
Areta menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya, Andrias tengah berdiri dengan kedua tangan yang mengepal menahan emosi. Pada saat bersamaan, gerimis turun membasahi bumi. Tanpa pikir panjang, Areta meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil Rivan. Dengan sigap Rivan membantu Areta menutup pintu dan memasukan stroler babby Bian ke bagasi mobilnya. Lelaki itu menatap Andrias dengan pandangan mencemooh, dengan terburu-buru Rivan masuk ke dalam mobil dan mengantar Areta menuju ke rumahnya.
"Arggghhh, Areta. Kurang ajar kamu!" Geram Andrias segera melajukan sepeda motornya untuk menyusul mobil Rivan yang telah menghilang dari pandangannya.
Tak ada percakapan antara Rivan dan Areta di dalam mobil, wanita itu memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh istri Andrias.
"Kamu takut suamimu marah?" Tebak Rivan melirik sekilas ke arah wanita di sebelahnya.
"Nggak, Pak." Balas Areta singkat. Rivan membuang napasnya kasar kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
Perlahan mobil Rivan memasuki pekarangan rumah Areta, nampak Zevanya dan bu Lastri sedang berdiri di teras menatap kedatangan mobil itu.
"Bapak grogi ketemu pacar?" Tanya Areta iseng namun berhasil membuat mata Rivan melebar.
"Pacar? Apa maksut kamu pacar?" Kilah Rivan mulai terlihat gugup setelah mendapat pertanyaan dari Areta.
Wanita itu sedikit mendekat ke arah Rivan dan tersenyum mengejek, "saya pernah lihat Zevanya gelendotin Pak Rivan di restoran jepang. Mana mesra banget lagi, pake suap-suapan segala."
Deg!!!
Jantung Rivan serasa terlepas dari tempatnya mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Areta. Sesuatu yang ingin dia tutupi malah diketahui lebih dulu oleh Areta
Tuk tuk tuk, kaca jendela mobil Rivan diketuk oleh Andrias yang sudah basah kuyup karena hujan.
"Kamu tunggu di sini, biar saya yang buka pintu sekalian ambil payung. Kasihan bayi kamu kalau kena air hujan." Titah Rivan pada Areta yang segera mengangguk.
Laki-laki itu mengambil payung dari jok belakang mobilnya kemudian membukakan pintu penumpang dan memayungi Areta hingga sampai di teras rumahnya, tak peduli pada Zevanya dan bu Lastri yang menatap dengan pandangan bingung sm, terutama Andrias dan Zevanya.
"Siapa kamu? Lancang sekali berduaan sama istri saya di taman?" Cecar Andrias pada lelaki di hadapannya.
"Mas, kamu..."
__ADS_1
"Jangan coba-coba belain lelaki ini. Murahan kamu, keluar tanpa pamit. Mana bawa anak buat pacaran." Teriak Andrias di depan wajah Areta. Wanita itu tak membalas perkataan suaminya, namun malah berjalan mendekat ke arah Rivan.
"Pak Rivan silahkan pulang, terima kasih sudah mengantarkan saya dan Bian sampai di rumah." Ucap Areta sopan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Rivan mengangguk sopan dan segera meninggalkan tempat itu karena tak ingin terjadi keributan antara dirinya dan Andrias. Apalagi ada Zevanya yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya pada sosok Rivan.
"Itu mbak Areta tadi sore marah-marah karena ada noda lipstik di baju mas Andrias, eh ini malah dia pacaran sama cowok lain. Ternyata mbak Areta nggak lebih dari perempuan murahan ya." Oceh Zevanya berusaha memperkeruh suasana. Mata Andrias melotot mendengar kata-kata yang keluar dari mulut adiknya.
"Diam kamu Zevanya! Nggak mungkin Areta berani selingkuh." Bentak Andrias menatap adiknya dengan pandangan nyalang. Gadis remaja itu hanya diam mematung, nyalinya menciut setelah dibentak oleh sang kakak.
Areta menidurkan Bian di box bayinya kemudian merebahkan tubuhnya sendiri tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Cacian dari Andrias telah membuatny kenyang tanpa harus makan.
Ceklek, Andrias masuk dengan wajah merah padam.
"Areta!" Suara Andrias membuat wanita itu membuka kembali matanya yang sempat terpejam.
