1
"Hei sayang tunggu aku !!" teriak Gavin