Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 18.


__ADS_3

"Lhoh kog dibuang sih, Mbak!!" Protes Zevanya melihat apa yang telah dilakukan kakak iparnya.


"Kamu ngapain kasih aku singkong sama pisang rebus? Sengaja, hah?" Bentak Areta pada gadis remaja itu.


"Areta, kamu tega banget sih buang makanan dari Zevanya. Asal kamu tau aja ya, singkong sama pisang rebus itu makanan bagus buat ibu menyusui. Bisa bikin ASI lancar." Timpal bu Lastri membela putrinya.


"Iya Areta, harusnya kamu berterima kasih donk. Bukan malah kayak gini, niat Zevanya itu baik." Ucapan Andrias membuat ibu dan anak itu tersenyum miring ke arah Areta.


"Terserahlah, Mas. Tapi setelah ini tolong suruh mereka pulang. Aku nggak mau diganggu." Kesal Areta kembali berbalik memunggungi mereka.


...****************...


Hari ini Areta dan babby Bian telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Andrias memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Babby Bian nampak terlelap di gendongan Areta.


"Ingat ya, Areta. Sesampainya di rumah nanti, kamu harus nurut nasihat ibu. Beliau sudah pengalaman lahiran dan mengurus bayi dua kali." Celetuk Andrias membuat sang istri berdecak kesal.


"Ck, aku nggak akan nurut sama perkataan ibu kalau nggak ada pembuktian medisnya." Balas Areta membelai lembut pipi malaikat kecil yang berada dalam dekapannya itu.


"Areta, jangan batu kamu! Semua itu demi kebaikan kamu dan anak kita." Ucap Andrias dengan nada yang ditekan. Wanita itu hanya diam tak ingin lagi membalas ucapan sang suami.


Sesampainya di rumah, nampak bu Lastri dan Zevanya menyambut kedatangan mereka di teras.


"Wah.... Kalian udah datang, ayo masuk!" Ajak bu Lastri dengan lembut membuat Areta sedikit curiga. Tanpa membalas ucapan mertuanya, wanita itu masuk ke rumah sembari menggendong bayinya.


Seketika amarah Areta memuncak saat melihat kondisi rumahnya bagai kapal pecah. Sampah makanan dimana-mana. Baju kotor menumpuk di keranjang, yang notabene adalah baju bu Lastri dan Zevanya. Belum lagi piring kotor menumpuk di wastafel, entah sudah berapa hari tak dicuci.


"Massss!!!" Pekik Areta, Andrias menghampirinya bersama bu Lastri dan Zevanya.


"Apa sih Areta teriak-teriak!" Kesal Andrias yang datang tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Gimana aku nggak teriak-teriak. Kamu lihat donk, Mas. Rumah berantakan, piring sama baju kotor numpuk nggak dicuci.


"Maaf, Mbak. Aku banyak bimbel akhir-akhir ini. Jadi nggak sempat bersihin semuanya." Sahut Zevanya menanggapi ucapan kakak iparnya.


"Kalau kamu sibuk sekolah kan ada ibu yang bisa bersihin ini semua , lagian nyuci baju juga pakai mesin cuci kan." Balas Areta yang masih kesal.


"Sudah-sudah jangan ribut, kamu istirahat aja. Biar ibu bersihin semuanya sekalian mau masak buat makan siang." Timpal bu Lastri pada akhirnya, Andrias segera merangkul bahu sang istri untuk masuk ke kamar.

__ADS_1


"Kog ibu mau-maunya, harusnya mbak Reta yang bersihin semua ini." Protes Zevanya pada sang ibu.


"Aduh Zevanya, kita itu harus main cantik biar masmu percaya sama kita." Balas bu Lastri yang mulai membersihkan seisi rumah itu kemudian memasak untuk makan siang mereka. Hal yang hampir tidak pernah dilakukan olehnya kecuali saat mendekati hari raya.


Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya semua kembali tertata dengan baik dan makan siang sudah terhidang di meja. Ada semur daging, tahu goreng, tumis sawi, ayam teriyaki dan ikan nila goreng.


"Andrias, Zevanya!! Ayo kita makan dulu." Sorak bu Lastri dari arah ruang tengah, Andrias segera membantu sang istri untuk berjalan menuju ke meja.


"Wah.... Kayaknya enak nih masakan Ibu." Puji Andrias saat melihat hidangan yang begitu banyak.


"Iya donk, kan spesial buat anak-anak ibu." Balas bu Lastri dengan ekor mata melirik ke arah Areta.


"Ayo makan, udah lapar nih!" Seru Zevanya yang langsung mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Andrias mengambilkan nasi untuk Areta, namun saat ingin mengambil lauk segera dicegah oleh bu Lastri.


