
Areta membalikan badannya bersamaan dengan Bu Lastri yang mendekat ke arahnya diikuti oleh kedua anaknya.
"Areta!" Panggil Bu Lastri dengan nada yang mulai merendah.
"Ada apa Bu?" Tanya Areta datar.
"Duduk dulu yuk, Ibu mau bicara penting sama kamu." Ajak Bu Lastri menggandeng tangan Areta menuju ke arah sofa. Areta hanya bisa menurut tanpa mengucapkan apapun.
"Ehm, Areta. Ibu mau pinjam uang sama kamu sejuta, boleh ya!" Ujar Bu Lastri membuat mata Areta mendelik.
"Bukannya Ibu sudah ambil separuh dari gaji Mas Andrias kemarin?" Tanya Areta melirik Andrias yang diam tertunduk.
"Eh itu, hari ini kan Ibu ada arisan. Jadi uangnya habis buat bayar arisan sama beli baju dan tas baru yang Ibu pakai ini." Jawab Bu Lastri sedikit gugup.
"Memangnya tiap arisan harus pakai baju dan tas baru, Bu?" Tanya balik Areta memindai penampilan glamour mertuanya.
"Ya iyalah, bisa malu Ibu kalau pakai barang-barang lama buat ketemu teman sosialita Ibu." Balas Bu Lastri dengan suara yang mulai meninggi.
"Beneran BPJS (Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)." Batin Areta dalam hati
"Tapi Bu, Areta juga butuh uang buat keperluan dapur. Kami juga harus nabung buat persiapan lahiran, apalagi Mas Andrias udah ngelarang Areta buat kerja." Ujar Areta dengan ekor mata melirik ke arah suaminya.
"Iya Bu, apa yang dikatakan Areta itu benar. Kasihan kalau Areta masih harus kerja saat hamil begini." Bela Andrias pada istrinya.
"Haduh, orang hamil itu nggak boleh manja. Biarin aja Areta tetap kerja, apa kalian tega kalau Ibu sama Zevanya nggak bisa makan? Atau kalian mau kita berdua tiap hari kesini numpang makan ditempat kalian!!" Ucap Bu Lastri dengan nada tinggi. Areta membuang napasnya kasar kemudian meninggalkan mertuanya itu ke kamar.
"Areta! Areta!" Panggil Bu Lastri namun tak dihiraukan Areta, wanita itu tetap meneruskan langkahnya untuk masuk ke kamar.
"Benar-benar mantu kurang ajar ya, nggak bisa ngertiin keadaan orang tua sama sekali." Umpat Bu Lastri.
"Sudah, Bu. Kami juga butuh uang." Lirih Andreas yang membuat sang ibu semakin murka.
"Kamu juga, jadi anak bukannya belain Ibunya malah belain is." Ucapan Bu Lastri terhenti melihat Areta yang keluar dari kamar dan menghampiri mertuanya di ruang tamu.
__ADS_1
"Ini, gaji anak Ibu. Belum areta sentuh sama sekali, Ibu pakai aja dan nggak perlu dikembalikan." Ujar Areta menyerahkan sepuluh lembar uang merah pada mertuanya.
"Nah, gini donk. Ini namanya baru mantu pengertian." Puji Bu Lastri membelai lembut pipi Areta namun tak mendapatkan tanggapan dari sang menantu. Seperti biasa, Bu Lastri segera melenggang pergi setelah mendapatkan apa yang ia inginkan sedangkan Andrias hanya diam terpaku di tempatnya.
Setelah kepulangan Bu Lastri, Areta segera kembali masuk ke kamar untuk mandi. Sepuluh menit kemudian wanita itu keluar dengan tampilan yang lebih segar lalu merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidur. Andrias yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu akhirnya memilih untuk menyusul Areta ke kamarnya.
"Areta!" Panggil Andrias yang menghenyak di tepi ranjang.
"Hmmm." Areta hanya berdehem menjawab panggilan sang suami.
"Aku minta maaf ya, pasti kamu marah sama aku karena kelakuan Ibu tadi." Ucap Andrias merasa bersalah.
"Kamu nggak salah, makasih karena kamu udah belain aku. Ya meskipun pada akhirnya Ibu tetap minta uang itu." Balas Areta menyandarkan tubuhnya di atas ranjang.
