
Mata Areta melotot mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Bu Esti.
"Hah? Anaknya Mas Rivan Bu?" tanya Areta memastikan pendengaranya barusan.
"Iya kata mas Rivan, Mbak Areta ini calon istrinya ya?" Bu Esti tersenyim menatap wajah ayu Areta.
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Bu Esti.
"Ya ampun Ibu, jangan percaya sama ucapan mas Rivan. Dia itu orangnya suka bercanda."
"Jadi Mbak Areta bukan calon istrinya Mas Rivan?" tanya bu Esti pafa majikan barunya.
"Bukan Bu, saya ini temennya mas Rivan sekaligus karyawannya," jelas Areta apa adanya.
"Oalah sayang sekali ya, padahal Mbak Areta sama Mas Rivan itu cocok sekali loh. Yang satu cantik yang satu ganteng, terus Ini Dedek Bian juga lucu sekali. Cocok jadi keluarga."
Areta tergelak mendengar perkataan baby sitter barunya.
"Haduh Ibu bisa aja sih, udah ah istirahat yuk. Besok saya harus kerja dan Ibu juga harus jagain Bian besok," ajak Areta pada bu Esti.
"Baiklah, kalau gitu saya ke kamar dulu ya Mbak," pamit bu Esti.
Areta mengangguk samar dan tersenyum, "Silakan Bu."
Areta pun segera masuk ke dalam kamarnya, wanita itu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Awas aja ya itu Rivan, enak aja bilang Bian calon anaknya. Siapa juga yang mau punya suami songong kayak gitu," monolog Areta pada dirinya sendiri.
...****************...
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis remaja tengah membersihkan tubuhnya udai pergulatan panas bersam pria paruh baya yang menjadi sumber uangnya akhir-akhir ini.
"Vanya, saya sudah transfer jatah bulanan kamu dan saya jug sudah dapat rumah kontrakan yang cocok untuk kamu," ucap Aris sembari memakai celananya kembali.
"Beneran Om?" tanya Zevanya denga wajah berbinar.
"Tentu saja, habis ini kita ke sana dan saya mau nginap di sana aja malam ini."
"Memang istri Om nggak nyariin kalau Om Aris nginep di tempat aku?" tanya Zevanya menatap Aris dengan pandangan menyelidik.
"Kamu tenang aja, saya sudah bilang sama istri saya kalau hari ini ada meeting di luar kota dan baru pulang besok pagi," jawab Aris mengerlingkan matanya nakal.
__ADS_1
"Oke deh kalau gitu bentar ya aku dandan dulu terus kita ke sana."
Ariss menggangguk mengiyakan ucapan gadis simpanannya itu. Selesai berdandan, Zevanya dan Aris segera turun ke parkiran kemudian menuju ke rumah kontrakan yang telah disiapkan Aris untuk Zevanya. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil mewah warna biru metalik terus mengikuti mereka sampai tiba di depan rumah kontrakan.
Keduanya segera masuk ke dalam rumah itu, karena terlalu bahagia Zevanya sampai lupa untuk mengunci pintu.
"Wah bagus banget Om," ucap Zevanya menelisik setiap sudut rumah yang nampak mewah.
"Ya, saya sengaja carikan kamu rumah kontrakan tapi rasa rumah pribadi. Dengan fasilitas yang lengkap juga, dan kalau kamu bisa nyenengin saya. Saya bakalan beliin kamu rumah sama mobil," balas Aris mencolek ujung hidung gadis remaja itu.
"Om baik banget, makasih ya Om."
Zevanya memeluk tubuh kekar Aris, laki-laki itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera digiringnya tubuh Zevanya dan direbahkannya di sofa yang berada di ruangan itu. Satu- persatu pakaian mereka mulai tercecer di lantai, hingga tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara pintu yang dibuka dengan keras.
"Oh jadi ini yang kamu bilang meeting di luar kota ya? Meeting sama wanita murahan ini, hah?" bentak seorang wanita paruh baya berpenampilan sosialita yang tiba-tiba muncul entah darimana.
Zevanya buru-buru mengenakan pakaiannya kembali, "Tante siapa? Seenaknya aja masuk ke rumah orang!"
