
Areta memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah karena bekas tamparan. Bagaimana tiba-tiba Zevanya berada di tempat yang sama dan menamparnya. Gadis remaja itu berusaha menampar Areta untuk kedua kalinya, berintung kali ini Rivan dengan sigap menangkisnya.
"Apa-apaan ini? Siapa yang kamu bilang wanita murahan?" Rivan memelintir tangan gadis itu ke belakang.
"Aw ... Sakit Mas," keluh Zevanya meringis menahan rasa nyeri di tangannya.
Rivan mendorong tubuh Zevanya dengan cukup kuat hingga gadis itu jatuh ke depan.
"Mbak Areta yang wanita murahan, baru seminggu jadi janda udah jalan sama laki-laki lain," maki Zevanya memegangi tangannya yang masih terasa nyeri akibat ulah Rivan berusan.
Areta menghembuskan napas kasar, pipinyaa masih terlihat merah akibat tamparan Zevanya, "Sepertinya kamu perlu kaca, bukan saya yang murahan tapi kamu."
Kedua tangan Zevanya mengepal mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mantan kakak iparnya.
"Kalau saya murahan, lalu apa sebutan yang pantas untuk gadis SMA yang rela pacaran sama om-om buat menuhin kebutuhan sosialitanya," tambah Areta menatap Zevanya dengan pandangan mencemooh.
"Mbak Reta jangan ngawur ya," kilah Zevanya dengan suara yang semakin meninggi.
"Ngawur gimana? Saya pernah lihat kamu mesra-mesraan sama om-om di restoran jepang," balas Areta dengan ekor mata melirik ke arah Rivan.
"Zevanya, sebaiknya kamu pergi dari sini atau saya akan berbuat lebih kasar sama kamu," acam Rivan pada gadis remaja itu.
Zevanya menghentak-hentakan kakinya kemudian pergi dari tempat itu dengan perasaan kesal.
Areta kembali duduk di bangku panjang itu, pipinya masih terasa panas karena tamparan dari mantan adik iparnya. Tapi hatinya jauh lebih sakit, benarkah ia pantas diswbut swbagai wanita murahan? Hanya karena jalan dengan seorang lelaki setelah dia resmi bercerai, bahkan ia tak ada hubungan apapun dengan lelaki itu. Tanpa terasa bulir bening menetes di pipi mulus Areta.
Rivan mengulurkan sebuah sapu tangan pada wanita itu, "Hapus air matamu, kamu nggak salah. Kamu wanita baik-baik, dia yang murahan.
"Mas Rivan kenapa sih pilih sugar babby macam dia? Nggak bisa pilih yang lain, nyari anak kuliahan gitu biar berkelas dikit?" kesal Areta setelah mengusap air matanya.
"A ...apa kamu bilang? Sugar babby?" Rivan tergagap mendengar pertanyaan Areta.
Wanita itu menghembuskan napas kasar kemudian menatap tajam laki-laki di hadapannya, "Iya, om-om yang aku maksud itu ya Mas Rivan. Aku sama Raisya pernah lihat Mas Rivan mesra-mesraan sama Zevanya di restoran jepang."
"Itu dulu, aku udah lama nggak berhubungan sama dia," ujar Rivan yang tak berniat menyangkal ucapan Areta.
"Kita pulang sekarang, Mas."
__ADS_1
Areta beranjak dari duduknya dan mendorong Stroler Bian menuju ke parkiran. Rivan hanya bisa menurut dan mengekor di belakang Areta, membantu membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Tak ada percakapan lagi hingga mereka tiba di rumah Areta, Rivan kembali membukakan pintu mobil untuk Areta. Lelaki itu mengekori Areta masuk ke dalam rumahnya tanpa diminta.
"Kok Mas Rivan masih di sini?" tanya Areta yang baru saja menidurkan Bian di kamarnya.
"Kamu marah sama saya, kenapa dari tadi diem aja?"
Areta memutar bola matanya malas kemudian menghenyak di sofa, "Ngapain harus marah, saya cuma kesal sama sugar babbymu itu, Mas."
"Kalau gitu kamu aja yang jadi sugar babby saya, gimana?" goda Rivan, lelaki itu mengerlingkan sebelah matanya membuat Areta berdecak kesal.
"Ck, jangan main-main."
