
Semburat senja mulai berkunjung menyapa dunia, menggantikan teriknya sang bagaskara dengan semilir angin sore. Andrias baru saja keluar dari sebuah toko pakaian anak-anak dengan menenteng sebuah kantong belanjaan, lelaki itu berniat untuk menemui Areta dengan alasan mengunjungi Bian. Memutuskan mengikuti saran bu Lastri untuk merebut kembali hati Areta, apalagi telah ada seorang bayi tampan di antara mereka.
Sepeda motor milik Andrias berhenti di depan pagar rumah Areta, dahinya berkerut melihat ada dua mobil yang terparkir di sana. Tanpa pikir panjang, Andrias segera memarkirkan sepeda motornya dan mengetuk pintu rumah seorang wanita yang berstatus istrinya.
Pintu dibuka dari dalam, namun bukan Areta yang muncul dari balik pintu. Melainkan sosok Rivan yang nampak begitu tampan dan gagah dengan setelan jas kerjanya..
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Rivan datar namun dengan tatapan tajam yang menusuk ke dalam manik mata milik Andrias.
"Harusnya saya yang tanya, sedang apa kamu di rumah istri saya," balas Andrias ketus.
Rivan menghembuskan tersenyum miring, menatap Andrias dengan pandangan remeh, "Areta, ada suami kamu nih."
Sejurus kemudian Areta muncul, mata Andrias melebar saat melihat penampilan istrinya yang beberapa hari ini tak bersamanya. Dress bunga-bunga warna biru dengan polesan make up natural di wajah ayunya membuat kecantikan alami Areta terpancar nyata.
"Mas Andrias, pas banget kamu datang. Ayo masuk," ujar Areta menyunggingkan senyumnya.
Andrias begitu bahagia dengan sikap yang ditunjukan Areta, dengan segera lelaki itu masuk dan menghampiri Bian yang sedang digendong oleh Raisya. Lelaki itu yakin jika usahany untuk mendapat maaf dari Areta akan berhasil.
"Hallo anak ayah yang paling ganteng, ayah kangen sekali sama kamu." Andrias mengambil Bian dari gendongan Raisya dan mencium pipi bayi yang kini telah berusia dua bulan itu.
"Reta, ini aku beliin sesuatu buat Bian," ujar Andrias menyodorkan sebuah paper bag yang diterima Areta dengan sebuah senyuman.
"Makasih, aku tadinya mau ke kontrakan kamu. Tapi syukurlah kamu malah udah ke sini duluan. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu," tutur Areta setelah meletakkan paper bag itu di meja.
"Bicaralah Areta, pasti kamu menyesal kan sudah ngusir aku. Pasti kamu mau memperbaiki hubungan kita kan, aku tau kamu masih sayang sama aku dan aku yakin kamu bakalan maafin aku," oceh Andrias dengan percaya diri.
Areta mengambil sebuah amplop yang berada di atas meja dan mengulurkannya pada Andrias.
"Apa ini Areta?" tanya Andrias mulai bingung.
Areta tersenyum miring menatap suaminya, "itu surat panggilan untuk sidang perceraian kita besok."
__ADS_1
Ucapan Areta membuat mata Andrias melotot, "apa-apaan ini? Bukannya kamu mau kita memperbaiki hubungan, tadi katanya kamu mau bicarakan sesuatu denganku."
"Ya itulah yang ingin aku bicarakan sama kamu, silahkan kamu melepas rindu dengan Bian setelah itu kamu boleh pulang," balas Areta santai.
"Makanya jadi lelaki jangan kebanyakaan tingkah, di cerai kan lu akhirnya," ejek Rivan pada Andrias.
"Sial ...."
"Jangan buat keributan di rumahku, Mas. Silahkan kamu pulang kalau sudah puas bertemu dengan Bian," potong Areta sebelum Andrias menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba Andrias berlutut di kaki Areta, "aku mohon Areta, batalkan gugatan cerai kita. Aku masih sangat mencintai kamu."
"Kalau kamu mencintaiku, nggak mungkin kamu ngaku bujang sama wanita itu," balas Areta memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat muka Andrias yang masih bersimpuh di kakinya.
