Bukan Pengantin Pilihan

Bukan Pengantin Pilihan
Pendonor Ginjal


__ADS_3

Di sebuah ruangan bernuansa putih, seorang wanita cantik tengah terbaring lemah di atas ranjang. Beberapa saat kemudian dokter Vanya dan Hesti memasuki ruangan, membuyarkan lamunan Queen yang sejak tadi terdiam.


"Bagaimana dok, apa saya bisa mendonorkan ginjal saya untuk Papa ?"


Dokter Vanya dan Hesti serempak menarik napas panjang, dua hari yang lalu Queen menemui dokter Vanya untuk mendiskusikan tentang dirinya yang ingin mendonorkan ginjal untuk sang Papa.


"Sayang, coba kamu pikirkan dulu kesehatan kamu, lihat keadaan kamu saja memprihatinkan, tapi kamu malah ingin mendonorkan ginjal kamu" ucap Hesti dengan lembut.


"Aku sayang sama Papa, tante... Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Papa" balas Queen dengan air mata menetes.


"Lagi pula sebentar lagi aku akan pergi, jadi sebelum aku meninggalkan semuanya, aku ingin memberi kebahagiaan untuk Papa, siapa tau nanti Papa akan sayang sama aku"


Hesti tak kuasa menahan tangisnya, ia tahu betul bagaimana kehidupan keponakannya selama ini. Sikap Harun yang pilih kasih dan selalu menyalahkan Queen. Padahal Queen tidak tahu apa-apa, bukan keinginan dia jika sang Mama pergi untuk selama-lamanya.


"Jangan bicara seperti itu sayang ! Kamu akan sembuh, tante akan melakukan apa saja untuk pengobatan kamu" balas Hesti.


Queen menatap dokter Vanya sembari tersenyum "Bagaimana dok, apa hasil pemeriksaannya sudah keluar ?"


"Sudah, dan ginjal kamu bisa di donorkan untuk pak Harun"


Queen tersenyum senang, sebentar lagi Sang Papa tidak akan merasakan sakit lagi, pikir Queen.


"Kapan operasinya di laksanakan dok ? Saya ingin Papa saya segera sembuh"


"Secepatnya, tunggu instruksi dari dokter Vendri"


"Tapi tolong jangan sampai ada yang tau ini, cukup kita saja"


Hesti tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan Queen sudah bulat untuk mendonorkan ginjalnya pada Harun, laki-laki yang harusnya menjadi perisai tapi justru memberikan rasa sakit bertubi-tubi untuk Queen .


*


*


*


Dokter Vendri menjelaskan pada Nara dan juga Harun kalau ada yang akan mendonorkan ginjalnya. Senyum Nara mengembang karena Harun akan segera sembuh sehingga bisa membantu ia dan Gavin mencari Queen.


"Siapa yang sudah bersedia mendonorkan ginjal nya untuk Saya dok ?" Tanya Harun lagi.


"Mohon maaf pak, dia tidak ingin identitasnya di ketahui, katanya ini sebagai ucapan terima kasih untuk bapak"

__ADS_1


Harun terdiam, di pikirannya itu pasti salah satu karyawan di kantornya. Begitupun dengan Nara yang berpikiran hal serupa.


"Terus kapan operasinya akan di laksanakan dok ?" Tanya Nara menggebu.


"Besok pagi, jadi persiapkan diri anda pak" jawab dokter Vendri


"Baik dok" sahut Harun.


Tidak berapa lama dokter Vendri keluar dan menuju sebuah ruangan dimana Queen berada, sebuah ruangan VVIP yang di pesan langsung oleh Hesti.


Dokter Vendri mengatakan kalau operasi akan di laksanakan besok, ia juga menyuruh Queen bersiap dan menjaga kesehatannya.


Sedangkan di kamar Harun, pria itu begitu senang karena ada orang baik yang mau mendonorkan ginjalnya.


"Kira-kira siapa ya Pa pendonor itu ?" Tanya Nara penasaran


"Papa juga tidak bisa menebak nak, tapi Papa yakin ini salah satu karyawan Papa, kan selama ini Papa baik sama seluruh karyawan Papa di kantor" jawab Harun.