"Saya nggak main-main, saya suka sama kamu dari pertama saya nganterin puding buah ke sini sebagai driver ojol," ujar Rivan dengan pandangan serius.
"Kayaknya Mas perlu istirahat deh, Mas Rivan pulang ya! Aku juga mau istirahat." Areta mengusir Rivan secara halus.
Wanita itu segera mengunci pintu rumahnya setelah kepulangan Rivan.
...****************...
Zevanya berjalan menyusuri jalanan menuju rumahnya, sesekali gadis itu menendang kaleng dan botol air mineral yang tergeletak di jalanan. Keringat mengucur deras di dahinya. Tiba-tiba saja seorang pengendara motor berhenti tepat di depannya.
"Lo ngapain panas-panas begini jalan kaki?" Tanya Devan memindai penampilan Zevanya dari atas sampai bawah.
"Nggak punya duit gue," keluh Zevanya.
Devan semakin terkejut mendengar ucapan Zevanya, "Naik, gue traktir Lo makan siang."
Zevanya mengangguk senang dan segera naik ke boncengan sepeda motor milik Devan. Lelaki seumuran Zevanya itu membelokan sepeda motornya ke sebuah caffe dengan nuansa khas Bali.
"Makan dulu, Ze," titah Devan setelah pesanan mereka datang.
Zevanya mengangguk kemudian menikmati makanannya dengan lahap.
"Makasih ya, Dev. Udah traktir gue," ujar Zevanya setelah menghabiskan makanannya.
"Sama-sama, lagian Lo kenapa sih bisa jalan kaki begini?" tanya Devan penasaran.
__ADS_1
Zevanya menghembuskan napasnya kasar, "Kan gue udah bilang tadi kalau gue nggak punya duit."
"Nggak punya duit? Emang tu sugar daddy udah nggak ngasih Lo duit lagi?" tanya Devan dengan suara berbisik karena takut pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain.
"Hubungan gue sama Mas Rivan itu udah berakhir semenjak Mas Andrias sama Mbak Areta cerai, sekarang dia malah lagi deketin mantan kakak ipar gue," cicit Zevanya dengan lancar.
"Gue ada tawaran menarik nih buat Lo." Devan menatap gadis di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tawaran apa? Lo mau kenalin gue sama om-om berduit kaya Mas Rivan?" tanya Zevanya antusias.
"No, gue mau Lo jadi pacar gue. Dan gue bakal jatah Lo lima juta perbulan plus gue antar jemput tiap hari kemanapun Lo mau." Mata Zevanya membola mendengar pernyataan dari Devan.
"Lo sehat kan, Dev? Lo nembak gue?" tanya Zevanya memastikan.
"Ya, tapi dengan satu syarat. Lo juga harus mau lakuin semua yang gue minta." Devan tersenyum smirk menatap gadis di hadapannya.
Zevanya mengangguk sebagai tanda persetujuan, gadis itu pulang dengan diantar oleh kekasih barunya.
Sesampainya di tempat tinggal Zevanya, bu Lastri yang sedang menyapu teras rumahnya tersenyum lebar melihat putrinya diantar oleh Devan.
"Lhoh Nak Devan, lama nggak ketemu ya. Ayo mampir dulu," tawar bu Lastri basa-basi.
"Makasih, Tante. Saya permisi dulu. Ada urusan penting," pamit Devan pada ibu kekasihnya.
"Hati-hati di jalan ya, makasih udah nganter Zevanya pulang." Devan mengangguk kemudian melajukan sepeda motornya.
Zevanya masuk ke dalam rumah bersama bu Lastri yang mengekor di belakangnya.
"Kok kamu bisa pulang sama Devan? Kamu balikan lagi sama dia?" tanya bu Lastri karena jiwa keponya yang meronta-ronta.
"Iya, kata Ibu suruh balikan sama dia biar ada yang dimintai duit. Oh ya, tadi aku ketemu sama Mbak Reta lho. Di taman kota sama mantan bosnya yang waktu itu," cicit Zevanya dengan suara keras agar didengar oleh Andrias.
Lelaki itu segera keluar dari kamar untuk menghampiri adiknya, "Kamu bener ketemu sama Areta?"
"Iya, Mas. Di taman kota, mana mesra banget lagi kayak orang pacaran. Makan aja suap-suapan," dusta Zevanya.
Andrias mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku jarinya tampak memutih.
__ADS_1
Bersambung....