
"Lhoh ini kan baju yang pertama kali aku pakai saat kencan sama Andrias dulu." Areta mengambil sebuah gaun selutut berwarna hitam, kemudian tersenyum mengingat sesuatu.
"Kira-kura masih muat nggak ya kalau aku pakai," ucap Areta pada dirinya sendiri.
Wanita itu mencoba untuk memakai gaun di tangannya, senyumnya mengembang karena ternyata gaun itu masih bisa melekat indah di tubuhnya.
Areta menyimpan kembali gaun itu kemudian merebahkan tubuhnya, beristirahat sebelum menghadapi persidangan esok hari.
...****************...
Seorang wanita tengah menatap bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Kulitnya putih bersih begitu kontras dengan gaun warna hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, polesan make up natural menambah sempurna kecantikannya. Bibirnya mengulas senyum kecut, karena hari ini mungkin ia akan menyandang status baru. Seorang janda anak satu yang menggugat cerai suaminya karena diselingkuhi, membayangkannya saja merasa miris.
Suara pintu yang dibuka dari luar menyadarkan Areta dari lamunannya. Raisya memgerutkan dahi melihat penampilan sahabatnya.
"Areta, ini kan ...."
"Iya, ini gaun yang aku pakai saat pertama kali berkencan dengan Andrias. Aku hanya ingin dia sadar, tidak ada yang berubah dari diriku. Aku tetap cantik saperti dulu, hanya saja dia yang tidak bisa merawat dan membahagiakanku selama menjadi istrinya," jelas Areta menyunggingkan senyum kepahitan.
Raisya mendekat kemudian memeluk tubuh sahabatnya, "Ayo berangkat, Pak Rivan udah menunggu di depan. Bian biar di jaga sama ibuku."
Mereka berangkat setelah berpamitan pada ibu Raisya yang sengaja datang untung membantu menjaga Bian selama Areta menjalani sidang perceraian dengan Andrias.
"Kamu harus semangat Areta, duniamu akan baik-baik saja," Ucap ibu Raisya saat mereka berpamitan.
Areta mengangguk, menggandeng tangan Raisya masuk ke mobil Rivan.
"Areta, kamu sudah siap?" tanya Rivan setelah Areta dan Raisya masuk ke dalam mobil miliknya.
Areta mengangguk samar, "Siap ataupun tidak, sidang ini harus tetap berlangsung."
Hening ... Tidak ada lagi percakapan di antara mereka hingga tiba di pengadilan agama. Saat akan berjalan memasuki ruang sidang, Andrias dan bu Lastri nampak baru saja turun dari sebuah angkot.
"Areta!" panggilan Andrias menghentikan langkah kaki mereka bertiga.
__ADS_1
Dengan langkah lebar, bu Lastri dan Andrias mendekat ke arah mereka.
"Aku mohon Areta, cabut gugatan cerai kamu. Aku masih sangat mencintai kamu," mohon Andrias berusaha menggenggam jemari Areta namun terlebih dahulu ditepis oleh wanita itu.
"Cukup, Mas. Sebaiknya kita segera masuk, sebentar lagi sidang dimulai," ucap Areta yang segera masuk ke ruang sidang bersama Rivan dan Raisya.
Andrias menatap nanar punggung istrinya, ia baru ingat dengan gaun yang dipakai oleh calon mantan istrinya saat ini.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, aku saja yang tidak bisa menjaga dan membahagiakan kamu," lirih Andrias kemudian berjalan masuk ke ruang sudang dengan diiringi penyesalan.
Selama sidang berlangsung, Andrias terus membantah tuduhan yang dilontarkan oleh Areta dan meminta hakim untuk tidak mengabulkan gugatan cerai istrinya. Beruntung Areta memiliki bukti foto-foto Andrias bersama Wulan.
"Dengan ini memutuskan gugatan cerai saudari Areta Yuliana terhadap Saudara Andrias Wiratama telah dikabulkan, hak asuh anak atas nama Febriyan Wiratama sepenuhnya jatuh ke tangan saudari Areta Yuliana." Hakim ketua mengetuk palu sebanyak tiga kali setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Areta mengucap syukur kemudian berdiri dan menghampiri Andrias yang masih terduduk lesu di kursinya.
