
"Mau bicara apa, Mas? Penting banget ya kayaknya?" Areta menatap ke arah suaminya dengan wajah penuh tanya.
"Iya, hari ini kan aku gajian." Jawab Andrias yang tersenyum pernuh arti menatap ketiga wanita di hadapannya secara bergantian.
"Kan tiap bulan juga kamu gajian, Mas? Terus ada apa? Kamu naik gaji? Atau malah gaji kamu dipotong?" Balas Areta mengeryitkan dahinya.
"Bukan itu, tapi sekarang kan Ibu sudah tinggal di sini sama kita, dan tiap hari yang masak buat kita itu ibu. Jadi mulai hari ini aku serahin uang belanja ke Ibu semua." Ucapan Andrias membuat mata Areta membelalak, sedangkan bu Lastri tersenyum miring ke arahnya.
"Tapi, Mas. Bian juga perlu beli pampers dan susu, terus gimana kalau kamu kasih semua uang gaji kamu ke ibu?" Protes Areta yang tak terima dengan keputusan sang suami.
"Kamu tenang aja Areta, aku akan bagi secara adil sesuai kepentingan kok. Ini uang dua juta untuk Ibu belanja kebutuhan sehari-hari di rumah ini." Balas Andrias santai sembari menyerahkan uang yang diterima bu Lastri dengan senyum lebar.
"Dan ini, lima ratus ribu buat kamu beli pampers dan susunya Bian."Andrias menyerahkan lima lembar seratus ribuan yang diterima Areta dengan wajah kesal sebelum beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kamu, Areta?" Tanya Andrias yang melihat sang istri telah bangkit dari duduknya. Wanita itu hanya menoleh sekilas laalu masuk ke kamar tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
"Biarin aja, istri kamu emang gitu. Sekarang jadi malas dan kurang ajar. Nggak pernah rela kalau harus berbagi sama Ibu." Ucap bu Lastri memanas-manasi putranya.
"Iya, itu untuk biaya makan kita selama satu bulan ya, Bu. Andrias mau ke kamar dulu." Ujar Andrias yang pamit menyusul sang istri ke dalam kamar mereka.
Cekleekk!
"Areta!" Panggil Andrias pada Areta yang sedang menyusui bayinya. Wanita itu hanya diam, tak ada niat menjawab panggilan sang suami.
"Areta!! Kamu punya kuping nggak? Dipanggil suami bukannya jawab malah diem aja!!" Bentak Andrias cukup keras membuat babby Bian menangis karena kaget.
"Lihat!!! Anakku menangis gara-gara kamu, bisamu cuma teriak-teriak doank kan! Bantu ngurus anak juga nggak, bikin aja bisanya. Mikirin perasaanku apalagi, sama sekali nggak." Balas Areta meluapkan kekesalannya sembari menatap sang suami dengan sengit.
"Arrrghhh!!!" Kesal Andrias mengacak rambutnya sendiri, pria itu mengambil jaketnya kemudian keluar dengan menunggangi sepeda motornya.
__ADS_1
Bu Lastri yang melihat putranya pergi dengan wajah kesal segera menghampiri Areta di kamarnya. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar menantunya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Mau apa Ibu ke sini?" Ketus Areta melihat ibu mertuanya masuk.
"Rasain kamu, lihat aja. Setelah ini kamu nggak akan bisa belanja-belanja pakai uang anakku. Semuanya akan jadi milik Ibu." Cemooh bu Lastri dengan senyum miring.
"Kalau ibu nggak bisa diam silahkan pergi dari rumahku!!" Bentak Areta secara tiba-tiba.
"Apa? Berani kamu ngusir saya dari rumah ini?" Balas bu Lastri berkacak pinggang dengan mata melotot.
"Kenapa tidak? Ini rumahku, Bu. Bukan rumah anakmu, jadi kalau Ibu macam-macam maka aku nggak segan buat usir Ibu dan Zevanya dari rumah ini. Kalau perlu sama mas Andrias sekalian. Ucap Areta pelan namun dengan nada yang ditekan membuat mertuanya melengos dan meninggalkan kamar itu begitu saja.
Areta menimang-nimang bayinya hingga terlelap kemudian menidurkannya di dalam box bayi. Tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau membuat wanita itu memilih untuk beristirahat tanpa mau memikirkan kemana Andrias pergi.
Braakkk!!
Tiba-tiba pintu dibanting dengan keras hingga tidur Areta terusik, beruntung Bian tak sampai ikut terbangun. Wanita itu bangkit untuk melihat siapa yang sudah mengganggu waktu istirahatnya. Nampak Andrias tengah berjalan sempoyongan menuju ke arah ranjang.