"Makasih ya, kamu udah mau ngertiin." Ujar Andrias merasa lega karena ternyata Areta tak marah padanya. Areta hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
"Kamu nggak masak buat makan malam?" Tanya Andrias yang merasa cacing di perutnya sedang berdemo.
"Terus gimana? Mau suruh aku beli lauk sekarang atau mau pesan gofood aja? Aku udah laper banget soalnya ini." Keluh Andrias memegangi perutnya.
"Ya nggak jadi beli lauk, Mas. Uangku udah aku pake buat periksa kandungan sama kasih ke Ibu tadi. Jadi sekarang aku udah nggak ada uang cash lagi, kamu malam ini makan mi instan aja ya. Besok aku ambil uang di ATM buat belanja stok bahan makanan." Ujar Areta membuat Andrias mendengus kesal kemudian beranjak keluar dari kamar itu.
"Mau kemana, Mas?" Tanya Areta pada sang suami.
"Mau buat mi instan lah, lapar banget aku ini."Ketus Andrias.
Braakkkk!!!
Suara pintu yang dibanting dengan keras membuat Areta sedikit terlonjak karena kaget.
"Banting-banting pintu!!! Emangnya dia pikir ini rumah emaknya, ini kan rumahku." Kesal Areta kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya, membiarkan Andrias berkutat sendiri di dapur
...****************...
__ADS_1
Suara kokok ayam yang bersahutan mengusik Areta dari tidurnya, wanita itu merenggangkan ototnya kemudian mandi dan menjalankan kewajiban dua rokaatnya. setelah selesai dengan ritual paginya, wanita itu melangkah ke dapur. Kulkas menjadi tujuan utamanya. Ia lihat masih ada telur dan kubis disana, wanita itu memutuskan untuk membuat nasi goreng sebagai hidangan sarapan pagi ini. Usai memasak, Areta kembali le kamar untuk membangunkan sang suami dan mengajaknya sarapan bersama.
Nampak Andrias yang masih bergelung di dalam selimut dan asyik mengukir hamparan pulau di atas bantalnya.
"Mas, bangun. Mau sarapan bareng nggak?" Ujar Areta sembari mengguncang tubuh sang suami sedikit keras. Perlahan Andrias mulai membuka mata dan menyeka bekas air liur di bibirnya.
"Ehmmm, emang kamu udah masak?" Tanya Andrias dengan mata yang menyipit menatap istrinya.
"Udah, aku bikin nasi goreng sama telur dadar." Jawab Areta dengan seuntai senyum yang terukir di bibirnya.
"Yaudah, kamu tunggu bentar ya. Aku mau mandi." Ujar Andrias kemudian melangkah ke kamar mandi, sementara Areta membereskan tempat tidurnya dan berganti baju dengan pakaian formalnya. Sepuluh menit kemudian, Andrias keluar dari kamar mandi dan menggandeng tangan Areta menuju ke meja makan.
"Humb.... Masakan istri aku emang paling enak sedunia." Ujar Andrias saat suapan pertama masuk ke mulutnya.
"Makan yang banyak, nanti aku masak buat makan malam." Balas Areta membuat senyum Andrias terbit di wajah tampannya.
"Emang kamu nggak capek pulang kerja masih harus masak?" Tanya Andrias menunjukan perhatiannya pada sang istri.
"Nanti aku pulang cepet, Mas. Cuma perkenalan direktur utama yang baru aja terus makan bersama habis itu pulang." Terang Areta membuat Andrias manggut-manggut tanda mengerti.
Usai sarapan, Areta segera mencuci piring mereka. Keduanya berpisah untuk berangkat ke kantor masing-masing.
"Kamu hati-hati ya bawa motornya, jangan ngebut-ngebut!" Pesan Andrias pada sang istri.
"Iya, kamu juga hati-hati. Nanti langsung pulang jangan keluyuran." Balas areta yang juga mewanti-wanti suaminya.
"Iya, aku janji bakalan pulang cepat hari ini." Balas Andrias, Areta segera mengecup punggung tangan sang suami kemudian mulai melajukan sepeda motornya.
Karena terburu-buru, Areta melajukan sepeda motornya lebih kencang dari biasanya hingga saat tiba di sebuah persimpangan jalan ada sebuah mobil pajero yang melaju kencang dan menerobos lampu merah.
Cekiiiiiitttt!!!
Suara ban sepeda motor Areta yang beradu dengan aspal jalanan.
__ADS_1