Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 23: Calon Istri Untuk Suami


__ADS_3

Aku benar-benar jadi uring-uringan semenjak kejadian kemarin.


Tiap kali mengingat permintaan Mama mertua, aku kembali menangis.


Aku terpuruk.


Nafsu makanku pun menghilang.


Setelah melakukan shalat isya berjamaah, Mas Ali merebahkan kepalanya di pangkuanku yang masih duduk di atas sajadah.


Kulihat dia memejamkan mata sambil memijit perlahan kepalanya.


Ku usap rambutnya pelan, mataku terasa begitu hangat, tak bisa kubendung lagi kepedihan ini.


Aku menangis lalu memeluk nya erat.


Diciumnya keningku lembut.


"Kamu kenapa sayang? kok menangis? " tanya nya padaku.


Aku masih menangis dan memeluknya lebih erat lagi.


Ku kumpulkan kekuatanku untuk Berbicara padanya.


"Ica ridho dan mengizinkan Mas Ali untuk menikah lagi Mas. " kataku dengan mata terpejam.

__ADS_1


Mas Ali kaget mendengar ucapanku.


"Jangan ngawur kamu, jangan berfikir yang aneh, Mas tidak mungkin melakukan itu semua, Mas cuma mau sama kamu selamanya apapun yang terjadi" katanya menahan amarah.


"Ica tau Mas cinta sama Ica, Ica juga sangat mencintai Mas Ali, karena itulah Ica tidak bisa egois pada Mas. Kemungkinan Ica untuk bisa hamil lagi itu sangar kecil,!! Mas adalah harapan satu-satu nya dalam keluarga ... sebagai penerus keturunan. Ica tidak mau karna keegoisan Ica keluarga besar Mas hancur!!" kataku sambil bercucuran air mata.


Mas Ali diam, lalu bangkit berjalan keatas tempat tidur meninggalkanku yang masih duduk di atas sejadah menangis terisak.


Hari ini Aisyah datang keperkebunan sesuai permintaanku.


Kemarin Aku telepon ibu meminta izin agar Aisyah mau ke perkebunan untuk menemaniku karna Aku merasa tidak enak badan.


Kusambut Aisyah dengan pelukan hangat.


Aisyah yang merupakan sosok periang dan ramah tentunya sangat mudah untuk bisa dekat dengan siapapun, termasuk Mas Ali yang memang merupakan mantan calon suaminya.


Kubiarkan dia menyapa dan menyajikan makan malam untuk Mas Ali meskipun Aku sedikit cemburu.


Lalu ketika Mas Ali memintaku membuatkan kopi untuknya, aku kembali meminta Aisyah untuk melakukannya dengan alasan Aku masih kurang enak badan.


Aku akan memberi ruang untuk mereka agar kembali saling jatuh cinta sehingga Mas Ali mau menikahi Aisyah.


Menurutku Aisyah lah yang pantas menjadi istri kedua bagi Mas Ali dari pada Mas Ali harus menikah dengan gadis pilihan orangtuanya yang tidak ku kenal.


Aisyah adalah adikku yang merupakan mantan calon istri Mas Ali, jadi mungkin memang sudah saatnya ku kembalikan Mas Ali padanya.

__ADS_1


Karna aku hanyalah pengganti dirinya.


Mas Ali merasakan perubahan sikapku yang seolah-olah menghidar darinya.


Dia duduk disisku sambil mengamatiku yang sedang mengoleskan lotion malam keseluruh tubuhku.


"Apa kamu benar-benar ingin Aku menikah lagi? " katanya padaku.


Aku diam tak menjawabnya.


"Mas tau, kamu sedang berusaha mendekatkan Mas dengan adikmu kan? " katanya lagi padaku.


"Baiklah jika itu memang mau nya kamu, Mas akan turuti. Bulan depan Mas akan meminta izin pada orangtuamu agar bisa menikahi Aisyah seperti permintaanmu. Dengan satu syarat jangan pernah minta cerai pada Mas, apapun yang terjadi kamu akan selalu jadi istri Mas". katanya lagi dengan menatap dalam mataku yang basah berlinang air mata.


Aku cuma bisa mengangguk.


Hatiku terasa sangat sakit.


"Bisakah aku merelakan nya? berbagi suami dengan adikku sendiri?? "Aku menangis dalam pelukannya.


Di sekanya air mataku dengan jarinya yang dingin di kecupnya pelan kedua mataku yang sembab. Lalu turun ke hidungku dan bibirku kemudian menuju jenjang leherku.


Kami menikmati malam dalam rasa yang haru biru.


"Aku sungguh mencintaimu Mas.." ujarku pelan.

__ADS_1


__ADS_2