Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 13.


__ADS_3

"Minta apa, Mas?" Areta memotong kalimat Andrias lalu menatap sang suami dengan pandangan menyelidik.


"Tenang aja, aku bukan mau minta jatah malam kog. Aku juga tahu kalau istriku lagi sakit." Balas Andrias yang sudah bisa menebak pikiran istrinya.


"Hehe, ya habis kamu bilang mau minta. Terus mau minta apa donk tadi?" Tanya Areta nyengir.


"Dokter Miranda bilang, kamu harus istirahat total. Jadi kali ini aku mohon dengan sangat, kamu berhenti kerja ya. Kalau bukan demi aku setidaknya demi anak kita." Mohon Andrias yang menggenggam erat kedu tangan sang istri. Areta menarik napasnya dalam, memikirkan ucapan suaminya barusan.


"Baiklah, Mas. Setelah keluar dari rumah sakit nanti, aku akan ke kantor untuk memyerahkan surat pengunduran diriku." Akhirnya keputusan itu diambil oleh Areta.


"Makasih, sayang. Akhirnya kamu mau nurutin permintaan aku." Ucap Andrias merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


...****************...


Hari ini Areta telah diizinkan pulang oleh dokter, Andrias membereskan barang-barang Areta kemudian memesan taksi online.


Ting...


Bunyi notifikasi pesan di handphone Andrias.


"Ayo sayang, taksi onlinenya udah nunggu di depan." Ujar Andrias yang diangguki oleh sang istri. Areta duduk di sebuah kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat.


Sesampainya di rumah, Andrias segera menggendong tubuh Areta ala bridal style menuju ke kamar.


"Ya ampun, Mas. Aku masih bisa jalan sendiri!" Protes Areta saat tubuhnya diangkat oleh Andrias.


"Nggakpapa biar aku gendong, kamu harus istirahat total sayang." Balas Andrias yang tengah mendorong pintu kamar menggunakan kakinya. Dengan hati-hati pria itu meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang empuknya.


"Sayang, baik-baik di dalam sana ya. Jangan buat bunda sakit lagi. Ayah dan bunda sayang sekali sama kamu." Oceh Andrias sembari mengelus perut sang istri.


"Mas, besok anterin aku ke kantor ya." Pinta Areta pada Andrias yang masih duduk di tepi ranjang sembari mengelus perut buncitnya.


"Hah? Kamu mau langsung kerja?" Tanya Andrias dengan kedua alis yang bertaut.


"Nggak, Mas. Aku cuma mau nyerahin surat pengunduran diri aja kog." Jawaban Areta membuat senyum di wajah sang suami mengembang.


"Oke, kalau gitu besok aku izin buat nggak masuk kantor ya. Aku tungguin sampai urusan kamu di kantor selesai." Ujar Andrias mengecup kedua punggung tangan istrinya.


"Kamu mau makan apa sayang? Biar aku masakin buat kamu?" Tanyanya kemudian.


"Aku lagi pengen makan kwetiau goreng, Mas. Bahannya ada semua di kulkas, kalau Mas nggak bisa masak biar aku aja yang masak nggakpapa." Ujar Areta mengulas sebuah senyuman manis.


"Kata siapa nggak bisa, aku bisa kog. Bentar ya aku masakin." Balas Andrias yang segera berlalu ke dapur. Areta hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.


"Ya Allah, semoga Mas Andrias terus seperti ini." Gunam Areta menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Andrias kembali ke kamar dengan keringat yang mengucur di dahinya.


"Lhoh Mas, kog sampai keringetan gitu? Emang Mas habis ngapain?" Tanya Areta mengerutkan dahi saat melihat penampilan Andrias yang berantakan.


"Eh itu, tadi masakan aku gosong. Terus aku lari aja ke warung depan buat beli kwetiau. Maaf ya, ternyata aku nggak bisa masak buat kamu." Jawab Andrias dengan napas yang masih terengah-engah.


"Kenapa harus lari? Kan ada motor?" Cecar Areta yang masih tak habis pikir dengan kelakuan absurd suaminya.


"Ya tadinya biar kamu nggak tau kalau aku beli, tapi aku jujur juga akhirnya sama kamu. Udah yuk makan, kamu sama dedek bayi pasti udah lapar." Terang Andrias yang segera memapah tubuh Areta menuju meja makan.


"Kog nggak digendong lagi?" Protes Areta iseng menjahili suaminya. Tanpa diduga, Andrias segera mengangkat tubuh sang istri dan mendudukannya di kursi. Bahkan lelaki itu menyuapi istrinya hingga seluruh isi piring habis. Wajah Areta seketika berbinar karena mendapat perlakuan manis dari suaminya.


...****************...


Keesokan harinya, Areta telah selesai memasak sarapan dan sedang mematut dirinya di depan cermin. Ada rasa bahagia karena sang suami telah benar-benar membuktikan janjinya, namun di sisi lain ada kesedihan yang menelusup ke dalam hatinya. Ia akan meninggalkan dunianya, ada kekhawatiran akan sesuatu yang akan terjadi setelah meninggalkan dunia luarnya.


Wanita itu menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Berusaha menepis segala pikiran buruk dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja meski dirinya tak lagi bekerja. Apalagi Areta masih memiliki sejumlah tabungan yang tak diketahui oleh Andrias. Bergegas wanita itu beranjak dan membangunkan Andrias yang masih tertidur.


