
Areta melangkahkan kaki menuju ke ruangannya, sementara Rivan yang baru saja memarkirkan mobilnya buru-buru menyusul wanita itu.
Saat masuk ke ruangannya, nampak Areta yang tengah membereskan barang-barangnya.
"Kenapa kamu beresin semuanya, Areta?" tanya Rivan dengan kedua alis yang bertaut.
"Saya minta meja kerja saya pindah ke luar seperti sekretaris Bapak yang lama."
"Memangnya kenapa sih Areta, toh saya juga nggak macam-macam sama kamu. Saya cuma mau lebih dekat dengan kamu," ujar Rivan yang terus menatap wanita itu dengan intens.
"Maaf, Pak Rivan. Saya tidak bisa menjalin hubungan dengan Anda lebih dari sekedar teman dan atasan," tegas Areta menatap ke arah manik mata lelaki yang berstatus sebagai bosnya itu.
Rivan membuang napas kasar mendengar kata yang terucap dari bibir Areta, "Tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan? Aku akan buktikan kalau aku bisa jadi lelaki terbaik versi kamu dan Bian."
"Maaf Pak Rivan, untuk saat ini saya tidak bisa karena setelah perpisahan saya dan Andrias. Saya memutuskan hanya fokus untuk membahagiakan Bian, jadi tolong Pak Rivan mengerti saya. Kalau memang Bapak tidak bisa menepikan semua perasaan Bapak kepada saya, lebih baik saya resign dari kantor ini dan mencari pekerjaan yang lain."
Rivan mengusap wajahnya kasar mendengar keputusan tegas dari wanita di hadapannya itu, "Baiklah Areta, saya akan suruh OB untuk pindahkan meja kerja kamu keluar dan saya akan berusaha untuk menepikan semua perasaan yang ada di hati saya. Tapi saya mohon kamu tetap mau menjadi teman saya dan saya harap kamu menolak saya bukan karena kamu akan kembali pada mantan suamimu yang brengsek itu."
"Saya sudah pernah bilang sama Bapak kan, saya bukan wanita bodoh. Bapak saja Saya tolak apalagi Andrias yang sudah jelas-jelas pernah menyakiti saya. Tidak akan pernah saya kembali pada lelaki seperti dia."
Rivan tak lagi menanggapi perkataan Areta, laki-laki itu memencet nomor Office Boy dan memintanya untuk datang ke ruangannya. Beberapa menit kemudian seorang office boy mengetuk pintu ruangan kerja Rivan.
"Masuk," Perintah Rivan dengan suara tegasnya.
"Selamat pagi Pak Rivan, Bu Areta. Ada yang bisa saya bantu?" tanya office boy tersebut dengan sopan.
"Saya minta tolong kamu pindahkan meja kerja Bu Areta ke depan pintu ruangan saya, sama seperti dengan meja kerja sekretaris yang lama."
Office boy itu mengangguk kemudian melaksanakan perintah dari Rivan, setelah meja kerja itu berpindah tempat Areta segera keluar dari ruangan dan duduk di meja kerjanya sendiri. Sementara Rivan tengah melamun sendiri di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Ternyata memang benar-benar sulit untuk mendapatkan hati kamu Areta," gumam Rivan sembari tersenyum kecut.
Sementara itu Andrias yang baru saja selesai meeting di kantornya menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Nomor siapa ini?" gumam Andreas kemudian menggeser icon tombol hijau di layar telepon pintarnya.
"Halo ...."
"Halo Apa benar ini dengan Bapak Andrias?"
"Iya betul, ini siapa ya?"
"Saya dari pihak kepolisian, kami ingin mengabarkan bahwa adik anda ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di kamar kostnya dan sekarang kondisinya kritis di rumah sakit."
"A ... Apa? Di rumah sakit mana, Pak? Saya akan segera ke sana?" panik Andrias.
"Rumah Sakit Harapan Bunda"
Pria itu mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi untuk pulang ke rumah kontrakannya.
