Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 31.


__ADS_3

Areta tersadar karena mencium aroma minyak angin yang dioleskan oleh Raisya di dekat hidungnya. Perlahan mata Areta terbuka kemudian menyipit karena cahaya lampu yang menembus kornea matanya.


Raisya segera mendekat dan menghenyak di sisi ranjang milik sahabatnya, "Areta, kamu udah sadar?"


"Memangnya aku kenapa Ra?" Areta bertanya sembari memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.


"Lhoh, kok ada Pak Rivan di sini?" tanya Areta yang baru saja menyadari jika ada sesosok lelaki di dalam kamarnya.


"Maaf, tadi aku yang telepon Pak Rivan buat bantu angkat tubuh kamu ke kamar," jelas Raisya menjawab kebingungan Areta.


"Terima kasih, Pak atas bantuannya," lirih Areta memandang Rivan sekilas.


Rivan mengangguk, "kalau begitu saya pulang dulu, kamu istirahat yang cukup. Jangan terlalu memikirkan suami sialanmu itu."


"Terima kasih Pak, maaf sudah merepotkan, "ujar Raisya yang mengantar Rivan sampai ke depan pintu.


"Areta," Wanita itu menoleh mendengar namanya dipanggil oleh Raisya.


"Iya Raisya, makasih ya. Maaf aku udah ngerepotin kamu," ujar Areta dengan wajah sendunya.


Raisya merengkuh tubuh Areta ke dalam pelukannya, "jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja. Ada aku di sini yang selalu nemenin kamu.


Kedua sahabat itu menghabiskan waktu untuk saling menguatkan, Areta menumpahkan segala keluh kesah dan air matanya di hari itu.


...****************...


Andrias baru saja tiba di sebuah rumah kontrakan petak bersama bu Lastri dan Zevanya. Hanya ada dua kamar di sana, itupun masing-masing hanya memiliki kasur yang cukup untuk satu orang saja.


"Mas, kok ini kontrakannya jelek banget sih. Mana sempit, nggak ada sofa lagi," keluh Zevanya meletakkan kopernya di pojok ruangan.


"Iya, mana pengap lagi. Kamarnya juga sempit, mana kasurnya kecil udah gitu tipis banget lagi." Bu Lastri ikut menambahi keluhan putrinya.


"Ya mau gimana lagi, Bu? Rumah kita udah ibu jual untuk bayar pinjol, uang Andrias juga nggak banyak. Nanti Ibu sama Zevanya tidur sekamar aja, karena kamarnya cuma ada dua."

__ADS_1


"Apaaa?" Zevanya dan bu Lastri berteriak bersamaan mendengar penuturan Andrias.


"Mas, kasurnya kecil. Mana cukup buat tidur berdua, harusnya Mas Andrias ngalah donk tidur di karpet ini," rengek Zevanya membuat emosi Andrias mulai tersulut.


Lelaki itu menendang kopernya dan menatap Zevanya dengan kilatan amarah, "kalau kalian nggak mau, silahkan keluar."


Mulut bu Lastri menganga, tak menyangka jika Andrias bisa bersikap seperti itu.


"Mas Andrias jahat, tega sama ibu dan adik sendiri." Tangis Zevanya pecah setelah mengucapkan kata-kata itu.


"Aarrghh!" Andrias menyugar rambutnya kasar, keluar dari rumah kontrakan kecil itu dan membanting pintunya keras-keras.


Lelaki itu melajukan sepeda motornya tanpa tujuan, tanpa disadari Andrias membelokan arah ke rumah Areta. Memandangi rumah yang menjadi saksi kebersamaan mereka selama beberapa tahun ini, rumah yang menjadi saksi kesabaran Areta menghadapi tingkah laku suaminya. Segala kenangan itu terus berputar-putar di pikiran Andrias hingga lelaki itu memutuskan untuk kembali melajukan motornya.


Hari semakin gelap, Andrias teringat jika ibu dan adiknya di rumah pasti belum makan. Lelaki itu memutuskan mencari sebuah warteg dan membungkus makanan untuk makan malam mereka.


"Bu, nasi lauk balado telur sama tempe orek tiga. Dibungkus ya," ucap Andrias pada ibu pemilik warung.


Lelaki itu pulang ke rumah setelah mendapatkan pesanannya. Andrias segera masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan sepeda motornya di teras, nampak Zevanya merebahkan diri di pangkuan bu Lastri yang tak henti meneteskan air mata.