"Terima kasih, Mas. Aku kembalikan ini padamu." Areta mengulurkan cicin pernikahan yang ia pakai selama ini pada Andrias.
"Aku tidak ingin menyimpan kenangan tentang kita, Mas!" Areta meletakkan cincin itu di telapak tangan Andrias dan berjalan keluar dari ruang sidang bersama Rivan dan Raisya.
"Areta tunggu!" Suara bu Lastri membuat langkah Areta terhenti.
Wanita paruh baya itu mendekat dan memeluk tubuh mantan menantunya, "Maafkan Ibu, Ibu harap kamu dan Andrias bisa saling memaafkan dan bersatu lagi demi cucu Ibu."
"Areta sudah memaafkan Ibu dan Mas Andrias, hanya saja Areta tidak bisa memeruskan lagi rumah tangga ini." Areta mengurai pelukan itu dan langsung masuk ke dalam mobil Rivan.
"Areta, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Rivan setelah mobil mulai melaju.
"Terima kasih atas semua bantuan Pak Rivan, tapi apapun yang saya rasakan sekarang bukanlah urusan Bapak," jawab Areta ketus membuat Rivan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Mereka memilih untuk take away makanan cepat saji sebelum pulang, Rivan langsung pamit setelah menurunkan Areta dan Raisya. Sedangkan Raisya masuk hanya untuk mengajak ibunya pulang dan membiarkan Areta beristirahat.
Areta menikmati makan siang dengan ditemani oleh baby Bian yang mulai bisa diajak bermain meskipun belum bisa bicara dan berjalan.
__ADS_1
"Sayang, bantu Bunda untuk menjadi wanita yang kuat ya. Bunda janji akan selalu membahagiakan kamu," ucap Areta pada Bian yang berada di pangkuannya.
...****************...
Andrias baru saja memasuki rumah kontrakannya bersama bu Lastri.
"Gimana hasil sidangnya, Mas?" tanya Zevanya yang baru saja membukakan pintu untuk mereka.
"Masmu dan Areta sudah resmi bercerai, hak asuh Bian juga sepenuhnya jatuh ke tangan Areta," jawab bu Lastri mewakili putranya.
Andrias mengacak rambutnya sendiri dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Mas Andrias kenapa sih, Bu? Gitu banget habis cerai sama mbak Areta?" tanya Zevanya pada bu lastri.
Wanita paruh baya itu menghembuskan napasnya kasar, "Ya mungkin karena masmu masih cinta sama Areta, apalagi sekarang mereka sudah punya bayi."
"Haduh lebay banget, Mas Andrias itu ganteng. Harusnya dia cari aja cewek yang lebih cantik dari mbak Areta dan pastinya yang kaya biar hidup kita nggak miskin kayak gini," cicit Zevanya membuat bu Lastri kesal.
"Zevanya, kamu daripada ngoceh terus mending cari pacar yang kaya deh biar bisa diporotin duitnya lagi," ketus bu Lastri meninggalkan Zevanya sendirian.
Andrias termenung di dalam kamarnya, merutuki kesalahan dan kebodohannya. Tiba-tiba Zevanya masuk tanpa mengetuk pintu, Andrias berdecak kesal karena tingkah adiknya itu.
"Mau apa kamu Zevanya?" tanya Andrias datar, Zevanya mendekat dan merangsek masuk ke pelukan kakaknya.
"Mas Andrias jangan sedih terus donk, Mbak Areta kan udah nggak bisa bantuin Mas juga. Udah nggak kerja, apa-apa minta sama Mas. Mending Mas andrias cari wanita lain." Andrias mengurai pelukan adiknya, menatap gadis itu penuh selidik.
"Apa maksud kamu ngomong gitu sama Mas?" tanya Andrias pada adiknya.
"Mas Andrias itu kan ganteng, Mas bisa cari wanita lain yang lebih cantik dan tentunya seorang wanita karir biar uang Mas Andrias nggak habis buat penuhin kebutuhan dia. Masalah Bian, mbak Areta kan nggak ngelarang Mas ketemu sama dia." Andrias terdiam sejenak memikirkan kata-kata adiknya.
"Yah, benar juga omongan kamu Zevanya. Apalagi Areta nggak minta jatah buat biayain kehidupan Bian," ucap Andrias pada akhirnya.
"Nah gitu donk, meending cari yang baru!"
__ADS_1