"Aku khilaf Areta, kasih aku kesempatan." Andrias masih belum menyerah membujuk istrinya.
Rivan dan Raisya mendekat untuk membantu Andrias berdiri.
Andrias menatap tajam ke arah sahabat istrinya itu, "Kamu bilang biarkan Areta bahagia? Lalu bagaimana dengan Bian, ada Bian yang akan menjadi korban dari perceraian ini!"
Areta berdecak kesal mendengar suara Andrias yang mulai meninggi.
"Aku sudah bilang, kamu bebas bertemu dengan Bian kapanpun kamu mau," ujar Areta kemudian.
"Tapi akan berbeda jika kita tetap bersatu Areta, pasti Bian akan lebih bahagia." Kembali Andrias berusaha membujuk Areta.
"Bian tidak akan bahagia jika melihat ibunya terus disakiti oleh ayahnya," timpal Rivan membuat Andrias menatap tajam pada lelaki itu.
"Sebaiknya kamu pulang, Mas. Keputusanku sudah bulat," lirih Areta bersaha menahan agar bulir bening tak menetes dari netranya.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi aku berjanji, akan merebut hati kamu kembali," ujar Andrias meninggalkan rumah itu tanpa pamit.
__ADS_1
Areta menatap nanar punggung Andrias yang menghilang di balik pintu rumahnya.
"Balikan aja sama dia kalau kamu mau jadi wanita bodoh untuk ke dua kalinya," celetuk Rivan membuat Raisya susah payah menahan tawanya.
"Saya bukan wanita bodoh, Pak. Apapun yang akan terjadi, saya nggak akan kembali sama dia," tegas Areta menatap wajah tampan lelaki yang duduk di sampingnya.
"Apa kamu nggak pengen kerja lagi, Ta?" tanya Raisya tiba-tiba.
"Siapa sih Raisya yang mau nerima ibu-ibu kerja sambil bawa anak, aku juga masih bingung harus gimana setelahperceraian na ti," jawab Areta dengan tatapan sendu.
"Saya kan sudah bilang, perusahaan saya selalu terbuka jika kamu mau kembali bekerja di sana. Masalah anak kamu, biar saya yang urus," ujar Rivan menimpali obrolan Areta dan Raisya.
"Bapak mau ngurus Bian? Jadi ayah sambung buat Bian?" Pertanyaan Raisya membuat Rivan menepuk jidatnya sendiri.
Lelaki itu memutar bola matanya malas, "maksud saya, kalau Areta mau kembali kerja ke perusahaan akan saya bantu urus. Urus maksudnya membantu Areta untuk mencari pengasuh buat Bian."
"Bapak serius?" tanya Areta antusias.
"Memangnya wajah saya keliatan lagi bercanda, ya serius lah. Kebetulan pengasuh saya dulu masih jadi babbysitter, memang agak tua. Tapi orangnya baik dan telaten," ujar Rivan sungguh-sungguh membuat senyum mengembang di bibir Areta.
"Kalau begitu saya akan pikirkan tawaran Bapak, terima kasih atas semua bantuan Bapak," ucap Areta kemudian.
"Yasudah, kalau begitu saya pulang dulu. Besok saya dan Raisya akan temani kamu sidang, hubungi saya kalau kamu siap untuk kembali bekerja."
Rivan keluar dari rumah itu bersama Raisya yang juga harus pulang karena ditelepon oleh ibunya.
Areta mengunci pintu rumahnya rapat-rapat kemudian membuat mi instan untuk santap malamnya dan segera beristirahat. Bian sudah begitu lelap di dalam box bayi miliknya. Tiba-tiba Areta teringat akan sidang perceraiannya besok, wanita itu kembali teringat semua kenangan yang trlah ia lewati dengan Andria. Namun segera ditepisnya jauh-jauh.
Areta lebih memilih untuk melangkahka kaki menuju ke lemari miliknya, memilih baju yang cocok untuk ia kenakan di persidangan besok. Mata Areta tertuju pada sesuatu yang berada di sudut lemarinya.
"Lhoh ini .....
__ADS_1