"Andrias jangan dikasih ayam Aretanya! Itu Ibu bikinin tumis sawi sama tahu goreng biar ASInya lancar." Ucap bu Lastri membuat mata Areta mendelik ke arahnya.


"Makan sesuai yang ibu bilang, kasihan anak kamu kalau kamu makan ayam juga ASInya jadi amis. Nanti dia gumoh." Tambah bu Lastri membalas tatapan tajam dari menantunya.


Areta hanya bisa pasrah pada akhirnya, apalagi sama sekali tak ada pembelaan dari sang suami.


"Kita kuat ya, Nak. Ibu janji akan selalu membahagiakan kamu." Lirih Areta di telinga malaikat kecil yang tengah terlelap itu.


Ceklekk....


Pintu kamar dibuka oleh Andrias yang masuk bersama Zevanya.


"Kunci motor kamu mana, Reta?" Tanya Andrias pada istrinya.


"Ada di laci, kamu mau kemana?" Tanya balik Areta dengan alis bertaut.


"Ini, Zevanya mau keluar bentar." Jawaban Andrias membuat Areta tak berniat menanggapinya lagi.


Setelah babby Bian kembali terlelap, Areta ikut merebahkan dirinya.


"Lhoh, kok kamu rebahan?" Areta terpaku mendengar pertanyaan suaminya.

__ADS_1


"Kalau habis lahiran itu nyandar ke kepala ranjang, kakinya dilurusin. Jangan rebahan! Itu juga kamu nggak pake gurita ibu, biar perutmu ntar melebar kemana-mana." Teriak bu Lastri dari depan pintu yang terbuka lalu pergi setelah Areta mengubah posisi seperti yang diminta oleh mertuanya.


"Areta, aku nggak mau tahu ya. Pokoknya aku nggak mau badan kamu berubah jadi gendut setelah punya anak, aku nggak suka." Kata-kata yang terlontar dari bibir Andrias berhasil membuat Areta menjadi semakin rapuh.


...****************...


Malam telah berkunjung menyelimuti semesta dengan gulitanya, seorang ibu muda baru saja menyandarkan tubuhnya setelah sang bayi terlelap. Nampak sang suami yang telah lebih dulu terlelap di sampingnya.


"Apa kamu akan berubah lagi, Mas. Aku istrimu tapi aku seperti orang asing yang sama sekali nggak mengerti sikapmu apalagi isi hatimu." Monolog Areta kemudian memejamkan matanya.


Di tengah malam babby Bian menangis kencang, Areta terbangun kemudian mengganti popok yang ternyata telah basah hingga malaikat kecil itu tak nyaman. Baru kemudian membawanya ke ranjang untuk memberikan ASI, namun bayi itu tak kunjung diam setelah selesai menyusu hingga Areta menggendong dan menimang-nimang bayi mungil itu agar kembali tertidur.


"Areta, itu babbynya disuruh diem donk. Berisik banget, besok aku harus kerja!"


Deegg!!!


Ucapan Andrias berhasil melukai hati Areta lagi. Ia kira suaminya akan membantu menenangkan bayinya. Tapi ternyata ia salah, justru makian yang ia dapatkan.


Hari ini Areta bangun lebih siang dari biasanya karena menjelang shubuh, babby Bian baru kembali tertidur.


"Tumben kamu kesiangan!" Ketus Andrias yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Maaf Mas, Bian baru tidur menjelang shubuh tadi." Jawab Areta salah tingkah.


"Yaudah, ayo sarapan bareng." Ajak Andrias, Areta mengangguk kemudian mengekor di belakang sang suami.


"Ya ampun Areta, baru punya anak satu aja penampilan kamu udah berantakan begini. Nggak bisa urus diri." Maki bu Lastri saat menantunya baru saja duduk.


"Iya, ih. Mana belum mandi lagi, jorok banget." Tambah Zevanya memandang Areta dengan tatapan jijik.


"Jangan ribut, ayo makan!" Tegas Andrias yang tak ingin moodnya hancur di pagi ini.


Usai sarapan, Andrias langsung berangkat ke kantor begitu saja. Tanpa pamit atau mencium kening Areta seperti biasanya.


"Rasain kamu!! Habis ini kamu bereskan ini semua sama bersihin rumah. Jangan manja!" Bentak bu Lastri, sedang Zevanya hanya memandang Areta dengan tatapan mengejek.


"Tapi habis ini Reta harus mandikan Bian dulu, Bu." Tolak Areta.

__ADS_1


"Assalamualaikum!!" Terdengar suara seorang laki-laki mengucap salam.


__ADS_2