...****************...
Suara tangisan Bian membangunkan Areta dari tidurnya, dengan terburu-buru ia mengangkat tubuh bayi mungil itu dari dalam box bayi. Setelah kenyang menyusu, Areta segera memandikan bayinya. Andrias terbangun saat Areta sedang memakaikan baju untuk Bian.
"Ehmmm." Gunam Andrias yang sedang merenggangkan otot tubuhnya. Aroma alkohol masih menguar dari mulutnya.
"Mabok lagi? Kumat lagi tabiat lamanya?" Sindir Areta pada sang suami.
"Nggak sengaja semalem ketemu anak-anak terus dikasih minum sedikit. Mau nolak juga nggak enak, mana aku lagi pusing dengerin omelan kamu juga. Yaudah aku minum aja akhirnya." Balas Andrias berusaha membela dirinya.
"Oh, minum sedikit bisa sampai teler gitu ya, Mas?" Areta masih terus mencoba memojokan Andrias.
__ADS_1
"Ini masih pagi Areta, jangan bikin mood aku rusak pagi-pagi begini." Ujar Andrias yang mulai tersulut emosi, lelaki iti bangkit dari posisinya untuk menuju ke kamar mandi sedangkan Areta melangkah keluar bersama dengan babby Bian yang ia letakkan di dalam stroler.
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, duduk di kursinya tanpa menyapa bu Lastri ataupun Zevanya yang sudah mengunyah makanan mereka. Areta menyendok nasi untuk dirinya sendiri dengan lauk sepotong ayam goreng dan tumis kangkung. Tak lama kemudian Andrias muncul dan duduk di sebelahnya. Alis lelaki itu bertaut melihat apa yang dimakan oleh istrinya.
"Areta, kok kamu udah makan ayam?" Tanya Andrias pada Areta yang sedang asyik menikmati sarapannya.
"Adanya cuma ini." Jawab Areta kemudian menyunyah kembali makanannya.
"Istri kamu nggak pernah mau nurut kata-kata Ibu, jadi yaudah Ibu nggak masak makanan khusus buat dia lagi." Timpal bu Lasti membuat Areta tampak bersalah di mata Andrias.
"Bener-bener ya kamu..."
"Stop!! Nggak usah marah-marah, ini masih pagi. Jangan bikin mood aku rusak!" Potong Areta dengan membalikan kata-kata Andrias saat di kamar tadi.
Praaanggg!!!
Lelaki itu membanting sendok garpunya ke atas piring yang masih kosong, mengurungkan niatnya untuk sarapan kemudian berangkat ke kantor tanpa pamit.
"Puas kamu? Puas bikin anak saya berangkat kerja tanpa sarapan? Dasar istri nggak tau diri, kurang ajar!!!" Maki bu Lastri setelah terdengar suara sepeda motor Andrias menjauh. Areta hanya diam, tak ingin membalas perkataan ibu mertuanya.
"Setelah ini kamu bereskan semuanya dan cuci baju-baju kotor yang udah numpuk. Saya mau arisan!!" Tambah bu Lastri yang berhasil membuat Areta membulatkan matanya.
"Arisan? Bukannya Ibu udah janji nggak akan ikut arisan sosialita lagi?" Tegur Areta pada wanita paruh baya itu.
"Bukan urusan kamu!!! Ayo Vanya, Ibu bareng sama kamu." Balas bu Lastri kemudian pergi bersama dengan Zevanya yang akan berangkat menuju ke sekolahnya.
Areta mendengus kesal kemudian membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor itu.
"Oeeekk.... Oeeekkkk....." Terdengar suara tangis Bian yang menggema di seluruh ruangan, Areta memutuskan untuk membuatkan susu formula dan memberikannya pada bayi mungil itu.
__ADS_1
Bian kembali tertidur setelah menghabiskan susunya, wanita itu memutuskan untuk mencuci baju-baju yang telah menumpuk di keranjang cucian. Beruntung di rumah itu ada mesin cuci yang bisa sedikit meringankan pekerjaan Areta. Saat mengambil celana kerja milik Andrias, tanpa sengaja beberapa kertas dan uang receh terjatuh dari sakunya. Dengan segera wanita itu memungutnya kembali. Namun ada beberapa kertas terlipat yang menarik perhatiannya.
"Kertas apa ini?" Gunam Areta mulai membuka lipatan kertas itu. Seketika matanya membola tak percaya dengan apa yang tertulis di sana.