Keduanya tidak sama sekali berpikir kalau orang itu adalah Queen, seseorang yang selama ini Harun sakiti mentalnya berkali-kali..


*


*


Setelah Dua hari kepergiaan sang istri, membuat kehidupan Gavin benar-benar kacau, pria itu seperti kehilangan semangat hidup.


Gavin sudah menugaskan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan sang istri, tapi Queen seperti di telan bumi karena tidak di temukan keberadaan nya.


"Aaaaaahhhhhh" Gavin melempar seluruh benda yang ada di rumahnya, sekarang rumah itu layaknya kapal pecah, berantakan dan sangat berantakan.


"Dimana kamu sayang ?, Tolong kembalilah !" Gumam Gavin, ia terduduk dengan lemah sembari bersandar di lemari pakaian, sungguh hidupnya sekarang sangat berantakan semenjak sang istri menghilang.


"Kasihanilah aku Queen !, Tolong pulang sayang"


Beberapa saat kemudian ponsel Gavin berbunyi, ia langsung bangkit dan menjawab panggilan dari Nara..


"Ada apa Ra ?" Tanya Gavin malas.


"Aku hanya ingin memberi tahumu kalau besok Papa akan operasi, ada karyawan kantor Papa yang rela mendonorkan ginjalnya"


"Syukurlah, aku senang mendengarnya"

__ADS_1


"Apa besok kamu bisa kesini, temenin aku"


"Aku tidak bisa janji, karena saat ini aku tengah fokus mencari keberadaan istriku"


Terdengar tarikan napas panjang di seberang sana, Gavin tau kalau saat ini posisi Nara benar-benar sulit, ia harus menemani sang Papa di rumah sakit, tapi di satu sisi ia harus berusaha mencari keberadaan adiknya.


"Setelah operasi Papa selesai, aku akan menemani kamu mencari Queen, kita cari dia sampai keujung dunia sekalipun"..


Tak ada jawaban dari Gavin, pria itu memilih memutuskan sambungan telepon. Kembali meletakkan ponselnya di atas meja nakas..


Ia tidak peduli dengan operasi mertuanya itu, karena menurut Gavin istrinya pergi akibat ulah Harun.


Beberapa saat kemudian wanita paruh baya memasuki rumah Gavin, wanita itu menatap sekitar, lalu mengernyit heran saat melihat ruang tamu rumah itu sangat berantakan.


"Astaga ini rumah apa kapal pecah" batin Mama Medina.


"Gavin" wanita itu berteriak, mencari sosok putranya yang sudah lama tidak ia temui.


Praaaangg.


Mama Medina terperanjat saat mendengar suara benda jatuh, dengan setengah berlari Mama Medina menaiki anak tangga untuk menuju sebuah kamar putranya.


"Astaga Gavin" ia harus kembali di buat terkejut melihat kamar putranya, apalagi melihat Gavin tengah duduk bersandar dengan wajah yang sedikit pucat


"Ada apa sayang ? kenapa kamu jadi seperti ini ?" tanya Mama Medina yang saat ini sudah menarik tubuh Gavin kedalam pelukan.


"Queen Ma" Gavin terisak.


"Ada apa dengan Queen ?"


"Dia pergi"


Kening Mama Medina mengkerut, walau dulu ia tidak menyukai Queen, tapi saat ini melihat putranya bahagia akhirnya lama kelamaan restu itu muncul juga. Hari ini ia datang untuk bertemu Queen dan menjalin kerukunan.


"Apa maksud kamu nak ? kemana Queen pergi ?"


"Aku tidak tau Ma, dia juga lagi sakit"


"Sakit apa ?"


"Leukimia stadium akut, Nara yang memberi tahuku. Aku takut terjadi sesuatu pada istriku Ma"

__ADS_1


Mama Medina benar-benar terkejut mendengarnya, ia merasa bersalah kenapa selama ini ia sangat acuh pada rumah tangga Gavin, harusnya sejak awal ia menerima Queen menjadi menantunya, mungkin saja wanita itu akan berbagi kesedihan.


"Kita cari sama-sama nak, Mama akan membantumu"


__ADS_2