
Areta dan Raisya saling melempar pandangan satu sama lain. Bu Lastri melangkah mendekati kedua wanita yang masih asik duduk di atas ranjang itu.
"Raisya, kamu beli rujak kasih berapa cabe sih? Pedes banget ini Tante sampe minum air dua gelas juga masih pedes." Celetuk bu Lastri dengan mulut mendesis-desis seperti ular.
Areta dan Raisya kembali melempar pandangan satu sama lain kemudian menghembuskan napas lega.
"Eh ini Tante, tadi Raisya minta cabenya tiga. Tapi kayaknya dikasih lima, Raisya sama Reta juga kepedesan soalnya." Balas Raisya yang ikut-ikutan mendesis seperti bu Lastri.
"Itu apa, Areta?" Tanya bu Lastri dengan pandangan tertuju pada sebuah kotak yang berada di tangan Areta.
"Ini kado dari Raisya buat Bian, Bu." Jawab Areta kembali memasukkan kotak itu ke dalam sebuah paper bag.
"Yaudah, Raisya lain kali kalau bawain makanan buat Tante jangan pedes-pedes ya. Bisa mules nanti, perut orang tua kamu kasih cabe banyak-banyak." Ujar bu Lastri kemudian keluar dari kamar Areta.
"Huuffp..... Hampir aja copot ini jantungku, Areta. Kirain nenek lampir itu denger pembicaraan kita, bisa gawat nanti." Celetuk Raisya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Sama, mana aku bodoh banget sampai ibu lihat kotak ini. Untung nggak dikepoin sama dia." Balas Areta menunjuk ke arah paper bag di tangannya.
"Haduh, udah sana masukin tu kotak ke dalam brankas. Jangan lupa ganti kodenya biar nggak bisa diutak-atik sama Andrias." Titah Raisya pada sahabatnya yang langsung menurut.
"Ta, aku pulang ya. Anakku di rumah sendirian soalnya, mamaku lagi ke tempat saudaranya di Solo." Pamit Raisya, Areta mengangguk kemudian mengantar sahabatnya sampai ke depan pintu.
"Areta!" Panggil bu Lastri dari dalam kamar saat menantunya masuk kembali ke dalam rumah.
Areta melangkahkan kakinya ke arah kamar bu Lastri dan berhenti di depan pintu.
"Ada apa, Bu?" Tanyanya kemudian.
"Ibu lagi nggak mau masak, kamu delivery makanan aja dari gofood ya." Titah bu Lastri pada sang menantu yang berdiri di depan pintu.
"Tapi kan uang belanja ada di Ibu semua." Balas Areta yang tak mau lagi merugi.
"Ya ampun, pelit banget sih kamu sekerang. Nih lima puluh ribu, nggak usah delivery. Beliin rawon di warung depan aja sana, nanti tinggal panasin buat makan malam." Perintah bu Lastri memberikan selembar uang warna biru pada menantunya.
"Tapi ibu jagain Bian dulu ya, jangan sampai nangis." Ujar Areta memberikan sebuah syarat pada mertuanya.
"Iya Areta, ternyata selain pelit sekarang kamu juga jadi cerewet banget ya." Kesal bu Lastri berjalan menuju kamar dimana sang cucu sedang terlelap. Areta terkekeh kemudian melaksanakan perintah mertuanya tadi.
Ketika Areta telah kembali ke rumahnya terdengar suara tangisan Bian yang membuatnya terburu-buru untuk masuk ke rumah, namun saat mendekati kamarnya sudah tak terdengar lagi suara tangis banby Bian yang malah membuat Areta penasaran. Perlahan wanita itu mengintip ke dalam kamarnya, Nampak bu Lastri sedang menggendong dan menimang-nimang Bian dengan menyanyikan lagu nina bobo. Sejenak Areta terdiam di depan pintu, tak ingin momen itu cepat berlalu. Hingga akhirnya Bian kembali terlelap dan bu Lastri dengan perlahan meletakkan kembali bayi mungil itu ke dalam box bayinya. Tak lupa untuk mengecup kening cucunya terlebih dahulu dengan rasa sayang.
