Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 27.


__ADS_3

Andrias mengernyit melihat ekpresi kemarahan di wajah sang istri.


"Kamu kenapa sih lihatin aku kayak gitu, Areta?" Tanya Andrias saat Areta semakin mendekat.


Wanita itu tak menjawab, malah menatap sang suami dengan pandangan yang kian menajam. Perlahan tanganya mulai terangkat.


"Bekas lipstik siapa ini, Mas? Perempuan malam mana yang sampai meninggalkan jejak di kemeja kantormu ini, hah?" Selidik Areta dengan suara meninggi sambil menunjuk-nunjuk bagian bahu sang suami.


"Eh itu, ya ampun tadi di lift desek-desekan. Terus ada yang nggak sengaja jatuh dan nyenggol nyenggol aku." Kilah Andrias mencoba bersikap santai padahal jantungnya sedang berdetak tak karuan.


"Emang itu lift apa angkot kok sampai desek-desekan." Balas Areta berlalu meninggalkan sang suami menuju ke kamarnya.


"Ciee, mas Andrias punya pacar baru ya." Goda Zevanya yang membuat sang kakak berdecak kesal kemudian ikut memgekori Areta menuju ke kamar.


Ceklek, Andrias masuk ke dalam kamarnya. Namun hanya ada Bian, sepertinya Areta tengah mandi karena terdengar suara guyuran air.


"Oeekkk... Oeekkk...." Suara tangis Bian yang baru saja bangun dari tidurnya. Andrias berinisiatif menggendong bayi itu untuk menghentikan tangisnya. Namun bukannya berhenti, tangis Bian justru semakin kencang.


"Sssttt.... Bian, diem donk sayang. Ini udah digendong sama ayah lho." Bujuk Andrias pada bayi mungil itu sembari mengayunkannya perlahan.


Areta yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mengambil alih Bian dari gendongan Andrias, dan ajaibnya bayi itu langsung diam begitu berada dalam gendongan sang ibu.


"lhoh kok langsung diem digendong sama kamu, tadi aku bujuk-bujuk juga dia malah tambah kenceng nangisnya." Heran Andrias menatap ke arah anak dan istrinya.


"Ya karena selama ini kamu nggak pernah ikut ngurusin dia, Mas. Jadi pas tiba-tiba kamu pegang berasa kayak orang asing karena nggak ada ikatan batin sama sekali. Apalagi sekarang kamu udah mulai berani bermain api di belakangku." Kesal Areta kemudian keluar dari kamar tanpa menyisir rambutnya atau berganti pakaian terlebih dahulu.


Andrias menatap ke arah punggung Areta dengan senyum mencemooh.

__ADS_1


"Bagaimana aku nggak main api kalau penampilanmu aja kayak gitu, acak-acakan udah kayak mak lampir. Yang dipake tiap hari cuma daster lusuh begitu." Gunam lelaki itu kemudian.


Areta memutuskan untuk menyusui Bian di ruang tamu karena malas melihat wajah Andrias. Wanita itu merasakan nyeri di hatinya karena suami yang begitu ia cintai ternyata mulai berani bermain belakang.


"Cie, pasti lagi galau karena mas Andrias punya pacar lagi ya? Makanya Mbak, jangan ngomel mulu. Mana penampilan berantakan, wajah kusam. Pantes lah mas Andrias cari cewek lagi." Cemooh Zevanya kemudian memertawakan kakak iparnya itu. Areta beranjak dari tempat duduknya kemudian meletakkan Bian di dalam stroler, berniat untuk membawanya jalan-jalan ke taman dekat rumahnya untuk sejenak melupakan kesedihannya.


Areta terus berjalan dengan pandangan nanar ke depan, pikirannya terus melayang pada Andrias.


"Apa aku minta cerai aja sama mas Andrias? Tapi gimana nasib Bian nantinya, tapi kalau terus sama mas Andrias apa aku bisa tahan sama sikapnya. Ditambah harus dengerin ocehan ibu dan Zevanya setiap hari." Areta terus bermonolog tanpa memperhatikan jika ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Tiiiinnnn....


Cekiiittt ciiitttt, bunyi klakson panjang dibarengi suara ban mobil yang beradu dengan jalanan karena di rem secara mendadak oleh si pengemudi. Areta diam mematung sembari memegangi stroller bayinya karena shock dengan kejadian barusan. Si pengemudi mobil segera turun kemudian berlari ke arah Areta.