"Bu, Ibu," teriak Andrias yang baru saja memarkirkan sepeda motornya di depan rumah.
Bu Lastri berlari tergopoh menuju ke arah sumber suara yang memanggilnya," Ada apa Andrias, kenapa kamu sudah pulang jam segini?"
"Ibu siap-siap ya, kita ke rumah sakit sekarang. Andrias tadi dapat telepon dari polisi Bu, mereka bilang Zevanya ditemukan pingsan di kamar kostnya dan sekarang lagi kritis di rumah sakit." Ucapan Andrias berhasil membuat mulut bu Lastri menganga.
Air mata menetes dari sudut mata wanita paruh baya itu, dengan langkah gontai bu Lastri masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas dan helmnya.
Andrias kembali melajukan sepeda motor miliknya menuju ke rumah sakit dimana Zevanya dirawat saat ini. Sepanjang perjalanan, air mata bu Lastri terus menetes karena merasa bersalah telah mengusir putri tercintanya hingga tanpa terasa Andrias telah menghentikan laju sepeda motornya di parkiran rumah sakit. Dengan langkah lebar keduanya menuju ruang UGD, di depan pintu ruangan itu ada beberapa polisi yang tengah berjaga di depan pintu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada adik saya, Pak?" tanya Andrias setelah tiba di depan pintu ruangan itu.
"Jadi adik Bapak ditemukan oleh tetangga kostnya sudah pingsan dengan kondisi mengalami pendarahan hebat, dan di kamarnya kami menemukan beberapa butir obat penggugur kandungan."
"Maksud Bapak?"
"Sepertinya adik Bapak sedang hamil dan mengalami pendarahan karena sengaja ingin menggugurkan kandungannya dengan mengkonsumsi obat berbahaya itu," jelas polisi panjang lebar.
"Nggak, Pak. Itu nggak mungkin, nggak mungkin adik saya hamil dan melakukan hal itu."
Andrias berusaha untuk tak mempercayai ucapan polisi tersebut, sedang bu Lastri telah terduduk lemas di ruang tunggu dengan air mata yang tak henti mengalir.
"Maafkan Ibu, ini semua salah Ibu. Kalau Ibu nggak usir Zevanya pasti kejadian ini nggak akan terjadi. Ini kesalahan Ibu, ini kebodohan Ibu," racau bu Lastri dengan tangisan yang semakin menjadi.
Andrias mendekat dan merengkuh tubuh bu Lastri ke dalam pelukannya, "Nggak, Bu. Ini bukan salah Ibu, Zevanya itu anak yang kuat. Andrias yakin Zevanya akan baik-baik saja."
"Pak Andrias, kami permisi dulu karena masih ada urusan lain," pamit seorang polisi pada Andrias.
Andrias mengangguk, "Silakan, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya."
Kini hanya tinggal Andrias bersama bu Lastri yang terus menangis meratapi nasib putrinya. Andrias tak berhenti mondar-mandir karena gelisah menunggu pintu ruangan UGD yang tak kunjung terbuka.
"Kenapa lama sekali, ya Allah lindungi dan selamatkan nyawa adik hamba," lirih Andrias menatap pintu yang masih tertutup rapat.
"Andrias, kenapa mereka belum keluar juga? Ibu rindu Zevanya, Ibu mau peluk dia," oceh bu Lastri di sela-sela tangisnya.
"Sabar ya, Bu. Kita berdo'a supaya Vanya baik-baik saja," ucap Andrias kembali menenangkan sang ibu.
Bu lastri hanya mengangguk menanggapi ucapan putranya itu. Setelah hampir dua jam menunggu akhirnya pintu ruangan UGD terbuka, seorang perempuan dengan jas warna putih muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan adik saya, Dokter. Dia baik-baik saja kan, dok? Dia akan sembuh kan?" cecar Andrias pada dokter yang baru saja menangani adiknya.