"Lhoh Mah, Kok kamu bisa ada di Sini?" kaget Aris karena melihat istrinya yang tengah berdiri dengan wajah penuh amarah.
"Mah? Ini istri Om?" tanya Zevanya pada Aris yang sibuk mengenakan pakaiannya.
"Ya, saya istrinya Aris. Kamu ya kecil-kecil udah jadi pelakor! Kamu juga, udah tua masih aja doyan sama daun muda." Wanita itu menunjuk-nunjuk Aris dan Zevanya secara bergantian.
Wanita itu tertawa mengejek mendengar ocehan Zevanya, "Apa kamu bilang? Bawa suami saya pergi dari sini? Memangnya kamu pikir saya nggak tahu kalau ini rumah kontrakan yang baru tadi siang disewa sama suami saya?"
Zevanya mendelik mendengar ucapan istri Aris.
"Jadi sekarang kamu yang harus keluar dari sini!"
"Nggak, saya nggak mau keluar dari sini!" ucap Zevanya masih belum mau mengalah.
"Berani ya kamu ngelawan saya, dasar wanita murahan!"
Wanita paruh baya itu segera menarik tangan Zevanya dengan kasar menuju ke arah pintu. Aris hanya diam mematung tanpa sedikitpun berniat untuk membela Zevanya.
Beberapa warga yang mendengar keributan dari rumah itu segera mendekat ke sana.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya pak RT yang kebetulan tinggal tepat di sebelah rumah itu.
"Ini Pak, kecil-kecil sudah jadi pelakor. Wanita ini berani-beraninya godain suami saya dan sekarang malah nggak mau pergi dari rumah ini," teriak wanita itu membuat semua pandangan warga tertuju pada Zevanya.
__ADS_1
Mereka saling berbisik membicarakan keburukan Zevanya.
"Usir aja Pak, usir!" teriak beberapa warga.
Zevanya segera bangkit dari posisinya dan meninggalkan rumah itu diiringi teriakan dari para warga.
Gadis itu berjalan hingga merasakan sakit di kakinya yang lecet, Zevanya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di ranjang kecil miliknya.
...****************...
Areta Tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Biar saya aja yang Bukain pintunya Mbak," ucap Bu Esti yang segera melangkah menuju ke arah pintu.
Beberapa menit kemudian Bu Esti kembali bersama Rivan yang mengekor di belakangnya.
"Ngapain kamu pagi-pagi datang ke sini, Mas?" tanya Areta dengan kedua alis yang bertaut.
Rivan hanya tersenyum tipis menatap wanita itu, "Saya mau numpang sarapan di sini boleh nggak?"
Areta memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Revan, "Kalaupun saya bilang nggak boleh pasti kamu juga akan tetap numpang makan di sini kan?"
"Ya udah ayo buruan sarapan," ucap Rivan yang segera duduk di kursi seberang Areta kemudian mulai menyantap roti yang sudah dilapisi selai coklat oleh wanita itu.
"Dasar tamu nggak sopan, udah minta makan malah main comot makanan orang," kesal Areta kembali mengoleskan selai coklat ke roti.
Usai sarapan mereka berangkat ke kantor bersama, Rivan memaksa wanita itu untuk satu mobil dengannya.
"Pak, nanti saya turun di luar gerbang kantor aja ya ," celetuk Areta saat mobil Rivan telah mendekati area gedung perkantoran miliknya.
"Emang kenapa kamu mau turun di luar gerbang?"
"Ya soalnya saya nggak enak sama karyawan lain kalau ketahuab satu mobil sama Bapak, ntar dikira saya jadi karyawan Bapak karena sesuatu lagi."
"Udah nggak papa turun di depan lobby aja, semua orang juga tahu kalau kamu itu calon istri saya!"
"Apa?" lagi-lagi Rivan berhasil membuat mata Areta melotot seakan mau keluar dari tempatnya.
"Iya, karena saya mau kamu jadi istri saya."
"Tapi saya nggak mau jadi istri Bapak," tegas Areta menatap bola mata wanita itu.
__ADS_1
"Saya akan buat kamu mau jadi istri saya."
Areta terdiam bersamaan dengan mobil yang telah berhenti di depan lobby kantor, wanita itu segera keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan keras.