"Mas, bangun! Ayo sarapan dulu, jadi anterin aku ke kantor nggak hari ini?" Ucap Areta mengguncang bahu suaminya perlahan. Andrias yang merasa terganggu segera membuk matanya.


"Lhoh kamu udah siap?" Tanya Andrias menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Iya, aku juga ada bikin bubur ayam buat sarapan kita. Buruan mandi, terus kita sarapan bareng." Ajak Areta pada sang suami.


"Ya ampun, Areta. Kamu kan nggak boleh capek, yaudah aku mandi dulu ya. Kamu tungguin aku di meja makan." Balas Andrias segera beranjak ke kamar mandi.


...****************...


"Aku tungguin kamu di sini ya sampai urusan kamu selesai."Ujar Andrias sembari melepaskan helm dari kepala sang istri.


"Jangan Mas, di sini panas. Kamu tunggu di lobby aja ya." Saran Areta yang disetujui oleh sang suami.


Areta segera menuju ke ruangannya untuk bertemu Raisya terlebih dahulu.


"Selamat pagi Raisya." Sapa Areta saat memasuki ruang kerjanya bersama Raisya.


"Areta!!! Kok kamu udah masuk kantor? Udah sembuh?" Cecar Raisya yang terkejut melihat kehadiran sahabatnya.


"Alhamdulillah, tapi aku ke sini mau ngasih surat pengunduran diri aku ke pak Rivan, Ra. Dokter Miranda minta aku istirahat total, jadi mau nggak mau aku harus resign." Tutur Areta dengan tatapan sendu membuat Raisya segera menghambur ke dalam pelukannya.


"Kamu beneran mau resign? Aku pasti bakal kesepian nggak ada kamu di sini." Ujar Raisya dengan wajah sedih.


"Aku juga terpaksa lakuin ini, Ra. Kalau kangen kan kita bisa telponan, kamu juga boleh main ke rumahku kapanpun kamu mau." Balas Areta memegangi kedua bahu sahabatnya.


"Yaudah, kamu baik-baik ya. Kalau ada masalah langsung cerita sama aku." Pesan Raisya pada Areta.

__ADS_1


"Pasti, Raisya. Yaudah sekarang aku ke ruangan pak Rivan dulu." Pamit Areta yang dijawab Raisya dengan sebuah anggukan kecil.


Areta berjalan menuju ruangan Rivan dan mengetuk pintunya perlahan.


"Masuk!!" Titah Rivan dari dalam ruangannya.


"Selamat pagi, Pak!" Sapa Areta setelah memasuki ruangan bosnya.


"Lho, Bu Areta. Silahkan duduk!" kaget Rivan saat melihat siapa orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Terima kasih, Pak. Maaf mengganggu Bapak pagi-pagi begini." Basa-basi Areta sebelum mengatakan tujuannya.


"Oh nggak, saya justru senang lihat Bu Areta ada di sini. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya Rivan pada wanita di hadapannya.


"Mohon maaf, Pak. Saya menemui Bapak ingin menyerahkan surat pengunduran diri saya." Jawab Areta sembari meletakkan sebuah amplop di atas meja.


"Mengundurkan diri?" Tapi kenapa?" Tanya Rivan dengan tatapan menyelidik.


"Dokter meminta saya untuk istirahat total, Pak. Jadi saya juga terpaksa mengundurkan diri dari perusahaan ini." Terang Areta membuat pria muda itu manggut-manggut.


"Baiklah, tapi jika Anda ingin kembali bekerja di sini. Kapanpun itu, perusahaan ini akan selalu menerima. Semoga Ibu Areta sehat-sehat sampai lahiran dan saya akan mentransfer uang pesangon untuk Ibu." Ujar Rivan sembari memainkan gawainya.


Tingg!!!


Suara notifikasi M-Banking di handphone Areta, mata wanita itu membelalak saat melihat nominal yang tertera di sana.


"Seratus juta? Apa ini nggak terlalu banyak, Pak?" Tanya Areta menatap Rivan dengan mata membola.


"Nggak, itu sekalian buat bantu biaya lahiran Bu Areta nanti." Jawab Rivan mengulas senyum penuh arti.


Setelah mengobrol sebentar, Areta pamit untuk meninggalkan ruangan Rivan.


"Mau saya antar, Bu?" Tawar Rivan pada Areta.


"Makasih atas tawarannya, Pak. Tapi suami saya sudah menunggu di lobby, saya permisi." Tolak Areta membuat Rivan membuang napas kasar.


Areta segera menghampiri Andrias di lobby.


"Udah selesai?" Tanya Andrias saat sang istri tiba di hadapannya.


"Udah, Mas. Yuk kita pulang!" Ajak Areta, Andrias segera beranjak dan menggandeng tangan istrinya ke parkiran membuat seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka mengepalkan kedua tinjunya karena kesal.


Andrias melajukan sepeda motornya secara perlahan sampai tiba di area rumahnya. Lelaki itu mengerem sepeda motornya secara mendadak saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kenapa berhenti, Mas?" Tanya Areta yang kaget karena sang suami menghentikan laju sepeda motornya di depan pagar.

__ADS_1


"Ituuuu ....."


__ADS_2