Areta tersenyum menatap interaksi antara keduanya. 'Ternyata punya sisi lembut penyayang juga dia.' Batin Areta di dalam hatinya.
"Heh Areta, ngapain kamu malah ngelamun disitu. Itu adi anak kamu kebangun terus nangis, kamu di suruh beli rawon aja lama banget. Pasti ngerumpi dulu kan di sana." Suara bu Lastri segera menyadarkan Areta dari lamunannya.
"Maaf, Bu. Tadi warungnya rame jadi ngantri dulu. Ini rawonnya, Areta ada tambahin beli telur asin sama kerupuk." Balas Areta menyerahkan sebuah kantong kresek yang segera dibawa oleh mertuanya ke dapur.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu di kantor, Andrias tak bisa tenang karena memikirkan saldo di dalam rekeningnnya yang begitu banyak berkurang.
"Sia-sia donk sembunyiin jabatan sama gaji dari Areta selama ini kalau duit gue ujung-ujungnya habis juga. Mana Areta sekarang udah nggak kerja lagi, apa-apa bisanya cuma minta. Penampilan juga jadi dekil dan nggak keurus." Monolog Andrias yang sedari tadi tak bisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Burulang kali lelaki itu menyugar rambutnya dengan kasar.
Took Took Took!
Suara ketukan di pintu membuat Andrias berdecak kesal karena konsentrasinya semakin terganggu.
"Masuk!" Ujar Andrias datar pada seseorang yang berada si balik pintu.
Ceklekk!
"Permisi, Pak. Saya mau menyerahkan laporan pengeluaran bulan ini." Suara itu membuat Andrias mendongak dan tersenyum seketika.
"Wulan, silahkan duduk! Aku kira siapa." Suara Andrias berubah ramah setelah tahu siapa orang yang telah memasuki ruangannya. Andrias bahkan menarik sebuah kursi agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman.
"Maaf, Pak kalau saya ganggu. Saya cuma mau menyerahkan ini." Ucap Wulan setelah menghenyak di kursi seberang meja andrias.
"Nggakpapa kok, nanti biar aku periksa laporannya. Oh ya, rumah au dimana, Wulan?" Tanya Andrias pada gadis manis di hadapannya.
"Saya ngontrak di belakang gedung perkantoran ini, Pak." Jawab Wulan tanpa berani menatap wajah Andrias.
"Nanti sore saya antar kamu pulang, ya?" Tawaran Andrias membuat mata Wulan melebar seketika.
"Jangan, Pak. Takutnya nanti istri Bapak bisa marah kalau sampai tahu." Tolak Wulan dengan halus.
"Masa sih, lelaki tampan dan sukses seperti Bapak belum punya pasangan?" Selidik Wulan yang tak sepenuhnya percaya pada kata-kata lelaki yang baru ia kenal tadi pagi.
"Sumpah pun aku berani, aku memang kurang beruntung soal asmara. Jadi kamu mau kan saya anterin pulang?" Andrias mengulangi tawarannya untuk gadis itu.
"Baiklah, kalau saya tidak merepotkan Bapak." Ujar Wulan yang akhirnya menerima tawaran itu.
"Nah, gitu donk. Satu lagi, kalau cuma berdua aja jangan panggil bapak. Panggil mas aja, saya ini belum tua. Nanti sore kamu tunggu saya di lobby ya." Titah Andrias pada Gadis itu. Wulan mengangguk kemudian pamit untuk kembali ke ruangannya.
Akhirnya saat yang ditunggu oleh andrias telah tiba, dengan buru-buru lelaki menuju ke parkiran dimana Samsul telah menunggu di sana.
"Sam, elu pulangnya naik ojek aja. Gue mau nganterin Wulan pulang. Nih gue kasih ongkos buat elu." Ujar Andrias meletakkan selembar uang lima puluh ribuan di telapak tangan sahabatnya itu.