Zevanya dan dan bu Lastri saling pandang setelah menbuka bungkusan makanan mereka. Membuat Andrias membuang napasnya kasar, "makan aja, kita harus hemat sekarang."


"Ibu mau bicara sama kamu," ujar bu Lastri setelah acara makan malam mereka selesai.


Andrias menatap bu Lastri dengan pandangan yang sulit diartikan, "Bicara apa, Bu?"


"Apa benar kamu selingkuh seperti yang dikatakan Areta?" Tanya bu Lastri menatap Andrias penuh selidik.


"Awalnya Andrias hanya main-main aja, Bu. Tapi ternyata Areta malah liat aku lagi jalan sama Wulan di mall, bahkan dia maki-maki kita di depan banyak orang," jawab Andrias lesu.


Bu Lastri geleng-geleng kepala mendengar cerita putranya, "Harusnya kamu nggak lakuin itu Andrias, karena kesalahanmu itu kita jadi begini."


"Wajar aja kalau mas Andrias selingkuh, mbak Areta aja penampilannya kucel gitu. Pake daster mulu, sisiran aja juga jarang." Zevanya membela kakaknya yang sudah jelas-jelas bersalah.

__ADS_1


"Zevanya, semua wanita yang baru melahirkan dan ngurus bayinya sendirian pasti akan seperti itu. Ibu dulu juga begitu, tapi ya untungnya ada nenek kalian yang bantuin. Kamu juga kalau sudah dewasa dan melahirkan pasti tahu rasanya," nasihat bu Lastri pada putrinya.


"Tunggu, ini kenapa ibu malah jadi belain mbak Areta sih? Jangan-jangan ibu sakit nih!" Zevanya menempelkan punggung tangannya di kening bu Lastri.


Andrias membuang napas kasar merutuki kebodohan yang telah ia lakukan, "iya, Andrias salah, Bu. Harusnya Andrias nggak main-main, sekarang mau cari di mana lagi perempuan macam Areta."


Bu Lastri mendekat, mengelus bahu putranya lembut. "Kamu harus bisa mendapatkan hati Areta kembali, kalian masih sah suami istri. Jangan sampai kalian bercerai, bujuk dia dengan menjadikan anak kalian sebagai alasan. Pasti dia akan luluh."


Andrias hanya terdiam, mencerna baik-baik setiap kalimat yang diucapkan oleh ibunya.


"Alah, kalau mbak Areta nggak balik sama mas Andrias juga nggak apa-apa. Pasti masih banyak perempuan yang lebih segalanya dari dia dan mau sama mas Andrias." Suara Zevanya membuyarkan lamunan Andrias.


Lelaki itu beranjak dari duduknya, "sudahlah, aku mau istirahat."


"Ibu kenapa sih malah nyuruh mas Andrias balik sama mbak Areta lagi, mending nyari perempuan lain aja?" Tanya Zevanya pada ibunya setelah Andrias menghilang di balik pintu kamarnya.


"Ya biar kita nggak tinggal di kontrakan sempit begini, mana harus sekamar sama kamu lagi. Udah tau kasurnya kecil," kesal bu Lastri berlalu ke kamar.


Zevanya ikut beranjak dan menyusul sang ibu ke kamarnya, "aduh Bu, di luar sana banyak yang lebih cantik dan pastinya lebih kaya dari mbak Areta."


"Entahlah, ibu mau tidur." Bu Lastri menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


...****************...


Areta baru saja selesai menyusui Bian, wanita itu duduk termenung di atas ranjang. Meraba sisi ranjang yang kosong, menikmati kesendiriannya di kamar itu.


Pandangan matanya tertuju pada foto pernikahannya bersama Andrias yang berada di atas nakas. Diambilnya bingkai foto itu, di mana dirinya dan Andrias tersenyum bahagia menatap ke arah kamera. Dielusnya wajah Andrias yang terbingkai di sana. Setetes air mata Areta kembali jatuh membasahi foto itu.


Prank!


Bingkai foto itu pecah berkeping-keping di lantai karena dibanting pemiliknya. Areta terduduk di lantai menekuk kedua lutut dan menenggelamkan wajahnya di sana. Menangis tanpa bersuara.


Toook.... Toook..... Toook......

__ADS_1




__ADS_2