"Areta? Ternyata kamu?" Kaget seorang lelaki ketika menyadari sosok wanita yang hampir saja ia tabrak.


"Pa Pak Rivan." Lirih Areta terbata dengan pandangan kosong.


"Siapa yang mau bunuh diri, Pak? Saya cuma lagi jalan-jalan sama anak saya kok." Elak Areta sedikit kesal pada lelaki yang hampir menabraknya itu.


"Kalau jalan-jalan itu nggak di tengah-tengah juga, untung saya bisa ngerem tepat waktu tadi. Kalau nggak gimana? Memangnya kamu ini mau kemana sih sebenarnya?" Tanya Rivan penasaran.


"Mau ke taman depan." Jawab Areta singkat. Rivan segera menarik tangan Areta untuk masuk ke mobil kemudian mengambil babby Bian dan meletakkannya di pangkuan Areta. Tak lupa untuk memasukan stroler milik Bian ke dalam bagasi mobilnya.


"Lhoh, Pak. Kok Bapak paksa saya buat masuk ke mobil, jangan-jangan pak Rivan mau nyulik saya ya?" Tuduh Areta menatap Rivan dengan pandangan serius.


Rivan yang baru saja duduk di kursi kemudi tergelak mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Areta, kemudian menatap wanita di sebelahnya itu dengan pandangan teduh.

__ADS_1


"Kurang kerjaan sekali saya nyulik istri orang sama bayinya, saya cuma mau anterin kamu ke taman karena takut kejadian tadi terulang lagi. Saya lihat kamu lagi ada masalah sampai pandangan kamu kosong begitu." Tebak revan namun tak mendapat tanggapan dari wanita di sebelahnya.


Laki-laki itu segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dimaksud oleh areta.


"Tunggu!" Cegah Rivan saat wanita itu hendak turun.


Dahi Areta berkerut meminta penjelasan pada lelaki itu tanpa bersuara.


"Ini, sisiran dulu. Kunciran yang bener, biar nggak disangka orang gila habis nyulik bayi." Celetuk Rivan yang membuat mata Areta membelalak seolah ingin menelan pria itu bulat-bulat namun tetap mengambil sisir itu kemudian merapikan rambutnya.


Rivan dengan sigap menurunkan stroler Bian kemudian membukakan pintu untuk Areta, wanita itu segera mendorong strolernya ke arah taman tanpa mengucap sepatah katapun. Rivan hanya membuang napas kasar kemudian mengekor di belakang mantan karyawannya. Areta akhirnya memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang yang berada di tengah-tengah taman.


"Ya ampun, Bapak ngikutin saya dari tadi?" Kaget Areta saat tiba-tiba Rivan menghenyak di sampingnya.


"Iya, saya tahu kamu lagi banyak pikiran. Apalagi dari awal kehamilan kamu aja suami kamu kayaknya nggak perhatian kan." Ucapan Rivan lagi-lagi berhasil mengejutkan Areta. Wanita itu menghembuskan napas kasarnya kemudian mendongak untuk menatap wajah Rivan.


"Bapak tahu darimanya?"


"Kalau suami kamu itu lelaki yang baik, nggak mungkin istrinya lagi ngidam tapi pesan lewat ojek online. Pasti suaminya yang bakal nyariin apa yang diinginkan istrinya."


"Hah? Bapak bilang apa barusan?" Tanya Areta memastikan pendengarannya.


"Biasa aja ekspresinya, nggak usah berlebihan begitu. Asal kamu tahu aja ya, driver ojol yang anterin puding buah buat kamu waktu itu adalah saya." Tutur Rivan santai sedangkan mulut Areta telah menganga setelah mendengar kalimat dari bibir Rivan.


"Bapak ngojek juga? Memangnya masih kurang harta Bapak yang nggak bakalan habis sampai tujuh turunan itu?" Celetuk Areta yang tak habis pikir dengan tingkah mantan bosnya itu.


"Emang apa salahnya kalau saya ngojek, itu hiburan saya kok. Oh ya, udah mau maghribh ini. Ayo saya anterin pulang, kasihan anak kamu. Di sini udaranya udah mulai dingin." Ajak Rivan yang segera mendahului Areta mendorong stroler babby Bian. Areta hanya menurut kemudian mengekori Rivan di belakangnya.

__ADS_1


"Ayo masuk!" Titah Rivan membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


"Aretaa!!" Suara teriakan itu menghentikan langkah Areta untuk masuk ke dalam mobil Rivan.


__ADS_2