"Gila! Udah lupa sama Areta di rumah? Sampai nyuruh gue naik ojek buat anterin tu cewek." Cemooh Samsul kemudian tersenyum miring.
"Awas ya, jangan sampai si Wulan tahu kalau gue udah punya anak bini. Dan jangan sampai Areta tahu kalau gue juga lagi deketin Wulan." Tegas Andrias di depan wajah Samsul kemudian melajukan sepeda motornya ke lobby.
Ternyata Wulan telah menunggu Andrias sldi depan pintu lobby kantornya.
"Wulan, ayo naik. Tapi maaf ya, helemnya cuma satu." Ujar Andrias, gadis itu tersenyum dan segera naik ke boncengan motor Andrias.
Alis Wulan bertaut kala Andrias tak kunjung melajukan sepeda motornya.
__ADS_1
"Kok nggak jalan, Mas?" Tanya Wulan menepuk pundak Andrias.
"Kamu belum pegangan, kalau jatuh gimana?" Balas Andrias sedikit menoleh, Wulan mengangguk kemudian berpegangan pada pundak Andrias.
Andrias tersenyum melihat tangan gadis itu menempel di pundaknya kemudian mengarahkan tangan Wulan untuk berpegangan di pinggangnya.
"Pegangannya di sini biar nyaman." Tambah Andrias kemudian melajukan sepeda motornya mengikuti arah jalanan yang ditunjukan oleh Wulan.
"Stop, Mas!" Andrias menginjak remnya mendadak saat Wulan memintanya berhenti secara tiba-tiba hingga tanpa sengaja bibir gadis itu menempel di pundak Andrias dan meninggalkan jejak lipstik di sana.
"Wulan, kamu nggakpapa? Kenapa minta berhenti tiba-tiba?" Panik Andrias melihat wajah Wulan dari kaca spion. Gadis itu turun dari boncengan sepeda motor kemudian tersenyum manis.
"Maaf, Mas. Udah nyampe, ini kontrakan aku. Makasih ya udah dianterin, aku masuk dulu." Pamit Wulan setelah mengucapkan terima kasih.
"Tunggu, Wulan!" Cegah Andrias menghentikan langkah Wulan yang hendak masuk ke dalam rumah kontrakannya.
"Ada apa, Mas?"Tanya gadis itu dengan kedua alis bertaut.
"Kamu nggak mau nawarin aku masuk dulu nih?" Balas Andrias dengan sebelah alis yang dinaik-turunkan.
"Maaf, Mas. Tapi di sini aku cuma tinggal sendiri, nggak enak sama tetangga kalau ngajakin Mas masuk." Tolak Wulan dengan wajah merasa bersalah.
"Nggakpapa, kalau gitu aku pulang dulu ya." Pamit Andrias pada akhirnya. Wulan mengangguk, kemudian kembali meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
Andrias melajukan sepeda motornya dengan hati yang berbunga-bunga. Entah mengapa ia merasakan perasaan yang sama seperti saat pertama dekat dengan Areta dulu. Senyum di bibirnya terus tersungging hingga lelaki itu tiba di rumahnya.
Took Tokk Took!
Suara pintu yang diketuk oleh Andrias.
Ceklek!
Areta muncul dari balik pintu yang terbuka, dahi wanita itu mengernyit melihat sang suami yang tersenyum lebar menambah aura ketampanan di wajah lelaki yang telah mendampingi hidupnya selama beberapa tahun ini.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu, Mas? Kesambet?" Ketus Areta Menyingkir ke pinggir pintu agar Andrias bisa masuk ke dalam rumah.
"Lagi seneng aja, soalnya istriku yang bukain pintu." Bohong Andrias mencolek dagu istrinya kemudian hendak berlalu ke kamar.
"Tunggu, Mas!" Suara nyaring Areta membuat Andrias menghentikan langkah dan menoleh ke arah istrinya.
Mata Areta memincing penuh selidik, wanita itu mendekati suaminya dengan dada yang naik turun menahan emosi.
__ADS_1