
Pandangan Andrias pada istrinya berubah menjadi tajam setelah mendengar teriakan sang ibu.
"Apa yang kamu masak? Kenapa Ibu samai teriak seperti itu?" Selidik Andrias dengan suara ditekan. Areta hanya menggedikan kedua bahunya lalu melangkah ke ruang makan.
"Kamu mau bunuh saya dengan masak seafood seperti ini hah? Kamu tau saya dan Zevanya itu alergi sama seafood! Kenapa malah masak seafood?" Cecar Bu Lastri membuat Areta menghembuskan napas kasarnya.
"Iya, lagian Mbak Reta ngapain sih masak makanan mahal kayak begitu. Ngabis-ngabisin duit Mas Andrias aja." Timpal Zevanya membuat tinju Areta mengepal seketika, wanita itu memandang tiga orang di hadapannya dengan tatapan tajam secara bergantian.
"Zevanya, asal kamu tau aja ya. Aku beli dan masak semua ini pakai uangku sendiri karena uang dari masmu sudah dikasih semuanya untuk ibu." Ujar Areta menatap tajam adik iparnya yang langsung menunduk.
"Dan satu lagi, aku nggak tau kalau Ibu dan Zevanya akan datang ke sini buat makan malam. Bukannya kemarin Ibu sendiri yang bilang nggak akan makan di sini setelah aku kasih sisa gaji Mas Andrias?" Tambah Areta menatap ibu mertuanya nyalang.
"Areta, saya itu ke sini karena diajak oleh Andrias. Bukan karena keinginan saya sendiri." Balas Bu Lastri tak mau kalah.
"Apa yang dibilang Ibu itu benar, Areta. Aku yang ajakin Ibu dan Zevanya buat makan malam bareng di sini." Bela Andrias membuat istrinya semakin murka. Areta menghenyak ke kursi makannya dan menyendok nasi beserta lauk pauk untuk dirinya sendiri.
"Areta, bener-bener mantu kurang ajar ya kamu. Saya belum selesai ngomong malah kamu udah mau makan." Bentak Bu Lastri dengan mata melotot menatap ke arah menantunya.
"Saya lapar, Bu. Dan dokter bilang saya nggak boleh stres. Jadi lebih baik saya makan sekarang daripada terus-terusan mendengar cacian dari Ibu." Ucap Areta santai kemudian mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Bu Lastri yang kesal segera menarik Zevanya untuk pergi dari sana tanpa pamit, Andrias hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.
Setelah kepergian ibunya, Andrias menghenyak di kursi seberang sang istri. Menatap wajah Areta lekat-lekat, rasa bersalah menelusup di relung hatinya. Dia begitu mencintai istrinya, namun di sisi lain juga tak bisa mengabaikan ibu dan adiknya.
"Areta, kamu nggak nawarin aku makan? Bukannya kamu masak semua ini untuk aku?" Suara Andrias memecah keheningan di antara mereka.
"Ayo makan, Mas. Aku udah laper banget karena dicaci maki sama ibu kamu." Ucapan Areta membuat Andrias semakin merasa bersalah.
"Maaf, aku salah udah bawa ibu sama Zevanya kemari." Balas Andrias dengan wajah bersalah.
__ADS_1
"Makan, Mas. Kamu nggak akan kenyang kalau terus-terusan minta maaf." Ujar Areta datar, Andrias mengangguk kemudian mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
...****************...
Zevanya melajukan sepeda motornya dengan membonceng Bu Lastri yang masih mengomel sepanjang jalan.
"Bu, Zevanya laper nih. Mau makan apa kita nanti? Kan Ibu nggak masak?" Tanya Zevanya pada sang ibu.
"Beli capjay di warung Pak Karyo aja, sebungkus terus nanti dimakan berdua sama nasi biar kenyang." Jawab Bu Lastri yang masih dongkol. Zevanya segera membelokan sepeda motornya ke arah warung yang dimaksut oleh sang ibu. Gadis remaja itu kembali melajukan sepeda motornya untuk pulang ke rumah setelah mendapatkan sebungkus capjay.
