Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Episode 8 : Malam Pertama di Hotel


__ADS_3

Resepsi berlangsung dengan sangat meriah. Tamu yang datang juga begitu banyak.


Acara selesai tepat pada pukul 16.30.


Ibu dan Ayah beserta keluargaku yang lain kembali kerumah.


orang tua Mas Ali dan keluarga nya pun kembali menuju kamar hotel masing-masing. Begitupun aku dan Mas Ali.


Malam ini kami menginap di hotel yang indah ini.


Sebagai kado dari pihak hotel untuk pernikahan kami.


Aku duduk di depan meja rias sambil membersihkan wajahku dengan kapas dan pembersih muka yang aku bawa dari rumah. Ku lepaskan satu persatu accesoris yang ada di badanku lalu meraih resleting gaun yang kukenakan agar bisa aku ganti dengan baju piyama yang santai.


"Aku harus bergegas mengganti bajuku sebelum Mas Ali selesai mandi" kataku dalam hati.


Tapi resleting gaun ini seperti nya tersangkut sehingga tidak bisa aku lepaskan sama sekali.


Mas Ali keluar dari kamar mandi dan mengenakan piyama nya yang berwarna hijau tosca, sementara aku tetap saja tidak bisa melepaskan gaun yang aku pakai ini.


Aku menyerah dengan kesal.


kulihat Mas Ali duduk santai di shofa yang berhadapan dengan TV lalu menghidupkannya dan menonton sambil meminum Air dingin yang dia ambil dari kulkas kecil di tepi shofa.


"kamu mau tidur dengan gaun itu? gak gerah? gak mau ganti baju ya? " tanya Mas Ali padaku yang duduk kesal menghadap cermin pada meja rias ini.


"tentu saja aku ingin mengganti pakaian ku, hanya saja aku tidak dapat membuka gaun ini, sepertinya resleting baju nya tersangkut" ujarku pelan.


Diapun bangkit dari duduknya mendekatiku yang membelakanginya.

__ADS_1


Perlahan diturukan nya resleting gaun ku sampai pada bagian bawah punggungku.


Aku cuma bisa memejamkan mata. Menikmati dingin dan kokohnya tangan Mas Ali ketika menyentuh bagian belakang pundakku.


Bulu kudukku berdiri semua.


Setelah menurunkan reslsting gaunku diapun kembali menuju shofa Tempatnya duduk tadi.


Kuraih handuk lalu menuju kamar mandi dan segera membasahkan tubuhku yang terasa remuk karna resepsi tadi siang.


Ku cuci rambutku yang panjang dengan shampo yang kubawa dari rumah.


segar sekali rasanya.


Aku keluar dari kamar mandi setelah mengenakan piyama tidurku dan menutup rambutku yang setengah basah dengan handuk kecil yang di sediakan oleh hotel.


Aku duduk di meja rias lalu mengenakan make up tipis dan sedikit lipstik serta mengoleskan body lotion pada beberapa bagian tubuhku dan kemudian menyemprotkan sedikit parfum pada bagian leherku yang cukup jenjang.


Kulihat Mas Ali berdiri menuju pintu dan membukanya.


Seorang roomboy mengantarkan makanan kedalam kamar dan kemudian pergi setelah diberi tips oleh Mas Ali.


"Ayo makan" ajak Mas Ali sambil meletakkan smua masakan di meja yang terletak di depan shofa tempatnya duduk.


Aku duduk di samping nya dengan malu-malu.


Dia menatapku cukup lama.


Ini adalah first time dia melihat rambut panjangku yang tergerai rapi dengan bagian yang kujepit kebelakang.

__ADS_1


Karna sebelumnya aku mengenakan jilbab untuk menutupi kepalaku.


Dia tersenyum dan kembali menghadap ke arah makanan yang ada di depan kami.


" banyak sekali Mas" ujarku.


"Aku tidak tau makanan kesukaanmu, jadi ku pesan beberapa menu spesial yang disajikan hotel malam ini. Tadi nya mama dan papa ingin mengajak kita makan malam diluar bersama, tapi aku tolak karna aku tau kamu pasti capek setelah seharian melayani tamu yang hadir pada resepsi tadi. Jadi aku pesan saja makanan untuk di antar kekamar" ujarnya sembari mencicipi kepiting saos tiram yang sepertinya sangat lezat.


"Makasih ya Mas" kataku sambil meletakkan sepotong Ayam bakar madu di piringku dan menikmatinya.


Kami sama-sama tersenyum.


malam ini jadi malam pertamaku tidur bersama Mas Ali.


Kami berdua menghabiskan malam dengan berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.


Kami sepakat untuk menerima kenyataan kalau kami sekarang adalah suami istri.


Dia berjanji akan berusaha membuka hatinya dan menjadi suami yang terbaik untukku. Begitupun aku sebaliknya.


Lalu kami tidur dengan bantal guling sebagai sekat diantara kami berdua.


Aisyah akan sangat menyesal seandainya dia tau sifat Mas Ali sesungguhnya.


Sosok suami yang sempurna menurutku.


Tampan, berkharismatik dan sangat pengertian.


"Sempurna!" bisikku dalam hati sambil melirik ke arahnya yang sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Akupun mulai berfikir kalau Aku adalah wanita yang beruntung bisa menjadi istrinya. walaupun aku hanyalah pengantin pengganti dan bukanlah pengantin pilihannya.



__ADS_2