Wanita itu hanya memandang sang suami dengan tatapan malas. Tak ada lagi tatapan cinta yang terpancar dari matanya.
"Kenapa kamu bisa bareng sama laki-laki itu?" Tanya Andrias dengan nada suara yang masih tinggi. Areta tak bergeming, tanpa rasa takut ia membalas tatapan sengit dari suaminya.
"Arrrgh..... Harusnya kamu sadar diri kenapa aku bisa bermain dengan wanita malam. Penampilanmu benar-benar membuatku muak." Teriak Andrias mulai frustasi, Areta bangkit dari posisinya membisikan sebuah kalimat yang membuat nyali Andrias menciut.
"Kalau kamu muak, silahkan kamu pergi dari rumah ini bersama ibu dan adikmu yang benalu itu."
Deg! Andrias tak menyangka istrinya bisa mengucapkan kata-kata itu. Nyali lelaki itu menciut seketika, mulai menghirup napas dalam agar emosinya mereda. Perlahan Andrias mulai mendekat pada Areta, wanita itu cepat-cepat mengacungkan lima jarinya ke depan dengan pandangan tajam dan aura dingin.
"Jangan sampai kamu mengucap kata maaf lagi atau aku akan mengusirmu saat ini juga. Kata maafmu tidak akan bisa merubah apapun."
Andrias tak lagi membalas perkataan Areta, lelaki itu memilih merebahkan diri di kasur dan memejamkan matanya. Areta yang sudah lelah berdebat akhirnya ikut merebahkan diri di samping Andrias. Tak butuh waktu lama untuk Areta terlelap ke alam mimpi, mengistirahatkan hati dan pikirannya sejenak.
...****************...
Kicau burung dan sinar mentari yang menembus sela-sela gorden mengusik seorang wanita dari tidurnya, dengan rasa kantuk yang masih tersisa ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kencang. Ekor matanya melirik sekilas ke sisi tempat tidur dimana Andrias sudah tak lagi berada di sana. Tak ingin mencari tahu keberadaan sang suami, wanita itu lebih memilih untuk menghampiri Bian yang masih terlelap.
__ADS_1
"Masih tidur, aku mandi dulu aja deh." Gunamnya kemudian melangkah ke kamar mandi, lima belas menit kemudian Areta telah selesai dengan ritual mandinya. Kini saatnya ia memandikan Bian yang mulai menggeliat dari tidurnya.
Kriiinggg.... Kringg.....
Bunyi dering handphone Areta yang terletak di atas nakas, dengan segera wanita itu menggeser icon hijau di layar gawainya.
"Hallo Raisya, tumben nelpon pagi-pagi begini?"
"Hallo Reta, jalan-jalan yuk. Mumpung hari minggu, aku ajakin anakku juga."Suara Raisya terdengar antusias di ujung telepon.
"Boleh, nanti kamu jemput ku ya." Pinta areta pada sahabatnya.
"Siap bos, aku mandi dulu ya. Bye!" Pungkas Raisya mengakhiri panggilan teleponnya. Wanita itu segera berganti baju dan memoles wajahnya dengan make up natural, sejurus kemudian Areta teringat akan sesuatu yang membuatnya kembali mengambil gawai dan mengetik sebuah pesan di sana.
Cekleeekkk.....
Pintu kamar Areta dibuka dari luar oleh Andrias, pandangan lelaki itu menyipit kala melihat penampilan sang istri yang berbeda dari biasanya.
"Mau kemana kamu pagi-pagi udah rapi?" Selidik Andrias menatap sang istri penuh tanya.
"Mau jalan-jalan donk." Jawab Areta santai.
"Enak ya kamu, suami kerja keras malah kamu habisin duitnya buat jalan-jalan." Ucapan Andrias membuat tangan Areta mengepal, wanita itu morogoh isi tasnya dan mengambil uang lima ratus ribu yang tempo hari diberikan oleh suaminya sebagai uang belanja.
"Ini? Ini yang kamu maksut aku ngabisin duit?" Teriak Areta menunjukan lembaran uang di tangannya.
Plakkk!! Areta melemparkan uang itu tepat di muka Andrias.
"Makan tuh duit!" Tambah Areta kemudian keluar dari kamar itu dengan menggendong Bian.
"Areta!!!........
__ADS_1