"Bu, Vanya laper. Mau langsung makan aja baru mandi." Ujar Zevanya yang baru saja tiba di rumahnya.
"Yaudah, kamu makan sana. Ibu mau mandi dulu." Balas Bu Lastri melenggang ke kamarnya. Sedang Zevanya menuju ke meja makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berdemo.
Bu Lastri melangkah ke meja makan usai membersihkan dirinya, alisnya bertaut saat melihat di meja makan hanya tersisa sidikit capjay. Itupun hanya beberapa potong wortel dan kuahnya saja.
"Iya, Bu. Kenapa teriak-teriak sih?" Tanya Zevanya yang tergopoh-gopoh berlari ke arah sang ibu.
"Ini kenapa capjay cuma tinggal wortelnya aja?" Bu Lastri balik bertanya pada putrinya dengan pandangan melotot.
"Kan Ibu sendiri yang bilang, nanti makannya pakai nasi biar kenyang. Nah, Vanya kan lagi diet jadi cuma makan capjay tanpa nasi. Itu nasinya masih banyak buat Ibu aja biar kenyang." Jawab Zevanya tanpa rasa bersalah.
"Ya ampun, apes banget hari ini." Gerutu bu Lastri sembari mengambil nasi.
...****************...
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Areta segera masuk ke kamar tanpa menunggu sang suami selesai makan terlebih dahulu. Andrias yang tahu jika sang istri sedang marah memutuskan untuk membereskan bekas makan mereka.
__ADS_1
"Tumben ada inisiatif, biasanya biar rumah kayak kapal pecah juga cuma matung doank." Gunam Areta yang mendengar suara dentingan pertanda sang suami sedang mencuci piring.
Ceklek...
Pintu kamar Areta dibuka dari luar, Andrias segera merebahkan dirinya di samping sang istri yang sedang membelakangi dirinya.
"Sayang, kamu masih marah?" Bisik Andrias di telinga sang istri.
Areta membalikan tubuhnya untuk menatap wajah sang suami.
"Aku nggak marah, Mas. Aku hanya kecewa karena kamu tidak pernah bisa membuktikan omongan kamu. Aku lelah, Mas. Satu-satunya alasanku bertahan sama kamu saat ini adalah untuk anak yang masih ada di dalam kandunganku ini." Ucapan Areta berhasil membuat Andrias merasa tertampar.
"Aku tahu aku salah, Areta. Aku belum bisa jadi suami yang baik, bahkan aku belum bisa membahagiakan kamu. Dan kali ini aku nggak akan menjanjikan apa-apa lagi, tapi aku ingin kita membuat sebuah perjanjian." Areta mengerutkan keningnya mendengar setiap perkataan yang terlontar dari bibir suaminya.
"Perjanjian apa maksut kamu, Mas?" Tanya Areta menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Aku nggak akan mabok lagi dan akan lebih memprioritaskan kamu dibandingkan ibu ataupun Zevanya. Tapi aku juga ada satu syarat buat kamu." Jawab Andrias menatap dalam manik mata milik Areta.
"Syarat? Syarat apa yang kamu minta, Mas?" Tanya Areta lagi, wanita itu masih belum mengerti apa yang dimaksut oleh suaminya.
"Kamu harus berhenti dari kerjaan kamu sekarang!" Jawab Andrias dengan suara yang ditekan membuat sang istri membuang napasnya kasar.
"Baiklah, aku akan berhenti kerja. Tapi nggak sekarang, setelah kamu bisa membuktikan semua ucapan kamu. Baru aku akan berhenti bekerja." Balas Areta yang tak mau kalah dengan suaminya.
"Oke, aku setuju. Kali ini aku akan buktikan kalau aku bisa berubah dan bahagiain kamu sama anak kita." Ujar Andrias dengan senyum mengembang.
"Yah.... Aku harap kamu bisa membuktikan ucapan kamu, Mas. Karena seorang lelaki itu yang dipegang adalah omongannya." Ucap Areta cuek kemudian menarik selimut dan segera memejamkan matanya. Membiarkan Andrias yang masih terjaga sendirian sembari memandangi wajah ayu sang istri.
__ADS_1